Cinta terlarang yang berawal dari KKN berakhir tragis di ruang sidang. Diputus secara sepihak, seorang mahasiswa nekat membacok mahasiswi UIN Suska Riau dengan kampak yang telah dipersiapkan. Fakta baru terungkap: pelaku ternyata selingkuhan korban, bukan sekadar cinta bertepuk sebelah tangan.


Pagi merekah tanpa bimbang,
menghamparkan cahaya di lantai yang dingin
seolah dunia hanya perkara tentang jadwal
dan lembar jawaban menunggu nilai
Lorong-lorong menelan langkah
Tak ada yang membaca udara,
Tak ada yang curiga pada sunyi
yang menggantung setengah jengkal di atas kepala
Namun saling mengenali…
seperti api dan angin, yang pura-pura tak pernah bertemu.
Ada pertemuan yang lahir bukan dari takdir,
melainkan dari celah, dari jeda antara setia dan ingin,
Antara cukup dan penasaran.
Di tanah pengabdian,
Tanpa benar-benar berani mengakui
Tangan yang seharusnya hanya berjabat
terlalu lama menggenggam.
Tawa yang seharusnya sekadar lewat, memilih tinggal.
Tak ada perjanjian tertulis
Tak ada ikrar yang diumumkan
Hanya tatapan yang tumbuh, dan batas yang perlahan dilunakkan
Ia membuka jendela, padahal rumahnya sudah berlampu Ketika pintu dibuka dan senyum dipersilakan,
Siapa yang masih ingat bahwa dirinya sekadar tamu?
Atau pun Siapa yang lebih dulu melangkah?
Apakah langkah pertama selalu lebih berdosa
daripada ayunan terakhir?
Di ruang yang semestinya menguji pikiran,
emosi lebih dulu menjawab.
Besi mengudara, namun yang sebenarnya tajam
adalah rasa memiliki, yang tak pernah disepakati bersama.
Darah memang terlihat
Ia merah, ia nyata, ia mudah mengundang iba.
Namun ada luka lain
yang tak menetes, hanya mengendap
antara luka yang dibuat, dengan luka yang dibalas
Dan luka karena memilih bermain api, lalu terkejut ketika hangus.
Orang-orang gemar menyusun simpulan
Laki-laki sering dituding sebagai badai
Perempuan kerap dipanggil korban harga diri
Padahal badai tak lahir sendirian,
dan harga diri tak pernah meminta darah.
Mungkin yang paling sunyi di pagi itu
Bukan lorong yang kosong, melainkan kesadaran
Bahwa kedewasaan, tak selalu tumbuh seiring usia.
Ada yang belajar terlalu lambat, bahwa keinginan bukan alasan
Ada yang terlambat paham, bahwa kecewa bukan kuasa.
Dan ruang itu tetap berdiri, menyimpan gema yang tak selesai
Tentang pintu yang dibuka setengah
Tentang tamu yang mengira dirinya tuan
Tentang cinta yang tak pernah resmi
Namun menuntut sepenuh hati.
Kita ingin menunjuk satu arah,
agar hati terasa lega.
Namun kisah ini seperti kabut
ia menyelimuti keduanya,
membiarkan kita berdiri di tengah,
bingung,
antara menyalahkan, atau sekadar belajar.
Barangkali tragedi lahir
bukan dari satu hati yang gelap,
melainkan dari dua jiwa
yang sama-sama tak siap menghadapi akhir.
Tentang Penulis:

Nama saya Maulindawati (18 tahun),
Saya memiliki ketekunan dalam menulis dan terus berusaha menuangkan gagasan secara konsisten.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



