Isu pengadaan motor listrik untuk MBG menjadi sorotan publik setelah muncul klaim jumlah mencapai 70.000 unit. Kepala BGN kemudian menegaskan bahwa angka tersebut tidak benar. Realisasi sebenarnya sekitar 21.801unit dari total rencana 25.000unit pada 2025 untuk mendukung operasional program. Netizen +62 banyak yang menanyakan berkaitan dengan urgensi pengadaan motor listrik tersebut. Ditambah lagi pengadaan motor Listrik (jenis trail) bukankah sudah ada mobil MBG. Dimana letak urgensinya? Kebijakan ini menuai perdebatan karena dinilai kontras dengan kondisi kesejahteraan tenaga kesehatan dan guru, terutama di daerah pelosok, yang masih menghadapi keterbatasan fasilitas dan dukungan.

Tautan:

disudut bingkai kacamata
terlihat negeri yang katanya
akan memeluk semua anaknya
menggunakan tangan keadilan—
nyatanya aku hanya melihat pelukan
menghangat di satu sisi saja
bisa dikatakan “anak emas” penguasa
sementara dipojok sana
mulai tersingkirkan,
terasingkan,
retak,
dan nyaris tak bernama.
MBG,
ohhh MBG
namamu menggema dilorong gala premier
terdengar nyaring sehingga bumantara pun tunduk
engkau dielu-elukan
laksana pahlawan super
yang dijanjikan tak akan pernah tenggelam
sampai kapanpun itu
ujar penguasa diatas sana
25.000 motor listrik melintas dengan angkuh
tanpa suara—
Apa takut jika rakyat terbangun?
sehalus bisikan angin senja
seperti burung besi
yang mengantar harapan
namun,
harapan siapa yang diantar?
#bertanyadengannadasopan.
diseberang sana
ku menatap penuh duka
lorong rumah sakit yang ramai
seorang nakes berusaha tegar berdiri
menopang malam yang tak berujung
matanya terpantau cekung bagaikan sumur tua
yang mulai mengering ditelan janji manis sang penguasa
ia berlari kesana-kemari
hampir saja ia seolah sedang melakukan marathon
berlari lebih cepat dari detak jarum jam
lebih lelah dari bumi yang terus berputar
namun kesejahteraan yang didapatkan—
kecil,
bagaikan serpihan atom,
yang tercecer di sudut kebijakan.
ku bersimpuh diatas tanah ibu pertiwi
tak sanggup melihat pemandangan ini
Sejak kapan negeri ini berubah begitu menyayat hati?
kulihat ruang kelas tanpa berselimut cat
seorang guru renta masih bersemangat menulis masa depan
menggenggam kapur yang hampir habis
berharap dapat mengukir senyum diwajah generasi bangsa
beliau mengajar
bagaikan lilin yang rela tubuhnya habis terbakar
demi memberikan cahaya bagi orang lain
tapi upahnya
seperti bayangan senja
ada…
namun nyaris tak dianggap
MBG adalah”anak emas” di negeri ini
diberi anggaran yang tak masuk akal
roda tanpa lelah mencaplok rintangan yang menghadang jalanmu
motor listrikmu melaju
sungguh sangat “KEREN”
seperti kilat yang tak ingin padam
pasti ada saja gebrakan yang tak disangka
sementara nakes
garda terdepan kita
berjalan kaki di lorong tak berujung
bagaikan bayang-bayang hantu
yang tak pernah sampai tujuan
dan lihatlah guru—
garda terdepan kita
masih mengayuh hidupnya sendiri
tanpa baterai
tanpa sorotan
tanpa tepuk tangan
tanpa ada yang peduli
ironi ini menjerit-jerit
mengalahkan kerasnya gemuruh badai halilintar
lebih pedih dari ribuan sayatan yang tak tampak
sejak kapan negeri ini menjelma menjadi panggung sandiwara
di mana sebagian disorot lampu terang benderang
sementara yang lain
dibiarkan tenggelam
dalam gelap yang pekat
tanpa temaram cahaya sama sekali
MBG merupakan “anak emas” ujar para penguasa negeri
dipeluk dengan erat
dihiasi jutaan pujian
diberi sayap listrik yang tak tahu apa gunanya
sedangkan mereka
nakes dan guru
garda terdepan kita
hanya berdiri di pinggir cerita
hanya berperan sebagai figuran yang tak akan diingat dan kemudian dilupakan perlahan
dalam naskah besar bernama negara
timpang,
miring,
sehingga keadilan pun terlihat seperti ilusi
bagaikan pelangi tanpa warna “mejikuhibiniu”
bagaikan hujan tanpa ditemani turunnya butir air
bagaikan janji manis yang hanya hidup di bibir pidato pencalonan
aku berbisik menyampaikan pertanyaan pada angin malam:
Mengapa kasih sayang tidak dibagi dengan rata?
dari sini aku menyimpulkan:
sebenarnya negeri ini mampu mensejahterakan garda terdepan kita “guru dan nakes”
hanya saja mereka tidak mau
mereka memilih opsi lain yang ….
#lebihbaik
???
dan di ujung jalan berlubang
motor listrik itu melaju dengan gagah
badan motor mengilap seolah-olah ingin memamerkan pada rakyat
seperti simbol kemajuan
nyatanya?
sementara jauh di belakangnya
sayup-sayup terlihat jejak-jejak sunyi
dari telapak kaki yang lelah
dari hati yang rapuh
dari pengabdian puluhan tahun yang tak pernah cukup dihargai
MBG,
istimewa…
dan yang lain
hanya sekadar ada.
Tentang penulis:

Ermira Nilansari Putri adalah perempuan yang betah berlama-lama di antara buku. Kadang menulis puisi, kadang hanya menikmati cerita orang lain. Sastra jadi tempat pulang ketika dunia terasa ramai.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



