Puisi Esai Gen Z: Jejak Cuak dan Matinya Pawang Uteun Karya Yesrun Eka Setyobudi

Banjir bandang yang menghantam Aceh dan Sumatra baru-baru ini bukan sekadar bencana alam, melainkan tragedi ekologis. Ribuan kubik kayu gelondongan sisa penebangan liar menghantam permukiman, menjadi bukti nyata matinya kearifan lokal “Pawang Uteun” yang kalah oleh kolusi manusia.

Link Berita: https://mongabay.co.id/2026/01/03/foto-lautan-kayu-sisa-banjir-aceh/

Di tiang kedai kopi yang kini miring dihantam arus,
Agam duduk memeluk lutut yang gemetar.
Lumpur pekat setinggi betis membungkus kakinya,
dingin dan berbau anyir bangkai ternak.
Tangannya merogoh saku celana yang basah kuyup,
menemukan sisa uang lecek,
upah terakhir yang ia terima minggu lalu dari tangan seorang tauke.
Uang itu bukan hasil peluh mencangkul di blang,
melainkan “uang darah” karena ia telah menjadi seekor Cuak.

Ingatannya berputar ke tujuh hari silam,
saat telunjuknya memberi arah
pada iring-iringan truk dan alat berat
yang menderu masuk ke kampung.
“Di sana, Tuan.
Di balik Glee itu,
Meranti dan Damar masih perawan.
Belum ada Polisi Hutan yang lewat,”
bisiknya kala itu.
Agam merasa gagah bisa membawa “orang kota”
masuk ke hutan larangan.
Ia tak sadar,
telunjuknya bukan sekadar menunjuk pohon,
tapi sedang menggali liang lahat massal
bagi kampungnya sendiri.

Kabar itu datang bersamaan dengan surutnya air bah,
membawa duka yang lebih berat
dari tumpukan lumpur di ruang tamu.
Teungku Saleh,
sang Pawang Uteun terakhir di Sawang,
ditemukan tak bernyawa.
Tubuh rentanya tersangkut
di akar beringin yang tumbang,
memeluk erat tongkat kayu yang patah-
satu-satunya senjata yang ia punya
untuk melawan ekskavator.

Dulu,
Teungku Saleh adalah benteng terakhir rimba ini.
Suaranya lantang melarang
gergaji mesin menjamah hulu.
“Uteun nyan peunajoh tanyoe,”
katanya berulang kali di meunasah,
hutan itu adalah piring nasi kita,
jangan dikencingi,
jangan dijual.

Tapi Agam dan pemuda lain
menertawakannya di warung kopi.
Mereka bilang Teungku Saleh orang tua bodoh
yang menghambat investasi.
Mereka bilang mistis hutan
tak laku dijual di pasar kota.
Kini, orang tua itu mati.
Bukan karena dimakan usia,
tapi dibunuh oleh jalan tikus
yang Agam buka.

Rumah panggung sang Pawang hancur lebur,
dihantam gelondongan kayu raksasa
dengan potongan gergaji rapi di ujungnya-
kayu yang sama yang Agam tunjukkan lokasinya minggu lalu.
Kayu itu turun dari bukit
seperti peluru kendali,
membawa pesan dendam
dari hutan yang dikhianati.

Malam ini,
di bawah tenda pengungsian yang pengap,
warga berkumpul menggelar doa Tolak Bala.
Mulut-mulut komat-kamit melafalkan ayat suci,
meminta Tuhan menghentikan hujan,
meminta banjir segera surut.
Aroma kemenyan bercampur
dengan bau amis lumpur.
Tapi bagi Agam,
doa-doa itu terasa tertahan
di atap terpal.
Seolah-olah langit di atas sana
menolak mengaminkan.

Bagaimana Tuhan akan menerima doa Tolak Bala,
jika penyebab “Bala” itu justru diundang sendiri
ke ruang tamu?
Terngiang luhur nian Hadih Maja
yang dulu sering didendangkan ibunya:
“Pateh Glee, Ruloh Blang”-
jika patah kayu di gunung,
maka hancurlah sawah
di kaki bukit.
Itu bukan mantra mistis,
itu hukum sebab-akibat yang pasti.

Agam menatap nanar ke sekeliling.
Sawah yang menguning kini jadi lautan cokelat.
Jembatan putus, sekolah runtuh.
Dan wajah-wajah anak yatim baru,
menatap kosong
ke arah bukit yang gundul.
Ia berjalan menjauh dari kerumunan zikir.
Ia meremas uang lecek dari sakunya,
melemparkannya ke dalam genangan lumpur yang hitam.
Uang itu tenggelam, tak berharga.
Sama seperti harga dirinya
yang kini ia sadari
telah ia jual murah.

Di depan puing rumah Teungku Saleh,
Agam bersimpuh dalam sunyi.
Air matanya jatuh,
menyatu dengan air bah
yang belum kering.
“Maafkan aku, Teungku,”
bisiknya, suaranya serak ditelan angin malam.
“Aku yang membukakan pintu bagi para pencuri.
Kini, jejak pengkhianatanku tertulis jelas
di setiap inchi lumpur Sawang ini.”
Angin berdesir,
membawa aroma tanah basah,
seolah hutan sedang berbisik:
pengampunan mungkin ada,
tapi hutan yang hilang
tak akan kembali dalam semalam.

Catatan 

  1. Istilah Cuak (Pengkhianat): Dalam sosiologi masyarakat Aceh, “Cuak” secara historis adalah istilah bagi warga lokal yang menjadi mata-mata musuh. Dalam konteks kerusakan lingkungan modern, istilah ini digunakan aktivis untuk menyindir warga lokal yang menjadi penunjuk jalan bagi pembalak liar demi keuntungan pribadi. Lihat: AcehTrend, “Cuak dan Lhap Darah” (https://www.acehtrend.com/news/cua-k-dan-lhap-darah/index.html).
  2. Hilangnya Peran Pawang Uteun: Pawang Uteun adalah lembaga adat Aceh yang bertugas menjaga kelestarian hutan. Namun, peran mereka kian melemah akibat desakan ekonomi dan kurangnya regenerasi. Bencana banjir di Aceh Utara dan Tamiang menunjukkan kegagalan kolektif menjaga otoritas adat ini. Lihat: KBA ONE, “MAA Serukan Penguatan Kembali Peran Pawang Uteun di Aceh” (https://www.kba.one/news/maa-serukan-penguatan-kembali-peran-pawang-uten-di-aceh/index.html).
  3. Fakta Kayu Gelondongan (Illegal Logging): Banjir bandang di Aceh dan Sumatra Utara pada akhir tahun membawa material kayu gelondongan (logs) dengan bekas potongan gergaji (chainsaw) rapi. Ini menjadi bukti forensik bahwa hulu sungai rusak akibat penebangan liar, bukan sekadar curah hujan. Lihat: Mongabay Indonesia, “Foto Lautan Kayu Sisa Banjir Aceh” (https://mongabay.co.id/2026/01/03/foto-lautan-kayu-sisa-banjir-aceh/).
  4. Hadih Maja & Realitas Bencana: Peribahasa Aceh “Pateh glee, ruloh blang” (Hutan rusak, sawah hancur) terbukti secara ilmiah dalam bencana ini. WALHI mencatat deforestasi masif di hulu DAS menjadi pemicu utama banjir bandang yang menghancurkan ribuan hektar sawah di hilir. Lihat: WALHI, “Legalisasi Bencana Ekologis di Sumatera” (https://www.walhi.or.id/legalisasi-bencana-ekologis-di-sumatera-dan-tuntutan-tanggung-jawab-negara-serta-korporasi).
Tentang Penulis

Yesrun Eka Setyobudi adalah seorang penulis lepas, pekerja kreatif, dan mahasiswa sejarah Universitas Jember yang memiliki dedikasi tinggi terhadap literasi, riset, serta pengembangan masyarakat. Sebagai talenta muda yang produktif, ia telah membuktikan kompetensinya dengan meraih lebih dari 15 penghargaan tingkat nasional sepanjang periode 2024–2025.

Beberapa prestasi bergengsinya antara lain adalah Juara 1 LKTI KEMENPORA 2024 serta Juara 1 Climate Impact Innovation Challenge (CIIC) 2025 Article Competition. Selain berprestasi secara akademik, Yesrun juga memiliki pengalaman kepemimpinan yang solid di BEM FKIP UNEJ dan Komunitas Indonesia Pencerah. Dengan kombinasi kemampuan intelektual, kreativitas konten, dan disiplin kerja di industri F&B, ia siap memberikan kontribusi strategis di berbagai bidang profesional.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==