Adam Choili – Relawan Rumah Dunia
Buku Seni Merayu Tuhan karya Husein Ja’far Al-Hadar ini membuatku penasaran sejak pertama kali melihat judulnya. Aku langsung dibuat bertanya-tanya, “Apakah Tuhan bisa dirayu?”
Sejak halaman pertama, buku Seni Merayu Tuhan berhasil membuatku fokus mengikuti setiap pembahasannya. Isi buku ini seperti pengingat bahwa ada Tuhan yang selalu melihat kita. Juga menjadi pengingat bagi kita, umat-Nya, yang terlalu sibuk hingga lupa untuk bersyukur setiap hari.
Pada bab awal, “Beragama dengan Cinta”, Husein Ja’far seolah membuat Tuhan terasa begitu dekat dengan pembaca, dengan bahasa yang tidak menggurui. Di sini juga diberikan tips bagi kita yang sering lalai terhadap perintah Tuhan, yaitu agar konsisten terlebih dahulu. Segala sesuatu harus dimulai dari hal-hal kecil agar nantinya menjadi kebiasaan dan berkembang secara bertahap. Itulah yang aku tangkap pada awal membaca bab ini.

Habib Husein Ja’far menjelaskan bahwa cara merayu Tuhan adalah dengan memperbaiki diri dalam menjalankan ibadah yang diperintahkan-Nya. Lewat buku ini, Husein Ja’far mengajak kita untuk lebih mendekat kepada Tuhan melalui tulisannya.
Beliau juga memperkenalkan konsep cinta kepada para pembaca bahwa agama Islam adalah agama cinta. Islam mengajarkan kita tentang kebaikan. Bahkan dalam salat, bukan hanya sekadar gerakan, tetapi juga momen ketika kita berhadapan dengan Tuhan. Sering kali kita lalai dan terlalu sibuk dengan urusan dunia hingga lupa meluangkan waktu untuk beribadah kepada-Nya.
Salah satu bagian yang paling membekas menurutku adalah ketika aku diingatkan bahwa konsep salat bukan hanya melakukan gerakan serta membaca doa-doa. Akan tetapi, yang terpenting adalah menegakkan salat. Kata “tegak” bukan hanya berarti menjalankan salat, tetapi juga melaksanakannya dengan khusyuk.

Lalu, yang menarik, setelah membaca setengah isi buku ini, aku langsung merasa tersindir. Rasanya sama seperti ketika pertama kali membaca cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis, yang menyindir cara beragama yang hanya sibuk dengan ibadah pribadi, tetapi lupa pada tanggung jawab sosial. Bedanya, jika cerpen A.A. Navis terasa menampar pembaca secara langsung, buku Husein Ja’far ini seolah membimbingku untuk terus memperbaiki cara beribadah melalui gaya bahasa yang santai dan tidak menggurui. Bahkan, menjadi pengingat atas kelalaian yang sering dilakukan.
Semakin aku membacanya, semakin aku merasa tersindir. Namun, rasa kecil hati itu bukanlah alasan bagiku untuk menyerah dalam beribadah. Justru, melalui buku ini, mataku seolah terbuka untuk terus berusaha semaksimal mungkin dalam menjalankan ibadah.
Namun, ketika aku membacanya, ada bagian yang terasa cukup berulang-ulang. Bagi pembaca yang sudah memiliki pengetahuan tentang spiritualitas, tentu pengalaman membacanya akan berbeda dengan pengalamanku.
Aku sangat merekomendasikan buku Seni Merayu Tuhan ini untuk dibaca, baik sebagai pengingat maupun sebagai cara agar kita lebih dekat lagi dengan Tuhan. Aku juga merekomendasikan buku ini karena pembawaan Husein Ja’far yang tidak menggurui, sehingga terasa sangat nyaman untuk dibaca.



