Sitok Srengenge
AMBROSIA
dan
Solilokui
Sembilan
Muse

Ini judul buku puisi yang rumit. Itulah sebabnya saya tertarik dan selalu muncul keinginan membeli buku puisi. Saat membaca puisi-puisi di setiap halamannya, saya bertualang ke kedalaman jiwa si penulis. Saya seolah secara naluriah bisa merasakan, bahwa si penyair ini hanya melamun di kamar dan berakrobat kata-kata atau memang ceruk jiwanya terisi banyak pengalaman teks dan non-teks.
Saya selalu mengosongkan pikiran saat membaca puisi. Saya membuka diri. Saya biarkan hati yang berdialog. Saya juga harus jujur, kadang mengerutkan dahi ketika membaca diksi-diksi yang rumit, kadang menggelengkan kepala saat terasa verbal, dan sesekali bergetar ketika baris-barisnya membuat hati bergetar.

Ketika membaca judul buku antologi puisi AMBROSIA (Penerbit Cipta Prima Nusantara, Februari 2025) buah hati dan pikiran Sitok Srengenge, saya mengerutkan kening. Ini bukan sekadar judul. Ini diksi berbau Romawi atau Yunani. Ini pasti terkait ke mitologi atau mistisime. Ya, judul yang rumit.
Setiap membaca puisi, saya selalu mengibaratkan sedang membuka jendela pelan-pelan. Setelah terbuka lebar, saya akan melihat sesuatu di luar jendela. Begitu pun puisi. Bisa jadi tafsir saya salah. Tapi bukankah tafsir puisi itu tidak tunggal?


AMBROSIA merujuk ke kehidupan yang kekal akibat memakan jenis makanan kiriman Tuhan. Serupa ganja, grass from the God. Hehehehe. Buku puisi ini didedikasikan Sitok Srengenge kepada Sang Guru: Goenawan Mohamad. Si penyair seolah sedang Solilokui – menumpahkan perasaannya kepada seseorang yang memberinya inspirasi. Mas Goen si Muse itu.

Dari 60 puisi dalam rentang waktu 1998 – 2001, judul-judul puisi yang berbau Yunani, Italia, fisika, kedokteran, filsuf, alam, eksistensi, religiusitas, justru saya terhenti di puisi yang berjudul “Euthanasia” dengan titi mangsa 2001. Saya teringat saat bekerja di RCTI, pernah mendiskusikan film TV dengan tema “euthanasia”.

Menurut kamus kedokteran, euthanasia adalah tindakan mengakhiri hidup seseorang secara sengaja untuk menghilangkan penderitaannya. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu “eu” yang berarti baik dan “thanatos” yang berarti kematian. Clint Eastwood pernah membuat film berjudul Million Dollar Baby (2004). Menceritakan tentang seorang pelatih yang harus mengakhiri petinjunya yang terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Ini masuk ke jenis Euthanasia aktif, yaitu tindakan yang sengaja dilakukan untuk memperpendek atau mengakhiri hidup pasien. Ada bayak film dengan tema euthanasia.

Tapi di puisi “Euthanasia” (halaman 13) ini, Sitok justru memasukkan diksi Napoli, Pompeii dan Vesuphius. Ini saling terkait. Kita tahu Vesuphius adalah satu-satunya gunung berapi aktif di Eropa Daratan yang terletak di sebelah timur Napoli, Italia. Pada tahun 79, letusan gunung ini menghancurkan kota Pompeii. Pompeii adalah sebuah kota zaman Romawi kuno yang telah menjadi puing dekat kota Napoli dan sekarang berada di wilayah Campania, Italia.

Jika di film Million Dollar Baby yang mencabut nyawa adalah si pelatih tinju (Frankie Dunn), barangkali di peristiwa lenyapnya kota Pompeii si pencabut nyawa adalah gunung Vesuphius. Saya tidak menyebut Tuhan sebagai pencabut nyawa karena secara instrinsik tak ada diksi yang merujuk ke sana, semuanya diwakili oleh alam semesta. Secara ekstrinsik, barangkali – maafkan jika saya salah – Sitok ateis atau agnostik.
Saya jadi teringat saat SMA (1980-82) pernah membaca kredo dari seorang filsuf, William Somerset Maugham, bahwa jika ingin jadi penulis pergilah dari rumah kemudian tuliskan pengalaman-pengalaman yang kamu dapat. Jadi menulis itu (apa pun jenisnya) bukan sekadar pekerjaan melamun tapi adalah kerja-kerja intelektual. Ke luar dari rumah bisa diartikan sebagai riset lapangan dan membaca adalah riset pustaka.

Ada 59 puisi lagi yang harus saya baca dengan penuh konsentrasi. Itu pasti akan menyita waktu banyak untuk mencoba memahami makna yang tersembunyi di baliknya dan tentu saya pastri harus membuka buku atau Google.
*) Rumah Dunia, puasa pertama 1 Maret 2025.



