Belakangan ini, timeline media sosial dipenuhi kabar buruk tentang kondisi ekonomi Indonesia. Salah satunya nilai rupiah yang terus melemah terhadap dolar hingga menyentuh Rp17.600 per Jumat (17/05/26), seperti dilansir BBC. Situasi ini membuat banyak orang khawatir karena berdampak pada harga kebutuhan hidup yang semakin tinggi, terutama bagi Gen Z dan milenial yang masih berjuang merintis masa depan.
Di tengah sempitnya lapangan pekerjaan dan lonjakan harga kebutuhan, banyak anak muda mulai menunda impian mereka karena tekanan keuangan. Survei terbaru Deloitte menunjukkan lebih dari setengah Gen Z (55%) dan milenial (52%) menunda keputusan besar seperti menikah, memulai bisnis, hingga melanjutkan pendidikan akibat kondisi ekonomi yang tidak menentu.


Di kota dengan landscape indah ini
gedung-gedung tumbuh seperti pohon besi,
akarnya menelan kaki,
rantingnya menutupi matahari,
anak-anak muda yang berjalan di bawahnya
membawa mimpi yang belum sempat berbunga
tetapi sudah dibunuh oleh angka-angka
Harga-harga naik seperti balon udara
Terbang jauh dari jangkauan mata
Sedangkan gaji hanya seperti lilin tua
yang kecil apinya dan cepat habisnya
Saat sekolah, mereka diajari tentang cita-cita
tentang langit dengan warna-warni pelanginya
tentang rumah yang berjendela cahaya
tentang cinta yang berujung jadi keluarga
Namun, setelah dewasa datang menghampiri
Beberapa mimpi juga butuh dibeli
dengan harga-harga yang semakin meninggi
dengan syarat-syarat yang menekan diri
Di dompet mereka,
sang kertas penguasa hanya singgah sebentar saja
seperti hujan di musim kemarau yang hanya hadir untuk menyapa
bukan tinggal lebih lama
Tanggal muda terasa hangat
Tanggal tua berubah penat
Sementara kebutuhan hidup semakin melesat
Terkadang waktu juga kalah cepat

Di kamar kos-kosan
Di ruang-ruang sempit perkotaan
Si manusia dua puluhan
Diam-diam masih menyusun masa depan
dengan tekanan di kepala yang hadir keroyokan
tetapi semangatnya masih tumbuh pelan-pelan
Kelihatannya memang susah untuk tumbuh dalam tempurung
Mereka terkurung dan sering merenung
tentang hal-hal yang membuat mereka bingung
tentang hal-hal yang membuat mereka linglung
Mereka ingin jatuh cinta,
tetapi harga untuk berkeluarga
lebih menakutkan daripada patah hatinya
Mereka ingin membeli hunian
tetapi brosur perumahan
terasa seperti tokoh di karya fiksi
indah dan sulit untuk dimiliki
Orang-orang bertanya,
“Kapan menikah?”
“Kapan punya rumah?”
“Kenapa masih gitu-gitu aja?”
Tanpa memahami alasan di baliknya
Padahal beberapa manusia,
masih ingin menyelamatkan dirinya
di tengah dunia yang melihat kelelahan sebagai kegagalan
Padahal mereka juga sudah berusaha dengan maksimal
Tetapi tetap saja ada yang menganggap mereka tertinggal
Mereka sudah berusaha sampai punggung nyeri
sampai sehari terasa kurang untuk dijalani
dan ketika malam hari
ketika kota mulai sepi
Beberapa kepala masih menyala sendiri
memikirkan masa depan,
memikirkan cicilan,
memikirkan pekerjaan,
yang datang bergantian
seperti angin malam saat badai hujan
Kadang mereka ingin menyerah hari ini,
tetapi besok pagi
alarm masih berbunyi
dan harapan masih menanti
untuk sekadar menyambut kesempatan baik yang menghampiri
Mereka bukan generasi kurang mimpi
Mereka hanya bingung untuk keluar dari tempurung situasi
dan pelan-pelan mereka sedang mencari cara
untuk memperbaiki diri juga kehidupannya
di tengah dunia yang tidak peduli sepenuhnya
https://www.bbc.com/indonesia/articles/c5y9eexrq9zo

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



