Puisi Esai Gen Z: Dewa Gelap Pemakan Timah dan Dayang-Dayangnya Karya Della Rossa

Pusi Esai Gen Z – Karya Della Rosa – Duta Puisi Esai 2025 dari Provinsi Sumatra Selatan.

Indonesia dikejutkan oleh skandal korupsi amat besar yang diperkirakan merugikan negara hingga Rp 271 triliun. Skandal ini terkait dengan dugaan praktik korupsi dalam tata kelola komoditas timah di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah Tbk. dari tahun 2015 hingga 20221 di tanah Nusantara yang begitu luas.

oOo

Tanah yang kekayaannya menjanjikan masa depan yang cerah,
mendung dengan janji-janji yang tak pernah tiba
Di bawahnya, di permukaan bumi yang kaya
tersembunyi harta yang selama ini jadi milik penguasa timah

Logam abu-abu yang mengkilap dalam kegelapan
memanggil para penguasa dengan desahan keserakahan
Menggoda dengan janji kekayaan yang tak terpikirkan
Menggoda para penguasa yang hanya memedulikan harta
“Kalian sang Pemakan Timah, menguras keringat rakyat
demi uang berlimpah,” kata seorang aktivis anti-korupsi.

Dewa Gelap, tak muncul tiba-tiba
Ia lahir dari sistem yang dibangun di atas konspirasi
dari setiap butir timah yang dijarah dan diisap tanpa henti
Mulutnya yang rakus menganga lebar

melahap setiap keuntungan dari tanah Nusantara
“Kita berhasil mengalihkan sekitar 500 ton, Pak.
Tidak ada yang curiga. Semua dokumen sudah diatur.”
Demikian salah satu koruptor berujar.

Dewa Gelap, bukan dewa pembawa berkah
tetapi dewa yang merampas
Dan setiap kali ia menelan logam itu dalam-dalam
tanah airku yang kaya semakin tandus
“Dengan harga pasar saat ini, kurang lebih 50 miliar, Pak.
Sudah dipotong untuk ‘pelicin’ di berbagai pos.”

Namun, ia juga tidak sendirian
Di sisinya, berdiri sekelompok dayang-dayang
Mereka menjadi pelindung dan pelayan setia
Membawa nampan emas yang dipenuhi hasil jarahan
Mereka tersenyum dengan senyuman pseudo-nya

271 triliun rupiah
Angka yang terlalu besar untuk sebuah harapan semu
Hingga bagi mereka yang hidup bergantung dari sawah,
ladang, dan laut
hanyalah angka gadungan yang terbayang di mimpi buruknya

Namun, bagi Dewa Gelap dan dayang-dayangnya
itu adalah angka yang absah
Sebuah angka yang bisa dihitung, dikalkulasi,
dan dibagi di balik meja-meja besar

Rakyat proletar yang berharap
kekayaan negeri bisa membawa keberkahan,
hanya bisa menonton dari kolong jembatan
Bertanya-tanya, ke mana semua timah ini pergi?
Mereka tidak pernah mendapat jawaban
Serpihan mimpi yang dipecundangi

Di balik pintu-pintu megah
Di ruang rapat yang dingin
dayang-dayang itu merapikan jubah mereka
Di sana, tidak ada ruang untuk keraguan
Yang ada hanyalah rencana yang telah dipikirkan dengan matang

Mereka berbicara dalam bahasa yang hanya mereka pahami
Sebuah bahasa korupsi yang membuat segalanya tampak wajar
Timah bukan lagi sekadar logam, melainkan alat tukar
Mengubahnya menjadi uang, uang menjadi kekuasaan
dan kekuasaan menjadi tameng paling serius
bagi setiap dosa yang mereka nikmati

Di luar sana
jauh dari istana-istana megah
rakyat berkeringat darah di atas tanah yang kering
Mereka mencangkul tanah kering itu,
berharap ada kehidupan di dalamnya
Tetapi yang mereka temukan
hanyalah kepedihan yang meradang
Rakyat yang bekerja keras itu tak pernah tahu,
tanahnya telah berpindah tangan
Menjadi milik segelintir orang yang tak pernah menginjak tanah

Yang hanya duduk di ruangan ber-AC
sambil menandatangani surat-surat
Menukar masa depan bangsa ini dengan lembar-lembar uang

Jakarta, September 2024

oOo

Link:

  1. https://nasional.kompas.com/read/2024/04/17/10304861/korupsi-timah-rp-271-t-dan-momentum-pembenahan-sektor-sda?page=all
  2. https://www.tempo.co/hukum/rugikan-negara-rp-271-triliun-tambang-timah-ilegal-di-bangka-belitung-bikin-hutan-tropis-hilang-hingga-korban-jiwa–72309

TENTANG PENULIS: Della Rosa, lahir di Palembang pada 20 Mei 2002. Ia seorang penulis, pembuat flm, dan mahasiswa aktif di Institut Kesenian Jakarta jurusan penyutradaraan flm. Ketertarikannya pada tematema wanita dan kemanusiaan tercermin dalam tulisan serta flm-flm yang ia garap. Beberapa penghargaan sebagai penulis yang pernah ia raih adalah Juara 2 Lomba Cipta Puisi FLS2N seSumatera Selatan, Juara 1 Karya Tulis Ilmiah ASEAN Community Festival S Competition 2016, 30 Besar Esai Kompetisi Parade Cinta Tanah Air 2018, 10 Besar Lomba Menulis Kritis LMK FT UNSRI 2019, Juara 2 Cipta Esai AKSI 17 2019, 3 Besar Webseries Pitching Ideas Competition Media Experience 2023, dan 100 Besar SCENE (Masterclass Pengembangan Skenario Series) Kemenparekraf 2024. Ia sedang membangun laboratorium kreatifnya sendiri yang diberi nama Akrostika Films. Ia terpilih sebagai Duta Puisi Esai 2025 dari Provinsi Sumatra Selatan. []

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen Baru ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Bagaimana kalau lingkungan, politik, atau kritik sosial ke penguasa? Boleh saja asalkan ada fakta dan sertakan link beritanya. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==