Kantor Bahasa Banten Gandeng Gol A Gong Perkuat Gerakan Literasi di Serang

Oleh Naufal Nabilludin

Serang, 16 September 2025 — Kantor Bahasa Provinsi Banten menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Pemberdayaan Penggerak Literasi sebagai upaya memperkuat peran komunitas literasi di Kota Serang. Kegiatan ini berlangsung di Aula Kantor Bahasa Provinsi Banten.

Koordinator kegiatan, Dodi Kristianto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pembinaan komunitas penggerak literasi dalam rangka pemberdayaan komunitas, baik di Provinsi Banten maupun Jakarta.

“Kegiatan hari ini diikuti oleh 70 pegiat literasi di Kota Serang. Program ini berlangsung pada Selasa hingga Kamis, 16–19 September 2025,” ujarnya.

Acara dibuka oleh Kepala Kantor Bahasa Provinsi Banten, Devyanti Asmalasari, S.S., M.Pd., yang menegaskan bahwa program ini menjadi salah satu prioritas lembaga.

“Untuk meningkatkan kecakapan literasi tidak bisa dilakukan sendiri. Harus ada kemitraan dengan para pegiat literasi di masyarakat,” katanya.

Devyanti menyebut pegiat literasi merupakan ujung tombak dalam peningkatan kecakapan literasi dan sastra. Ia juga menekankan pentingnya setiap komunitas memiliki profil yang jelas serta program kreatif dan inovatif.

“Badan Bahasa pusat setiap tahun menyediakan fasilitasi dana kegiatan bagi komunitas literasi. Namun, tahun ini belum ada satu pun komunitas dari Kota Serang yang lolos seleksi. Dengan adanya pembinaan ini, saya berharap tahun depan ada komunitas literasi Serang yang berhasil mendapatkan fasilitasi tersebut,” ungkapnya.

Gerakan Literasi dan Tujuh Pilar Komunitas

Dalam kesempatan yang sama, Gol A Gong menjelaskan bahwa urusan literasi di Indonesia melibatkan dua institusi, yaitu Perpustakaan Nasional dan Kementerian Pendidikan.

Kementerian Pendidikan mengembangkan enam literasi dasar: baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan. Sementara Perpustakaan Nasional mengembangkan literasi kesejahteraan.

“Jika kita memahami enam literasi dasar, maka literasi kesejahteraan adalah implementasi dari keenam literasi tersebut,” jelasnya.

Gol A Gong juga memaparkan tujuh pilar yang wajib dimiliki Taman Bacaan Masyarakat (TBM): basecamp, sumber daya manusia, koleksi buku, program, dana, jejaring, serta promosi dan publikasi.

“Idealnya, TBM terpisah dari rumah pribadi. Kalau sekarang masih di teras atau ruang tamu, tetap harus punya mimpi untuk memiliki basecamp. Jadi ketika ditanya sekretariatnya, jelas dan tidak sembarangan,” katanya.

Ia menambahkan, program TBM sebaiknya disesuaikan dengan keahlian pengelola, namun tetap kreatif dan edukatif.

“Di Rumah Dunia, program unggulannya adalah kelas menulis. Kalian bisa menyesuaikan dengan bidang masing-masing, tapi kelas menulis sebaiknya jangan dihilangkan,” ujarnya.

Terkait pendanaan, Gol A Gong mengingatkan bahwa TBM bukan tempat mencari keuntungan.

“Jangan hanya mengandalkan bantuan pemerintah. Kita harus kreatif mencari dana, seperti yang kami lakukan di Rumah Dunia melalui unit usaha dan kerja sama dengan pihak swasta,” pungkasnya.

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal memperkuat jejaring komunitas literasi di Kota Serang sehingga mampu melahirkan program yang berkelanjutan dan berdampak luas bagi masyarakat.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==