Sabtu, 27 Juni 2026, seorang mahasiswi UIN Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung ditemukan meninggal dunia di kamar kos usai begadang mengerjakan skripsi. Korban diketahui memiliki riwayat sakit jantung.
Link Berita: https://www.detik.com/jatim/berita/d-8550068/mahasiswi-uin-tulungagung-meninggal-di-kos-usai-lembur-kerjakan-skripsi


I
Di sebuah bangunan kecil yang menjadi tempat banyaknya harapan,
sinar cahaya terus menyala seolah menolak dan menantang gelapnya malam.
Seorang pemudi memikul semangat juang di atas pundaknya,
menatap sinar laptop yang terpancar tanpa henti.
Jari-jemarinya terus bergerak menekan tombol-tombol huruf dalam keheningan,
menyusun kata demi kata, kalimat demi kalimat agar terselesaikan sebuah skripsi.
Ia rela bertaruh dengan raganya sendiri yang sebenarnya perlahan menggerogoti,
jarum dinding terus berputar hingga menunjukkan pukul 03.00.
II
Di balik semangat juangnya yang membara,
dada pemudi itu sebenarnya menyimpan sebuah riwayat fisik yang amat rapuh.
Jantungnya telah lama memberikan sinyal untuk beristirahat.
Namun, impian seolah berbicara,
“Teruslah dan kerjakan semua itu, harapan keluargamu di rumah sangatlah besar.”
Membuatnya terus memaksa untuk mengerjakan progresnya hingga tuntas,
ia mengabaikan ketahanan tubuhnya yang sebenarnya sudah melampaui batas.
Ia menumpahkan seluruh rasa penatnya di atas kasur yang menjadi tempat istirahatnya.
Seolah mengira tidurnya hanyalah sebagai jeda untuk menyambut datangnya esok hari.
III
Matahari pagi mulai muncul menyinari bangunan kecil yang sunyi,
teman-teman seperjuangannya sempat menengok ruang kecil itu.
Melihat tubuhnya terdiam pasrah bagaikan guling tergeletak,
mereka mengira ia hanya sedang tidur lelap membayar rasa capeknya semalam.
Namun, ketika pukul sepuluh tiba untuk melanjutkan pengerjaan skripsi bersama,
tubuh yang terdiam kaku itu tidak lagi bergerak dan tidak juga menyahut panggilan teman-temannya.
Napasnya telah terhenti secara perlahan saat sejuknya waktu Subuh,
meninggalkan lembaran tugas yang belum sepenuhnya ia selesaikan.
IV
Orang-orang berseragam cokelat itu berdatangan meneliti suatu keadaan,
tak ada sedikit pun tanda kejahatan dan kekerasan dalam kondisinya.
Hanya ada lelahnya fisik yang tak berdaya yang perlahan diserang oleh riwayat penyakitnya,
menghentikan detak jantung di usia yang masih muda.
Kepergian pemudi itu banyak meninggalkan ketidakpercayaan,
air mata mereka mengucur deras bagai hujan turun diselimuti awan-awan hitam.
Hembusan napas terakhir itu menjadi sebuah kabar duka bagi mereka,
bahwa rasa lelah memperjuangkan cita-cita, diam-diam ada yang menjemputnya ke pangkuan Sang Pencipta.
V
Kabar duka ini menjadi pengingat bagi kita semua,
bahwa di balik setiap cita-cita, ada kehidupan yang begitu berharga.
Di antara lembaran skripsi dan panjangnya perjalanan akademik,
ada malam-malam sunyi yang menyimpan lelah, doa, dan harapan yang belum usai.
Setiap orang tengah menempuh jalannya masing-masing,
berjuang merangkai masa depan di tengah beragam impian dan tantangan.
Namun, di balik setiap nomor induk dan gelar yang kelak disandang,
ada manusia yang memiliki rasa, batas, dan berhak untuk beristirahat.
Sebab pendidikan bukan semata tentang seberapa cepat kita mencapai tujuan,
melainkan juga tentang bagaimana kita menjaga diri sepanjang perjalanan.
Pada akhirnya, kelulusan memang layak dirayakan,
tetapi kehidupan adalah anugerah yang tak tergantikan.
VI
Kini, layar komputer itu telah gelap untuk selamanya,
namun kepergian ini menyisakan panggilan bagi nurani kita semua.
Gelar sarjana tidak pernah sebanding dengan berharganya nyawa manusia,
sebab pendidikan hadir untuk memanusiakan, bukan mengorbankan kehidupan.
Wahai para pejuang pendidikan,
beristirahatlah ketika tubuh mulai meminta,
sebab skripsi dapat dilanjutkan, tetapi kehidupan tak dapat diulang.
Pada akhirnya, keberhasilan bukan sekadar tentang mengenakan toga,
melainkan tentang bagaimana kita sampai di garis akhir tanpa kehilangan diri sendiri.
Jangan biarkan ambisi mengalahkan kepedulian terhadap diri,
karena setiap impian layak diperjuangkan, tetapi kehidupan tetap menjadi hal yang paling berharga.
Catatan Kaki
- Peristiwa ini terjadi di sebuah kamar kos di Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
- Korban berinisial S (25 tahun) merupakan mahasiswi Jurusan Pariwisata UIN Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung, asal Desa Baruharjo, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek.
- Menurut keterangan kepolisian (Ipda Aiman Dzaky), korban bekerja kelompok mengerjakan skripsi bersama rekan-rekannya sejak Jumat sore hingga Sabtu (27/6/2026) pukul 03.00 WIB sebelum beristirahat.
- Korban ditemukan tak bergerak saat rekan-rekannya kembali menengok pada pukul 10.00 WIB. Kepolisian menduga korban meninggal dunia sejak waktu Subuh.
Tentang Penulis:

Kiki Pebrianto adalah mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Ia memiliki minat pada bidang jurnalistik, kepenulisan, komunikasi, media sosial, dan dakwah. Selain aktif dalam kegiatan akademik, Kiki juga terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi dan kerelawanan, salah satunya di Rumah Dunia.
Baginya, menulis merupakan salah satu cara untuk menyampaikan gagasan, merekam peristiwa, dan menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



