Saya beberapa kali ke Thailand; Bangkok, Pattaya, Ayyutaya, Chiang May, Chiang Ray. Tahun 1990, 2000, 2012, 2015, 2017. Saya pernah lama di Bangkok sekitar 3 bulan dan menulis novel Bangkok Love Story (Gramedia, 1994). Sekarang yang keenam pada 22-28 Desember nanti.
Saya paling suka suasana pagi di Thailand. Saya selalu menikmati food streetnya untuk sarapan. Juga menyaksikan para monk atau biksunya, yang berjalan seperti orang Baduy. Mereka berhenti di setiap rumah, menerima sedekah dari orang-orang.



Tapi, hati-hati, ada yang boleh dan tidak boleh dilakukan wisatawan di Thailand. Ada “5 Jangan” yang harus kita:
- Jangan pernah mengarahkan telapak kaki Anda ke arah patung Buddha atau biksu.
- Jangan menyentuh patung Buddha di kepala.
- Beri jalan kepada biksu saat berjalan di trotoar
- Jangan duduk di samping mereka di transportasi umum.
- Jangan menyentuh biksu atau barang-barangnya juga, itu merupakan hal yang tabu bagi perempuan.

Saya pernah beberapa kali tidur di kuil mereka. Ibarat pesantren. Saya diberi kamar. Ditunjukkan arah kiblat dan dijamu makan yang halal. Dn saya harus hati-hati ketika berinteraksi dengan mereka, kuatir melanggar “5 Jangan’ itu.

Kali keenam ini saya datang ke Bangkok bersama Indra Defandra dari SIP Publishing. Kami menyelenggarakan pelatihan Travel Writing di Bangkok, tepatnya di KBRI Thailand pada 24 Desember. Setelah itu 2 anak saya – Jordy dan Natasha bergabung. Kami traveing ke Laos, Vietnam, Tiongkok, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, Azerbaijan, Georgia, Turkiye, UEA, dan Malaysia.
Gol A Gong
Traveler, Author


