Ahmad Hasan Munjazi: Menghafal Quran Membuat Hidup Lebih Berkah

hasan penghafal quran

Ia pun tak menyangka bisa berada di tempatnya saat ini. Hasan merasa hanya seorang anak pelosok desa yang beruntung bisa merasakan pendidikan di pesantren. Walaupun ia terlahir dari keluarga sederhana yang terbilang mahal dari segi biaya ekonomi untuk bisa masuk pesantren modern. Namun Allah mempunyai rencana indah untuk mempermudahnya.

“Saat itu kebetulan ana (saya) mempunyai sepupu dari bapak, Alhamdulillah melalui beliau saat masa kejayaannya dalam kehidupan Allah limpahkan rezeki” kata Hasan. Ia sangat berterima kasih atas segala jerih payah beliau telah membiayai Hasan selama enam tahun.

Pemilik nama lengkap Ahmad Hasan Munjazi ini terlahir dalam keluarga yang notabene cukup religius. Acara Hafidz Quran yang sering ditontonnya ketika masih SD, ternyata membawa pengaruh dan memberikan motivasi kepada Hasan untuk bisa menjadi penghafal Al-Quran juga.

“Mereka yang ikut Hafidz Quran, usianya jauh lebih kecil dari ana, tapi mereka sudah bisa menghafal. Kok Ana yang lebih tua gini-gini aja?” Tanyanya saat itu sambil mengenang masa kecilnya dulu.

Setelah banyak pertanyaan dalam pikirannya, sejak saat itu Hasan mempunyai keinginan yang kuat untuk menghafal juga seperti mereka yang ada di acara Hafidz Qur’an.

Hasan memulai menghafal Al-Quran secara serius sejak awal masuk SMP, hingga akhirnya selesai pada pada kelas 2 SMA bertepatan dengan 1 Ramadhan 1443.

Kemuliaan Menghafal Quran

Menurut Hasan proses menghafal Quran tidak bisa dinilai dari seberapa cepat bisa menghafal, tapi yang penting berusaha untuk bisa menyelesaikannya dan menjaganya. Karena Rasulullah dengan menyelesaikannya dengan jangka waktu yang cukup panjang.

“Kalau untuk proses menghafal Qur’an itu tentu tidak luput dari yang namanya susah, mudah, ya karena itu tuh kayak ombak pasang surut gitu, kadang naik, kadang turun,” katanya.

Ia mengibaratkan menghafal Al-Quran sama dengan pasang surutnya ombak di lautan. Kadang Naik kadang juga turun. Seperti itu semangat Hasan ketika menghafal Al-Quran.

“Prosesnya memang tidak mudah, tapi bukan berarti kita tidak bisa. Prosesnya memang sulit tapi
bukan berarti kita harus menyerah,” jelas Hasan.

Sempat terlintas keinginan untuk menyerah dalam pikiran Hasan, namun keinginan untuk berhasil lebih besar daripada keinginan untuk menyerah. Rasa optimisnya lebih besar dibandingkan rasa pesimisnya. Karena Hasan yakin akan janji Allah, bahwa Allah akan memudahkan siapapun yang menghafalkan Al-Quran.

Hasan percaya, para penghafal Al-Quran akan mendapat kemudahan dalam menghafal dan mendapatkan kemuliaan dari Allah.

Dalam kehidupan Hasan setelah menyelesaikan hafalannya. Ia seperti mendapatkan keajaiban dan keistimewaan. Mulai dari kemudahan yang Allah berikan dalam hidup, hidup yang lebih terarah, kemudahan dalam belajar, diberikan pemahaman yang lebih, dan banyak hal lainnya.

TENTANG PENULIS: Musyafa Ali Syawalludin, penerima beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) BAZNAS provinsi Banten. Mahasiswa jurusan Sejarah Peradaban Islam kali ini sedang menjabat sebagai Duta Sejarah dan sedang belajar ngomong depan orang. Saya mempunyai cita-cita jadi presiden.

Tulisan ini adalah hasil dari pembinaan yang dilakukan oleh Baznas Banten kepada para penerima Beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS). Pembinaan yang bertajuk Pelatihan Menulis Feature Human Interest “Mengikat Cerita Lewat Kata” dilaksanakan di Rumah Dunia pada Senin, 8 Juli 2024.

flayer pelatihan menulis feature skss baznas banten

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==