Bedebah di Ujung Tanduk inilah yang menjadi andalannya untuk menyerang balik cibiran itu sebagai sekuel dari lima serial aksi sebelumnya yang berjudul Negeri Para Bedebah, Negeri di Ujung Tanduk, Pulang, Pergi, dan Pulang-Pergi.
Tere Liye seolah ingin mengungkapkan bahwa dirinya tak hanya piawai menangiskan pembacanya dengan kisah-kisah cinta, tetapi juga andal dalam menakjubkan pembacanya dengan kisah politis para bedebah. Saya telah membaca semua serial aksi karyanya, termasuk yang paling terbaru juga.
Sayangnya, Bedebah di Ujung Tanduk menurut hemat saya hanyalah novel dengan kisah yang biasa-biasa saja. Agaknya hanya dua hal yang membuatnya tetap menarik minat pembaca setianya. Sebelum membahas dua hal yang memesona itu, ada baiknya terlebih dahulu mengungkapkan latar belakang penyebutan novel Bedebah di Ujung Tanduk sebagai novel yang ‘biasa-biasa’ saja.

Kisah Klasik yang Sudah Berkali-Kali Ada
Jalan cerita Bedebah di Ujung Tanduk secara garis besar adalah pelarian Bujang, Thomas, dan kawan-kawan mereka dari amukan kelompok Teratai Emas yang dipimpin oleh Roh Drukpa XX. Rincian ceritanya tak jauh berbeda dengan jalan cerita di film-film aksi seperti adu tembak, adu strategi, berlari ke Negara lain, pertempuran di udara, saling berkejaran di hutan, hingga berujung saling berusaha menghabisi nyawa.
Hal seperti ini memang jamak terjadi dalam penulisan karya sastra. Tak heran jika Plato dalam karya legendarisnya Republic mengungkapkan bahwa karya sastra tercipta lewat meniru setiap hal yang ada dalam dunia nyata. Konsep seperti ini masyhur dengan sebutan mimesis atau tiruan. Oleh sebab itu, membaca Bedebah di Ujung Tanduk seperti membaca kisah klasik yang sudah berkali-kali ada.
Misalnya saja ketika Kiko berhasil menemukan jalan tersembunyi di balik air terjun sebagaimana di dalam kutipan berikut ini,
“Ini air terjun, Kiko. Tidak masuk akal.” ….. Tapi air terjun, dengan dinding batu di sana. Bagaimana caranya Diego menembus dinding itu? (halaman 342)
Kiko dan kudanya telah menerobos air terjun. Tidak terdengar suara benturan menabrak dinding bebatuan. Sebaliknya, Kiko dan kudanya menghilang. (halaman 343)
Jalan cerita seperti ini tentu saja tidak mengagetkan, sebab adegan seperti ini sudah sering ditemui dalam film-film yang sudah tayang jauh beberapa tahun yang lampau. Di antaranya dalam film fenomenal The Lord of The Rings, tepatnya pada saat Frodo dan temannya tiba di hutan Ithilian. Di hutan itulah Frodo dan temannya bertemu dengan Faramir, lalu diajak menuju tempat tersembunyi di balik air terjun.
Tak hanya kisah tentang jalan rahasia di balik air terjun, cerita ‘membosankan’ lainnya adalah kondisi dilematis menemui tiga jalan bercabang saat sedang dikejar musuh dari belakang seperti dalam kutipan di bawah ini,
Kali ini tidak. Sebaliknya, ada tiga jalan di depan sana. Gua pecah menjadi tiga lorong baru. Mereka persis berhenti di depan tiga persimpangan tersebut. (halaman 345)
Dalam film-film bergenre action maupun novel-novel bertema petualangan, alur cerita seperti ini sudah berkali-kali ditemui. Bahkan pola seperti ini juga sudah ada dalam novel sebelumnya, yakni Pulang-Pergi. Jika sudah seperti ini, maka kesan yang diperoleh bukannya membuat penasaran, tetapi malah mengundang kebosanan.

Yang Membuatnya Memesona: Menyederhanakan yang Rumit dan Teknik Menggagalkan Tebakan
Meskipun menghadirkan kisah klasik yang sudah berkali-kali ada, Bedebah di Ujung Tanduk tetap berhasil membuat pembacanya terpesona. Terbukti dengan perolehan rating 4,8 di Google Play Books. Jika ditelisik, agaknya yang membuat Bedebah di Ujung Tanduk tetap memesona adalah dua hal.
Pertama karena Tere Liye berhasil membuat hal-hal yang tampak rumit di masyarakat umum menjadi lebih sederhana dan kedua gegara kepiawaiannya menggagalkan tebakan para pembaca⸻yang mencoba sok tahu dengan alur cerita.
Beberapa hal rumit yang mampu dengan baik disederhanakan oleh Tere Liye adalah penjelasan tentang jual beli properti paling penting di dunia. Urusan jual beli yang ranahnya sudah berada di taraf internasional memang tidak mudah untuk dipahami, namun Tere Liye mampu membuatnya menjadi sangat mudah dipahami sebagaimana dalam kutipan berikut ini,
Meskipun membeli rumah atau tanah jarang dilakukan oleh seseorang, sebenarnya setiap hari tidak kurang terjadi 100.000 transaksi jual beli properti di seluruh dunia, Nyonya Ayako. Itu artinya setiap detik, minimal terjadi satu transaksi…… Saat kita bicara, di luar sana, sudah belasan transaksi disepakati…… (halaman 231)
Tere Liye dengan mudah menjelaskan masalah rumit jual beli properti lewat analogi angka-angka yang nilainya familier dan lewat aktivitas-aktivitas terdekat manusia. Agaknya hal inilah yang membuat novel ini menarik untuk diikuti, karena membuka pengetahuan yang selama ini dianggap rumit, ternyata bisa dipahami oleh siapapun.
Di antara kunci memahami nyatanya bukan hanya dipengaruhi oleh kemampuan pribadi, tetapi juga dipengaruhi oleh pihak yang bertugas memahamkan. Mengamini tips yang disampaikan oleh seorang kolumnis sekaligus mantan Menteri Keuangan periode 2013 hingga 2014, Chatib Basri dalam pertemuan secara virtual yang membahas tentang kiat-kiat menulis gagasan yang baik. Ia menyebutkan bahwa tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu menyederhanakan hal yang rumit dan inilah yang berhasil dilakukan oleh Tere Liye.
Kelebihan selanjutnya adalah cara Tere Liye menggagalkan tebakan pembaca, sehingga pembaca merasa alur cerita Tere Liye memang menarik sekaligus asyik karena sulit untuk ditebak. Sebut saja seperti saat Thomas dan Bujang menggelar latih tanding di sebuah Klub Petarung. Pada ronde pertama Thomas hampir kalah, namun waktu menyelamatkannya. Kemudian pada ronde kedua, Thomas mulai menunjukkan jurus rahasianya dan berhasil memberikan perlawanan yang berarti pada Bujang.
Sayangnya hal ini belum cukup untuk menjatuhkan Bujang. Kala Bujang sudah berhasil menyudutkan Thomas dan siap mengakhiri pertandingan dengan kemenangan, lagi-lagi Thomas diselamatkan oleh waktu. Memasuki ronde ketiga Thomas benar-benar mengeluarkan jurus pamungkasnya secara utuh.
Saat pembaca sibuk menebak siapa pemenang di antara keduanya, di sinilah Tere Liye menggagalkan tebakan itu dengan adegan serangan dadakan dari musuh yang belum dikenal seperti dalam kutipan di bawah ini,
Tidak perlu diteriaki lagi, Thomas siap maju. Menggeram.
AWASS.
Teriakan kencang terdengar lebih dulu. Membuat penonton menoleh ke sumber teriakan. Gerakan Thomas dan Bujang dalam lingkaran merah juga terhenti. (halaman 28-29)
Teknik menggagalkan tebakan pembaca seperti inilah yang membuat novel Bedebah di Ujung Tanduk tetap terasa memesona di mata pembaca setia Tere Liye. Akhir kata, dengan dua kelebihan ini serta alur cerita yang ‘biasa-biasa’ saja, masih pantaskah Bedebah di Ujung Tanduk menyandang predikat novel yang ‘memesona’? Sepertinya, satu di antara jawaban yang paling bijaksana adalah ini semua urusan selera.

Identitas Buku
Judul : Bedebah di Ujung Tanduk
Penulis : Tere Liye
Penerbit : PT Sabak Grip Nusantara
Cetakan : Oktober 2021
Tebal : 415 halaman
ISBN : 978-623-97262-1-8

TENTANG PENULIS: Akhmad Idris adalah dosen yang sedang menempuh program doktoral di Universitas Negeri Malang, penulis buku ‘Permainan Metafora dalam Karya Sastra’

RAK BUKU mulai Mei 2024 tayang dua minggu sekali, setiap hari Rabu, gantian dengan FIKSI MINI. Rak Buku adalah resensi buku. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 700 kata. Honor Rp. 100 ribu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku, penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Rak Buku.




