Tambah Asma yang sudah menulis banyak buku best seller dan film layar lebarnya box office, siapa tahu yang mengkritik Asma itu memiliki kesibukan dan masalahnya sendiri, namun Asma merasa beruntung sebab orang itu masih memikirkan dan mengkritik karya Asma.
Saya merenungkan statusnya. Barangkali itulah kunci kesuksesannya. Rendah hati dan terbuka menerima kritikdari pembaca.

Selain menikmati panen dari proses kerja kerasnya sebelum sukses jadi penulis, Asma membangun taman bacaan dengan nama Rumah Baca Asma Nadia. Banyak orang yang diajarinya membaca dan menulis.
Saya sebagai orang tua malu membaca status Asma. Saya harus belajar banyak kepada diri Asma. Saya masih suka marah dan mencaci-maki orang-orang yang mengkritik karya saya. Bahkan pernah, jika saya punya “lisensi membunuh” seperti James Bond, akan saya bunuh orang yang mengkritik saya.

Ya, saya sering lupa, bahwa jika karya saya sudah dilempar ke pasar, saya harus merelakan buku saya dikunyah pembaca, bahkan diinjak-injak, dikatakan sampah, atau dibakar pembaca.
Nah, kepada para relawan Komunitas Rumah Dunia dan semua sahabat FB saya, yang sedang merintis karir di dunia kepenulisan, Asma Nadia itu penulis buku best seller, film-filmnya box office, bukan penulis sembarangan. Lihatlah, caranya menjalani karir kepenulisannya. Jadi intinya, jangan jadi kesal atau marah karena karya kita dikritik. Terus saja menulis.

Yuk, kita belajar kepada Asma Nadia. Bahasa senyumannya mewarnai dunia.
*) Gol A Gong, Rumah Dunia, Minggu 2 Agustus 2020
*) Foto dok. pribadi

