Belajar Sejarah di Kota Lama Semarang: Menangkap Keindahan Peninggalan Zaman Kolonial

Di sisi lain, berlibur di Kota Semarang juga menjadi alternatif meskipun tidak dalam rangka pulang kampung. Untuk mengunjungi Kota Semarang, saya biasanya menggunakan KRL Jogja-Solo yang hanya Rp8.000,- kemudian dilanjutkan dengan menaiki kereta Banyubiru dari Stasiun Solo Balapan ke Stasiun Semarang Tawang dengan harga tiket hanya Rp40.000,- untuk kelas ekonomi dan Rp80.000,- untuk kelas eksekutif. Meskipun lebih ribet, namun sangat ekonomis dibanding dengan naik travel yang kisaran Rp100.000,-/orang.

Sekedar tips untuk yang ingin bepergian menggunakan KRL Jogja-Solo, pastikan kalian sudah mengecek jam keberangkatan dan kepulangan karena jadwalnya tidak sesering KRL di Jabodetabek. Selain itu, jadwal hari kerja dan akhir pekan juga berbeda. Karena mayoritas orang yang naik KRL ini untuk wisata, baik ke Jogja maupun Solo, maka tips untuk mendapatkan tempat duduk adalah dengan naik dari stasiun pertama.

Menurut saya, selain lebih murah, naik kereta juga lebih minim risiko mabuk darat. Sehingga cocok sekali untuk saya yang tidak tahan perjalanan jauh ini. Apalagi dengan kereta kita dapat eksperiens yang berbeda. Tentunya pilihan transportasi ini tergantung preferensi masing-masing ya!

Setelah sampai di Stasiun Semarang Tawang, kamu dapat memperhatikan jika stasiun ini memiliki arsitektur kolonial belanda yang memiliki langit-langit tinggi, jendela besar, dan ornamen lain khas kolonial.

Stasiun kereta api ini merupakan stasiun kereta tertua di Semarang dan salah satu yang tertua di Indonesia, yang dibuka pada tahun 1868. Seperti yang kita ketahui, Semarang sering kali mengalami bencana banjir, hal ini juga sudah terjadi sejak masa lalu. Belanda telah melengkapi stasiun ini dengan sistem pengendalian air, Polder Air Tawang, untuk mengatasi genangan air.

Beranjak dari stasiun, kalian hanya perlu berjalan kaki sekitar 700 meter untuk sampai ke pusat Kota Lama. Namun, sebenarnya setelah kalian keluar dari stasiun, kalian sudah bisa langsung merasakan nuansa ‘kota lama’ yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan peninggalan Belanda. Kota lama ini dulunya bernama de Europeesche Buurt yang bermakna Lingkungan Eropa.

Kawasan Kota Lama Semarang ini dulunya merupakan pusat pemerintahan, industri, dan juga perdagangan pada masa kolonial Belanda. Di kawasan ini dibangun fasilitas-fasilitas kota, seperti Schouwburg yang berarti gedung teater dalam bahasa Belanda, yang dibangun pada pertengahan abad ke-19. Gedung ini kemudian diberi nama Marabunta setelah diserahkan kepada perusahaan Ekspedisi Muatan Kapal Laut bernama Marabunta pasca kemerdekaan Indonesia.

Jika kita perhatikan bangunan gedung ini, kita dapat melihat ada patung dua ekor semut merah besar yang bertengger di kiri dan kanan bangunan. Hal ini sesuai dengan nama gedung ini, Marabunta, yang merupakan semut tentara. Semut ini adalah jenis predator agresif yang tentunya sangat ganas.

Dulunya gedung ini dibangun dengan tujuan menyediakan hiburan bagi para penduduk di kawasan Kota Lama yang dahulunya didominasi warga Eropa. Ada pertunjukan seni, mulai dari drama, musik, hingga pertunjukan komedi ditampilkan di gedung ini. Bagian lain dari gedung juga dimanfaatkan sebagai restoran dan bar yang biasa dikunjungi para pengunjung teater setelah selesai menonton pertunjukan.

Gedung yang sekarang masih menjadi restoran dan bar ini dapat kamu temui tidak jauh dari pintu keluar masuk Stasiun Semarang Tawang. Kamu juga dapat melakukan reservasi jika ingin makan di tempat ini.

Setelah puas, kalian dapat berjalan sekitar 6 menit untuk sampai di Gereja Blenduk. Gereja yang kini bernama Gereja GPIB Immanuel Semarang ini adalah gereja tertua di Jawa tengah yang dibangun pada tahun 1753. Bentuk atap gereja berbentuk kubah membuat gereja ini disebut sebagai Gereja Blenduk dalam bahasa Jawa, atau dalam bahasa Belanda disebut Koepelkerk (Gereja Berkubah). Hingga saat ini, gereja ini masih aktif digunakan sebagai tempat peribadatan.

Jika kamu lelah berkeliling, kamu juga bisa duduk santai di taman yang berada persis di samping gereja. Taman ini bernama taman Srigunting, yang dahulu saat masa kolonial Belanda berfungsi sebagai alun-alun atau tempat berkumpul dan bersosialisasi warga Belanda. Taman ini sering digunakan untuk kegiatan militer, parade, dan upacara resmi. Saat ini kita dapat bersantai dan menikmati pemandangan bangunan-bangunan bersejarah di Kota Lama Semarang di taman ini.

Di seberang taman ini terdapat bangunan yang cukup mencolok dengan warna merah bata. Gedung Marba, salah satu bangunan yang dibangun pada akhir abad ke-19 oleh seorang pedagang Arab kaya bernama Martinus Willem de Graaf. Gedung ini awalnya digunakan sebagai kantor perdagangan dan gudang untuk menyimpan barang impor dari luar negeri.

Masih di area yang berdekatan, kalian akan menemukan bangunan bertuliskan Spiegel yang tepat berada di tikungan. Bangunan ini awalnya berfungsi sebagai toko serba ada yang dimiliki perusahaan Spiegel dari Eropa. Arsitektur khas Eropa melekat erat di bangunan ini. Gaya art deco yang terlihat dari jendela besar, detail simetris, sangat mudah diidentifikasi. Kini, kamu dapat mencoba makanan seperti pizza dan ayam panggang di gedung yang telah berubah menjadi kafe modern ini.

Banyak sekali tempat makan yang menarik untuk kamu kunjungi di area Kota Lama, tidak hanya makanan eropa namun juga ada makanan Jepang. Tak lupa tentunya makanan khas Indonesia, seperti ayam bakar, gorengan-gorengan, bakso, hingga batagor yang dijual di pinggir area Kota Lama. Harganya pun murah meriah dan rasa yang enak.

Puas menyantap kuliner di area Kota Lama, kita kembali melanjutkan perjalanan menuju Soesmans Kantoor yang dulunya merupakan kantor administrasi sebuah perusahaan perdagangan milik pengusaha Belanda bernama Soesman. Tepat di depan bangunan ini, terdapat sebuah lorong yang unik. Lorong Rumah Akar atau Gang Akar menjadi salah satu spot foto yang tidak boleh kamu lewatkan di Kota Lama. Lorong ini terkenal karena dinding bangunannya yang dilapisi dengan akar-akar tanaman, menciptakan efek visual yang menarik dan unik. 

Masih banyak lagi bangunan-bangunan bersejarah yang dapat kamu kunjungi di Kota Lama Semarang. Contohnya Semarangsche Spaarbank yang kini aktif digunakan sebagai gedung Bank Mandiri. Juga Gedung VHS (Vereeniging van Hulpbehoevenden en Steunenden) atau Oud Samarang, yang dulunya merupakan kantor dari organisasi yang berfokus pada bantuan sosial dan dukungan masyarakat.

Hingga Postkantoor Semarang yang kini menjadi Kantor Pos Semarang yang berfungsi sebagai pusat layanan pos dan komunikasi di kota Semarang, saat ini pun kantor pos ini masih aktif dan berfungsi sebagai kantor pos utama di Semarang, melayani berbagai kebutuhan pos dan logistik masyarakat.

Area yang tidak terlalu luas menjadikan kamu dapat berkeliling seharian disini untuk mengamati bangunan dan tempat-tempat bersejarah ini.

Biasanya saya yang sering kali hanya sendirian memilih untuk bermalam di kabin hotel yang ada di dalam area Kota Lama. Fasilitas yang lengkap, akses yang dekat dengan stasiun, ditambah harga yang sangat murah hanya berkisar 100 ribuan saja tentu menjadikan hotel ini pilihan utama. Tidak saya sebutkan nama hotelnya, namun lokasinya di samping Gedung Telkom.

Berlibur di Kota Semarang sangat menyenangkan, selalu ada tempat baru yang dapat kita eksplor untuk menambah wawasan kita tentang sejarah Indonesia, khususnya di Jawa Tengah.

Tentang Penulis:

Hafizah Fikriah Waskan atau lebih dikenal dengan Waskan adalah seorang sarjana pendidikan matematika. Ia sempat bercita-cita menjadi penulis karena senang membaca buku sejak kecil. Ia pernah menjadi wartawan kampus, namun mimpinya berhenti begitu saja. Kini ia mulai menyusun kembali mimpinya itu.

TRAVELING setip hari Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling di luar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==