Buku Baru: Pedagogi Pancasila

Gagasan inti pemikiran-pemikiran yang tertuang dalam buku ini adalah menjadikan Pancasila sebagai basis nalar sistem pendidikan nasional kita (Hal 27). Nalar pedagogi Pancasila berusaha menggali dan mengembangkan konsep pendidikan yang sesuai dengan Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia, sebagai sistem budaya yang hidup dalam sejarah bangsa Indonesia. Berdasarkan Nalar Pedagogi Pancasila sebagai gagasan inti penulisan buku ini, maka berkembanglah tema-tema seturut dengannya, meliputi pembahasan tentang insan Pancasila, kurikulum dan pembelajaran, peserta didik, guru, kelembagaan pendidikan, anggaran, hingga daya saing bangsa Indonesia.

Dalam konteks Filsafat Pancasila, menarik untuk membahas peran orang tua sebagai sekolah pertama dan utama bagi bagi tiap individu. Sudahkah orang tua memadai dalam menanamkan bahasa dan literasi kemanusiaan di rumah bagi anak-anaknya, selain pemenuhan gizi (Hal. 99). Juga menarik bagi kita untuk memosisikan atau merenungkan kembali relevansi reward and punishment dari perspektif behaviorisme dan humanisme (Hal. 176).

Ketuhanan Yang Maha Esa harus selalu diposisikan sebagai perspektif utama dari berbagai paradigma pendidikan (Hal. 47). Oleh karenanya pendidikan, selain mempersyaratkan perumusan kurikulum yang berimbang antara aspek imtak dan iptek (Hal. 159), juga harus tersedia SDM para guru hebat yang berkarakter, kompeten, dan sejahtera (Hal. 85) sehingga cita-cita melahirkan insan-insan merdeka sebagai ‘produk’ Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam konteks Kurikulum Merdeka di tiap sekolah, tidak mengawang-awang sebagai konsep (Hal. 57).

Sistem pendidikan nasional juga harus berorientasi optimal dalam menerapkan prinsip-prinsip dan praktik Total Quality Management dalam kebijakan anggaran (Hal. 223). Kebijakan anggaran yang tepat, berimbas kepada kesejahteraan guru, melalui sertifikasi, fasilitasi, afirmasi, dan rekognisi pembelajaran lampau (Hal. 211).

Menarik pula, menempatkan hal-hal; pandidikan dasar 12 tahun (Hal. 117), sekolah belajar sehari penuh di sekolah berasrama (Hal. 138), sistem zonasi dalam PPDB (Hal.149), hingga hybrid learning di antara tantangan literasi media dan teknologi dan potensi learning loss ikarenanya (Hal. 201).

Muara dari semua tema-tema tersebut adalah bagaimana mewujudkan masyarakat belajar sebagai platform kekuatan daya saing bangsa Indonesia. Atau sebaliknya, adanya masyarakat belajar (beingi), sebagai prasyarat menjadinya (becoming) bangsa Indonesia sebagai manusia-manusia kuat yang berdaya saing tinggi di antara bangsa-bangsa lain? (Hal. 1). Entahlah. Anda harus membacanya untuk membuktikan kebenaran atau kesalahannya.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==