Pertama kali saya bertemu dengan Pipiet tahun 2002 di Bandung Book Fair, Braga. Saat itu saya meluncurkan novel “Al Bahri” (Asy Syaamil, 2002). Saya kaget. Jujur saja, saya sudah mengira dia sudah meninggal karena kanker. Ternyata masih hidup.

Respon Pipiet Senja pada pertemuan itu, “Takkan saya lupakan; tatapan Gol A Gong ke saya seperti melihat hantu.” Dua tertawa. Saat itu Pipiet ditemani Ali Muakhir (Dar! Mizan) dan Halfino Berry (Asy Syaamil).
Saya selalu tertegun jika melihat Teh Pipiet seperti Jum’at malam kemarin, 8 November 2024 di “Pak Menteri Ngariung”, Kantor Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Rawamangun, Jakarta. Kabar yang selalu sampai ke saya biasanya ada dua: kabar pertama buku barunya, kedua di ruang ICU.

Itulah sebetulnya yang membuat saya selalu semangat menulis. Betapa perjuangannya dari rumah ke ICU, dan komputer, rasanya absurd. Bahkan hidupnya sudah melebihi fiksi. Bagaimana bisa saya mengeluh menulis sementara Pipiet merumuskan pikiran dan hatinya dalam keadaan sakit?
Gol A Gong


