Satu lagi, Baros International Stadium, eh, Banten International Stadium (BIS). Apa bangganya punya BIS yang dibangun dengan dana Rp. 1 T di era Wahidin Halim? Letaknya di desa Baros, nyempil, tidak jadi landmark kebanggaan masyarakat Banten yang ikonik.

Coba deh kita nyetir mobil ke Tanjung Priuk lewat jalan tol lingkar luar utara. Kita akan disuguhi pemandangan “wah”. Jakarta International Stadium! Arsitekturnya jadi kebanggaan. Dipamerkan di ruang publik! Lha, ini Banten International Stadium? Ngumpet di sebuah desa! Bagaimana kita bisa bangga?
Mestinya KPK memeriksa proyek BIS itu, dimulai dari pengadaan lahannya. Apakah ada korupsi atau tidak. Bikin stadion internasional, kok, nggak mikirin sirkulasi lalu lintasnya, program atau agenda sepakbolanya. Setelah jadi, terlantar. Proyek mubadzir!

Jadi, paham kan kenapa sepakbola Indonesia tidak maju-maju? Banten yang jaraknya dekat dengan Jakarta saja, tidak pernah secara dominan dan alamiah menyumbangkan pemain-pemain sepakbola yang berbakat! Dulu pernah ada pemain sepakbola bernama Nasuha! Tapi, entah ke mana dia sekarang! Banten mah jadi penonton saja dan berkutat dengan primordial dan perilaku korupnya!

Sekarang ada proyek naturalisasi, kita semua ribut. Padahal coach Indra Sjafri secara tegas menyatakan kegembiraannya ketika Timnas Indonesia melibas Vietnam 3-0 di leg kedua! Itu di kandang Vietnam! Selama 20 tahun, kit tidak pernah menang! “Alhamdulillah dan saya langsung bersyukur, seperti yang saya sampaikan karena memang tim senior itu adalah prestasi,” ujar Indra Sjafri di Lapangan B, Senayan, Jakarta, Rabu (27/3/2024) kepada Warga Sepakbola. Ya, Timnas Sepakbola Senior adalah prestasi.

Eh, jangan-jangan di kampung kamu juga sama, ya? Wealah! Sepakbola, oh, sepakbola! Bagaimana bisa maju? Kasihan Erick Thohir sebagai Ketum PSSI dengan program-programnya yang revolusioner tapi tidak didukung oleh Pemerintah Daerah! Bagaimana nanti nasib program naturalisasinya?
Gol A Gong


