Dion tersenyum tipis. Ia melenggang pergi sambil berkata dalam hati: “Karam berdua, tapi basahnya cuma dia.”
Karam Berdua Basah Seorang

Dunia Kata, Dunia Imajinasi
Hidup itu perjuangan

Dion tersenyum tipis. Ia melenggang pergi sambil berkata dalam hati: “Karam berdua, tapi basahnya cuma dia.”

Rapat pun selesai tanpa arah, seperti ombak berbuih di atas laut—mengembang sesaat, lalu lenyap begitu saja.

Tak ada yang lebih tinggi, tak ada yang lebih rendah. Di situ, martabat bukan ditentukan oleh gelar, jabatan, atau asal-usul—tapi oleh rasa saling menghargai. Mereka berdiskusi, bekerja sama, dan merayakan perbedaan sebagai kekuatan.

Air tenang memang menghanyutkan.
Tak perlu banyak omong untuk membuktikan nilai diri.
Kadang, justru dalam diam, seseorang menyiapkan perubahan besar.

Ya, inilah yang saya alami. Jika kamu terus dibully, hanya ada 2 keungkinan: kamu bisa lemah atau bisa kuat. Kamu bisa kalha, juga kamu bisa menang. Pilihannya ada di kamu. Ingat, kesempatan emas itu harus kamu rebut.

Sampai suatu hari, sekolah tempat adik Raga belajar mengadakan lomba debat antar-kampung. Raga dengan penuh percaya diri mendaftar sebagai wakil. Ia datang dengan jas putih dan kacamata bundar—lengkap dengan kata-kata motivasi: “Saya percaya pada kekuatan orasi.”

Malam itu juga aku berkemas. Uang tabungan dari amplop-amplop yang dulu Ayah beri, aku kumpulkan. Kupesan tiket kereta ke Surabaya. Tak ada pesan perpisahan. Tak ada tangis atau pelukan. Aku hanya pergi. Meninggalkan semuanya.

Bapaknya jatuh pingsan di tengah ladang. Serangan stroke membuat separuh tubuhnya lumpuh. Tak lama, ibunya menyusul sakit. Kelelahan, katanya. Ketika keluarga yang biasanya menjadi penyangga hidup tiba-tiba tumbang, Arwan panik.

Malam berikutnya, suara itu datang lagi. Dina mencoba berani. Ia berdiri di bawah lubang loteng sambil membawa senter dan berkata, “Kalau ini rumahku, tunjukkan kalau kau hanya mau numpang. Tapi kalau mau mengganggu, aku tak akan diam.”

Semua lelah dan pahit itu, kini terbayar. Ia melangkah ke dunia yang ia tahu—ia pantas mendapatkannya, karena ia berani menghadapi pahit di awal.

Ia lari keluar kamar, tubuh gemetar, cutter masih tergenggam. Petugas hotel menemukan jasad pria itu beberapa jam kemudian. Polisi datang, mengusut, lalu membuka tabir yang selama ini tersembunyi: lelaki itu adalah buronan, pembunuh berantai yang selama ini mereka cari. Korbannya lebih dari tujuh, semuanya perempuan. Nocturno bisa saja jadi yang kedelapan.

Beberapa rekan sejawat menyalami Raka, sebagian dengan senyum basa-basi, sebagian lagi dengan tatapan menilai. Tapi Raka tidak peduli. Yang ia pikirkan hanya satu: jangan sampai kursi ini menjadikannya lupa bahwa ia pernah duduk di lantai kelas dengan kaki berlumpur, demi belajar membaca.

Lingkaran persahabatan memang beragam. Tidak ada yang sama. Tapi semuanya membentukku—dengan luka, tawa, pelajaran, dan kenangan. Dan aku bersyukur… pernah mengenal mereka, masing-masing dengan perannya sendiri.

Malam itu, mereka duduk melingkar, makan malam dengan sayur bening dan ikan asin. Bukan soal apa yang dimakan, tapi hangatnya kebersamaan yang membuat semuanya terasa cukup. Di tengah keterbatasan, mereka membuktikan bahwa kasih sayang adalah pelita di tengah gelapnya masalah.

Perjalanan menuju atas penuh perjuangan, tapi kejatuhan bisa datang secepat kilat. Maka, tetaplah rendah hati. Tetaplah kuat. Dan jangan berhenti belajar. Karena yang benar-benar bertahan bukan hanya yang bisa naik, tapi yang tahu caranya tetap membumi.

Hari berikutnya, hidup berubah. Anak-anaknya pulang dari kota. Istrinya tiba-tiba ingin jalan-jalan ke luar negeri. Rumahnya direnovasi jadi dua lantai dengan ornamen emas di pagar depan. Pak Sahli yang dulu naik sepeda onthel kini mengendarai mobil SUV yang bahkan tidak ia bisa parkir dengan benar.

Suatu malam, Raka melihat warung Mak Rini tutup lebih awal dari biasanya. Ia mendengar kabar bahwa Mak Rini sakit dan tak mampu lagi berdagang. Saat itu, ia berdiri lama di depan warung tua itu, teringat sepiring nasi pertama yang pernah ia terima saat hujan badai bertahun lalu.