“Pak, ini ada kopi dan sedikit cemilan dimakan ya, Pak,” ujarku sambil menyerahkan makanan dan minuman itu.
“Terima kasih, Neng. Semoga Allah lancarkan rezekinya,” jawab Pak Ashari dengan senyum hangat.
Setelah memberikan kopi dan sedikit cemilan, aku tidak langsung pergi, melainkan duduk di halaman musala bersama Pak Ashari.
“Pak, numpang duduk nggih?” tanyaku.
“Iya, Neng. Mangga,” jawabnya ramah.
Dalam obrolan kami, aku mengetahui bahwa Pak Ashari sudah empat tahun menjadi marbot di Musala An-Niat. Dengan penghasilan sebesar Rp600 ribu per bulan, ia mampu menyokong keluarganya yang terdiri dari tujuh anak.
“Anak saya banyak, Neng, ada tujuh,” ujarnya sambil tersenyum.

“Yang pertama sudah kuliah semester tiga, yang kedua dan ketiga kembar, cowok, kelas 8 dan mondok. Anak keempat kelas 1 MTs, dan yang kelima, keenam, serta ketujuh masih kecil-kecil, ada yang di TPA dan yang lainnya belum sekolah,” mendengar ceritanya, aku merasa kagum.
“MasyaAllah, banyak ya, Pak. Itu hebat banget, bahkan sampai bisa menguliahkan anak” kataku.
Pak Ashari juga bercerita bahwa selain menjadi marbot di Musala An-Niat, ia juga menjadi marbot di masjid kampung sebelah dan berjualan keripik pisang untuk menambah penghasilan.
“Gaji dari marbot di masjid kampung sebelah Rp500 ribu, lumayan buat nambah bayar kontrakan,” tambahnya.
Belajar Ikhlas dari Keluarga Pak Ashari
Meski gajinya tidak seberapa, Pak Ashari tetap bersyukur dan berusaha keras untuk keluarganya. Lebih mengagumkan lagi, istrinya yang seorang ibu rumah tangga juga mengajar mengaji anak-anak di malam hari.

Istri Pak Ashari juga berperan besar dalam keluarga. Meski tidak bekerja di luar rumah, beliau mengajar mengaji anak-anak di komplek setiap malam.
“Kalau untuk honor ngaji, kita ga ada honor, Neng. Yang penting anak-anak mau belajar ngaji, honor dari Allah yang kita harapkan,” katanya.
Percakapan kami sore itu membuatku terinspirasi. Pak Ashari adalah sosok inspiratif yang menunjukkan bahwa dengan tekad dan usaha, kita bisa mengatasi berbagai tantangan hidup.
Kehidupan sederhana namun penuh makna dari Pak Ashari dan keluarganya adalah contoh nyata ketulusan dan keikhlasan dalam menjalani hidup. Di tengah keterbatasan, mereka tetap berjuang dan
memberikan yang terbaik untuk orang di sekitarnya.
Pak Ashari adalah sosok inspiratif yang mengajarkan kita bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya tentang materi, tapi juga tentang ketulusan hati dan keberkahan dalam setiap langkah.
Kisahnya mengingatkan kita untuk selalu bersyukur dan berusaha keras, apapun keadaannya.


TENTANG PENULIS: Maelina Putri Maratu Solihah. Penerima Beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) Baznas Provinsi Banten, Mahasiswa jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Sedang menjalankan bisnis kecil berupa makanan kekinian dan mempunyai cita-cita menjadi wanita karir dan pengusaha yang sukses.


Tulisan ini adalah hasil dari pembinaan yang dilakukan oleh Baznas Banten kepada para penerima Beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS). Pembinaan yang bertajuk Pelatihan Menulis Feature Human Interest “Mengikat Cerita Lewat Kata” dilaksanakan di Rumah Dunia pada Senin, 8 Juli 2024.



