Seiring berjalannya waktu, orang tua Elin sudah tidak sanggup membayar uang kuliahnya. Elin bukan satu-satunya anak yang menjadi tanggungan keluarga, masih ada tiga adiknya yang perlu biaya. Elin bingung dan penuh ketakutan, dia khawatir kuliahnya tidak bisa lanjut hingga selesai. Pikirannya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat pusing tujuh keliling.

“Mungkin, aku harus cuti dulu semester 8 nanti,” kata Elin dalam hati.
Ia kemudian mendatangi humas di ruang akademik, dengan maksud ingin mengajukan cuti untuk semester 8.
“Pak, saya ingin ambil cuti untuk semester depan,” pinta Elin kepada bapak yang ada di ruangan tersebut.
“Lah, kamu semester akhir baru ambil cuti. Kemarin-kemarin kemana aja!” ujar bapak tersebut dengan nada tinggi seperti marah.

“Mohon maaf, Pak. Kebetulan keluarga saya sedang ada musibah, sehingga belum bisa bayar untuk kuliah.”
“Ah, seharusnya jauh-jauh hari kamu mempersiapkan segalanya untuk kebutuhan kuliah. Masa gitu aja ngga bisa?”
Elin keluar ruangan sambil menahan air mata. Saat dirinya terpuruk, manusia yang berpendidikan itu malah menjatuhkan dirinya dengan kata-kata yang menusuk.


