Aldy memarkir mobil lebih dekat ke jalan, karena di bagian depan sudah penuh. “Mama ke ATM. Sekalian transfer ke Syifa. Pesanin Mama sop iga saja, ya,” kataku berjalan ke belakang mobil. ATM Center sekitar dua puluh meter ke arah timur.
Aldy mengangguk dan memijit central lock. Cwiw, cwiw, begitu bunyinya!
“Tempat duduk yang dekat jendela ya, Al!”
“Siap, Mama!” Aldy berlari kecil menuju mal, sekitar 200 meter ke arah utara.
Aku memandangi punggung si sulung. Dia duplikat ayahnya, yang tewas dalam kecelakaan pesawat terbang empat tahun lalu. Dari konpensasi yang diberikan makapai penerbangan, aku belikan mobil dan membuka bisnis online kerajinan tangan. Si sulung sarjana teknologi informasi dan Syifa sedang menyusun skripsi di Disain Komunikasi Visual – merekalah otak bisnis online kami.
Aku tiba di ATM Center, yang posisinya sejajar dengan jalan raya. Rupanya ini strategi baru, agar orang-orang bisa dengan cepat mengambil uang tanpa perlu masuk ke areal mal. Sebetulnya aku bisa saja mengirim uang di dalam mal secara e-banking sambil makan siang. Tapi entahlah, aku ingin menikmati antrean, memijit angka-angka, mengambil dan merasakan lembutnya uang kertas yang keluar dari mesin ATM.
Di dalam ATM Centre ada 3 orang sedang mengambil uang. Aku menuju mesin ATM keempat. Ketika hendak memasukkan kartu ke mesin ATM, aku melihat 3 lelaki keluar dari dalam mobil. Mereka menjinjing 3 tas besar, bergegas menuju pintu mal.
Setelah semuanya beres, aku keluar dari ATM Center dan menelepon Syifa. Tapi tidak diangkat. Aku mengirim voice note saja, “Nak, Mama sudah transfer untuk keperluan praktik. Sun sayang.”
Aku masukkan HP ke tas jinjing yang terbuat dari kulit pohon pisang, berjalan melewati lorong yang terbentuk dari deretan mobil. Hari Minggu areal parkir mal ini penuh sesak ibarat pabrik mobil.
BUM!
Telingaku pekak. Ledakan itu sangat keras. Aku berlari ke pintu utama mal. Orang-orang berlarian ke luar. Orang-orang berteriak. Orang-orang jatuh bergulingan dan saling injak.
“Aldy!” aku berteriak-teriak memanggili anakku.
BUM!
BUM!
Tubuhku terlempar membentur bodi mobil. Punggungku terasa sakit. Aku berusaha bangkit.
“Aldy,” suaraku tenggelam oleh jeritan dan tangis orang-orang. Air mataku berubah hitam, tumpah ke aspal parkiran mal. Air liurku menyumbat tenggorokan terasa pahit.
“Maafkan Mama, Aldy,” aku hanya menatap mal yang megah itu runtuh mengubur Aldy. Ya, Allah!
Beberapa orang lalu-lalang bermandikan darah. Ada yang dipapah temannya, dibopong, dipangku. Anak-anak dan orang dewasa yang terluka dibaringkan di aspal parkiran. Awan hitam berkabung di langit, menyembunyikan matahari.
Aku melihat 3 orang lelaki tadi berjalan tergesa-gesa. Tiga tas besar itu tidak ada lagi. Aku langsung mendapatkan tenaga besar. Aku bangkit. Aku berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk, “Itu, itu terorisnya! Mereka yang meledakkan mal!”
Ketiga orang itu kaget dan mempercepat langkah menuju mobil, tapi beberapa petugas parkir menghalangi. Aku berteriak lagi.
Mereka terlibat perkelahian. Ketiga orang itu sangat mahir bela diri. Orang-orang semakin banyak berdatangan dengan membawa berbagai alat seperti tang, obeng, rantai, kunci pas – mereka mengepung.
Ketiga orang itu terdesak. Amarah dilampiaskan. Darah muncrat ke mana-mana. Aku hanya menangisi kepergian Aldy yang malang seperti ayahnya. Sayup-sayup terdengar suara Aldy memanggilku, “Mama!”
Aku lihat tubuh Aldy kotor penuh darah di antara orang-orang yang berteriak. Wajahnya hitam terkena arang. Dia sedang membopong orang terluka ke ambulans.
*) Surabaya 2 November 2022





