Elfa Miko: Dari Mencintai Liverpool sampai Menulis Novel Fantasi

“Menurut ibu, saya akan berhasil di dua pilihan antara seni atau dunia teknik. Saya awalnya pengin jadi aktor dan berniat kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), tapi ibu menyuruh jadi insinyur—jadilah kuliah di Universitas Brawijaya ngambil Teknik Sipil,” jelas Elfa saat membayangkan masa lalunya.

Elfa hijrah ke Jakarta saat dirinya menginjak kelas 5 SD. Ia banyak paham soal sejarah di sana—yang nantinya mempengaruhi proses kreatif menulis novel.

Saat menjadi mahasiswa di Malang, ia memiliki hobi broadcast —tampil di radio—namun hobi itu terkubur ketika Elfa masuk dalam dunia kerja yang super sibuk—dan tidak bisa menyempatkan waktunya sedikitpun untuk hobi.

“Saya saat kerja pindah-pindah. Pernah di Cilegon, Bali, bahkan sampai Lombok. Yang paling bikin waktu habis itu di Jakarta. Tahu kan betapa macetnya? Dan itu bisa menghabiskan waktu 2-3 jam pas berangkat, pulang juga demikian,” kenang Elfa.

“Jadi nggak nggak ada waktu buat meluangkan hobi baik membaca dan lain-lainnya. Liburan juga terbatas saat bersama keluarga. Akhirnya saya memutuskan mencari kota yang tidak jauh dari Jakarta, tapi tidak macet,” sambungnya.

Pada akhirnya, Elfa bertemu dengan salah satu bos-nya saat di Cilegon. Ia menawarkan diri yang sedang butuh pekerjaan. Tidak menunggu lama, Elfa langsung bergiat di Honda dan sekarang ia menjadi GM (PT. Mitra Sendang Kemakmuran) Banten. Terhitung Oktober 2010, Elfa menetap di bumi Serang.

Mencintai Liverpool Sepenuh Hati

Elfa yang gemar membaca dan traveling membaca koran olahraga. Ia melihat sebuah club raksasa Inggris sedang merayakan kemenangan 9-0. Tidak ingat pasti siapa lawannya, tetapi dia tahu bahwa kemenangan itu diraih oleh Liverpool.

Belum mantap dengan kecintaannya terhadap Liverpool, Elfa sudah lebih dulu menyukai lagu-lagu The Beatles. Ia mengagumi Paul McCartney, John Lennon—dan tentu saja personil yang memiliki gaya rambut gondrong itu lahir di Liverpool juga.

“Sebelum mencintai Liverpool saya lebih dulu menyukai The Beatles. Ternyata, grup band ini juga lahir di Liverpool. Sejak tahun 89 saya jadi memutuskan mencintai Liverpool sepenuh hati,” jelas Elfa sembari menghembuskan asap rokok.

Ditambah, Elfa mengagumi masyarakat Liverpool dengan keramah-tamahannya. Kedewasaan dalam sepakbola Eropa. Ia menceritakan saat bermain ke Liverpool—dan kebetulan supir taksinya mencintai Everton rival abadi Liverpool—Elfa saling ledek-ledekan.

“Di Liverpool itu ada dua club sepakbola, Liverpool FC dan Everton FC. Club ini rival abadi. Walaupun di lapangan saling ledek-ledekan, tetapi di luar lapangan biasa saja tidak saling gontok-gontokan—seperti yang saya lakukan kepada supir taksi fans Everton itu,” papar Elfa sembari tertawa.

Elfa membayangkan sepakbola Indonesia sesehat yang di Eropa, tetapi itu mustahil musabab banyak ricuh dan meregang nyawa karena beda pilihan saja. Elfa ingin, sepakbola Indonesia dan supporternya belajar dari Eropa.

Selain itu, Elfa juga mencintai Liverpool karena semboyannya sangat ngena dalam lubuk hatinya “You’ll Never Walk Alone” bahwa hidup tidak bisa dijalani sendirian—untuk itulah Elfa selalu mencintai dunia kebersamaan.

“You’ll Never Walk Alone sampai sekarang saya pegang prinsip itu. Saat butuh lingkungan menulis, saya datang ke Rumah Dunia—belajar bersama—dan di perusahaan, saya juga membentuk team yang solid,” ujarnya.

Hobi yang Tumbuh Kembali

Sejak dunia ditimpa pandemi yang maha dahsyat, Elfa yang memiliki hobi traveling dan menulis—melihat iklan kelas menulis Gol A Gong. Ia memusatkan untuk ikut, dan sekarang—ia sudah menciptakan novel 78 persen (hampir selesai) dan rencananya akan terbit pada Agustus mendatang.

Elfa mengaku bahwa ide novelnya sudah ada sejak tahun 2006 dan baru terlaksana kiwari untuk menggarapnya. Sejak mengikuti Kelas Menulis Gol A Gong—ia bisa merealisasikan ide yang dulu mengendap lama.

Novel yang sedang digarap olehnya ber-genre fantasi, berlatar cerita kerajaan Singosari—tentu ini pengaruh dari hobinya sejak lama dan menyelami Malang dengan penuh kedalaman.

Berangkat dari keresahan tokoh-tokoh luar negeri yang begitu booming di Indonesia, tetapi warisan kebudayaan Indonesia sendiri dengan banyak tokoh cerita yang menarik tidak lestari.

“Superman, Batman, dan tokoh Marvel sangat melekat dan dipercayai oleh orang Indonesia. Nah, saya membuat cerita fantasi Hero yang berlatar di Singosari supaya anak bangsa bangga pada kebudayaan sendiri,” katanya.

“Kita tahu di luar negeri ada Romeo dan Juliet, di Indonesia ada Ken Arok dan Ken Dedes dengan Keris Mpu Gandringnya yang maha sakti. Saya ingin menggambarkan magic, mistis dengan nuansa lain yang bisa diterima semua kalangan,” sambung Elfa.

Elfa sangat bertekad untuk membuat karya berupa novel. Nantinya, mau novel ini diterima oleh masyarakat atau tidak ia sangat tidak memperdulikan soal itu—yang ia tekanan pada dirinya adalah menyalurkan hobi lama—untuk keabadian.

Setelah berhasil menulis novel fantasi, nantinya, Elfa juga berencana akan menulis kisah tentang bola yang tentu saja ini terpengaruh dari Liverpool—ia berencana menulis kisah seperti Tsubasa.*

S Rahman

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==