Setelah landing dengan selamat di Bandara Changi, keangkuhan itu semakin membubung tinggi hingga semakin memperingan langkah kakinya. Disalip beberapa penumpang yang sebenarnya sama mempunyai urusan penting tetapi tidak seantusias dirinya. Ini pertama kali dia ke luar negeri, tetapi bukan pertama kali menaiki pesawat sehingga bandara bukan sesuatu yang asing baginya.
Memasuki area imigrasi, berkali-kali dibenarkan letak kaca mata hitam yang setia bertengger di panggal hidung. Dia tampak sebagai ketua rombongan yang memosisikan diri di ujung tombak.
Di samping autogate imigrasi, dia langsung memahami petunjuk di sana. Diletakkan paspor di mesin scanning sebagai syarat melewati autogate pertama.
“Come back, stand behind the cross!” tegur seorang petugas dengan tegas, karena di depan barisan antrean masih ada penumpang bermata sipit yang melakukan scanning wajah dan sidik jari untuk melewati autogate kedua.
Dia mengangguk, lalu mengikuti perintah si petugas. Dalam hati dia merasa bangga karena memahami percakapan berbahasa asing.
Sambil menunggu antrean, diedarkan pandangan ke sekeliling, mengamati wajah tegang kawan satu rombongannya. Sudut kiri bibirnya terangkat.

Setelah penumpang di depan rampung dengan proses terakhir scanning dan autogate kedua terbuka. Lalu, dia beranjak mengambil langkah mendekat ke autogate pertama untuk melakukan proses scanning paspor. Namun, autogate tidak kunjung terangkat. Percobaan kedua berujung nihil. Keangkuhannya mulai runtuh.
Percobaan ketiga tidak membuahkan hasil. Dia meronta, memanggil berapa kawannya untuk mengatasi kenapa scanning paspor tidak berhasil. Itu pun tidak membuahkan solusi. Apakah tanah Negeri Singa telah menolak dirinya? Apakah Tuhan seketika menghukumnya karena bersikap angkuh?
Satu per satu penumpang yang lain melewati autogate dengan lancar. Hingga hampir satu rombongan study tour telah berhasil menyerang ke sisi lain yang dipisahkan oleh autogate. Tinggal beberapa gelintir orang saja. Wajahnya pucat pasi, dan pikiran kebingungan tidak terkendali.
“Kenapa?” tanya seorang kawan perempuan yang berperawakan kecil, lalu mencermati keterangan barcode dari pengisian MyICA, layanan untuk urusan imigrasi di Singapura, di layar ponselnya.
“Paspor?” tangan kecil kawannya menagih padanya satu buku kecil pamungkas untuk urusan luar negeri.

Tidak lama, dahi kawan perempuannya mengernyit sambil menyodorkan kembali paspor. “Kau input nomor paspor keliru, sampai kiamat pun autogate itu tidak akan terbuka untukmu.”
Dia menahan napas saat melihat paspor yang disodorkan di depannya, tapi ada sesuatu yang terasa aneh. Wajah di paspor itu bukanlah wajahnya. Ternyata dia membawa paspor milik kakeknya yang bulan lusa pergi umroh. Kepanikan melanda. Dia mengobrak-abrik isi tasnya untuk menemukan paspor aslinya, tetapi tidak ditemukan. Pada akhirnya, dia begitu sombong hingga menyadari bahwa paspor aslinya telah tertinggal di rumah. Dia benar-benar terjebak di negeri singa tanpa identitas formal.
Kesombongannya tidak hanya membuat terlambat, tetapi juga menempatkannya dalam situasi yang sangat memalukan dan menyulitkan. (*)

*) Naila Afahza merupakan guru pada salah satu sekolah swasta kejuruan di Kabupaten Kudus, lahir pada 31 Mei 1996, saat ini tengah melanjutkan studi di salah satu kampus di kabupaten tempat kelahirannya. Menulis dan membaca merupakan ketertarikan yang dia tekuni sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama

FIKSI MINI hadir dua mingguan mulai Mei 2024. Terbit hari Kamis. Kita tahu, fiksi mini sedang trend. Silakan mengirimkan fiksi mini karyamu. Satu lokasi, satu waktu, ada plot twist saat endingnya. Antara 250-500 kata. Silakan kirim fiksi minimu ke golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com, subjek: fiksimini. Sertakan bionarasimu 5 kalimat, foto dirimu, dan ilustrasi yang mendukung. Ada uang ganti pulsa alakadarnya Rp. 100.000,- dari SIP Publishing. Selamat menulis.



