Fiksi Mini: Lintang Karya Adina Mardhatillah

Jam sudah menunjukkan pukul 23.10. Arini masih terjaga. Ia sudah mematikan lampu sejak satu jam lalu, sudah mencoba membaringkan tubuh dan memejamkan mata, tapi pikirannya terus saja berisik.

Angin malam menyusup dari sela jendela yang tak rapat, menyibak tirai dan menyentuh kulitknya dengan dingin yang tak bersahabat. Seolah malam ingin mengingatkan bahwa Arini benar-benar sendiri.

Sempat dipandanginya layar ponsel yang tidak kunjung berbunyi. Tidak ada notifikasi, tidak ada yang mencarinya. Arini juga terlalu bosan untuk menggulir layer sosmed, justru hal itu semakin tidak membantunya tidur. Sampai kemudian, getar lembut muncul. Layar ponselnya menyala, menampilkan nama yang membuat otaknya mencerna beberapa detik.

Lintang.

Nama itu hampir Arini lupakan. Atau mungkin sengaja ia sembunyikan dalam rak-rak ingatan yang berdebu. Dulu mereka dekat. Teman baik. Lintang punya tawa yang khas, mata yang berbinar saat berbicara tentang hal-hal kecil, dan kemampuan luar biasa untuk tahu kapan seseorang sedang sedih. Termasuk Arini.

Terakhir kali mereka bertukar pesan sekitar lima tahun lalu, saat Lintang pindah ke luar kota karena urusan keluarga. Setelah itu, kabarnya lenyap. Tak ada jejak, tak ada status, tak ada unggahan.
Kini, satu pesan tiba-tiba muncul di layar ponselnya.

“Hai, Rin. Masih ingat aku?”

Arini menatap layar dengan napas tercekat. Tangannya gemetar saat membalas pesan itu. “Lintang?? Ya ampun, kamu ke mana aja? Aku pikir kamu udah ganti nomor! Ke mana aja selama ini?”

Lintang membalas cepat. “Maaf ya, baru bisa hubungin. Aku cuma mau bilang: kamu kuat, Rin. Dunia ini memang berat, tapi kamu hebat karena tetap bertahan.”

Arini terdiam. Bagaimana Lintang bisa tahu bahwa ia sedang lelah? Hampir seminggu ini ia tenggelam dalam rasa gagal. Revisi skripsinya ditolak, dosen pembimbing bersikap dingin, dan hari-harinya dipenuhi rasa tidak berarti.

“Kamu tahu aku lagi sedih?” tanyanya dalam pesan berikutnya.

Jawaban muncul hanya dalam hitungan detik. “Aku tahu. Aku selalu tahu. Meski kamu nggak bisa lihat aku, aku masih di sini.”

Arini tersenyum samar. Rasanya seperti menemukan kembali seseorang yang hilang di tengah badai hidup. Namun, di balik keharuan itu, ada hawa dingin yang perlahan merambat naik ke belakang tengkuknya.

Ponselnya kembali bergetar. Kali ini dari Tisa, teman kuliah. “Rin, kamu tahu kabar Lintang? Aku baru dapat kabar dari temannya. Dia kecelakaan dua minggu lalu… dan meninggal. Baru diumumkan ke orang-orang hari ini karena keluarganya baru bisa menerima kenyataan.”

Jantung Arini serasa berhenti berdetak. Ia menatap layar ponsel, pada chat yang masih terbuka.
Terakhir dilihat: sekarang.

Arini menelan ludah. Ia mengetik satu pesan terakhir dengan jari gemetar. Pesan hanya centang satu. Hatinya tidak karuan. Tapi beberapa detik kemudian, tanda itu berubah: dua centang. Biru. Satu pesan masuk dari Lintang.

Arini menutup mulutnya, tubuhnya membeku. Matanya membulat, ponsel hampir terlepas dari genggamannya. Suhu kamar mendadak turun, atau mungkin hanya tubuhnya yang gemetar hebat. Ia ingin percaya itu hanya candaan, hanya mimpi. Tapi layar ponsel terus menyala, memperlihatkan kalimat itu. Terakhir dari seseorang yang… seharusnya tak bisa lagi mengetik.

oOo

TENTANG PENULIS: Halo aku Adina Mardhatillah, akrab di sapa Adina. Aku dari Kota Muara Teweh, Kab. Barito Utara, Kalimantan Tengah. Aku lulusan S1 PGSD Universitas Palangka Raya. Aku berkesempatan menjadi salah satu Duta Baca Provinsi Kalimantan Tengah 2024 dan terpilih pada program pengabdian Kampus Mengajar Angkatan 6 oleh Kemendikbudristek. Hobiku membaca, menulis, dan bercerita, lebih spesifiknya aku penyuka buku bergenre Horor dan thriller. Instagramku @adinadhaaa_ terima kasih sudah membaca ya!

FIKSI MINI: Hadir setiap minggu mulai Juni 2025. Terbit hari Senin. Kita tahu, fiksi mini sedang trend. Silakan mengirimkan fiksi mini karyamu. Satu lokasi, satu waktu, ada plot twist saat endingnya. Antara 250-500 kata. Silakan kirim fiksi minimu ke golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com, subjek: fiksimini. Sertakan bionarasimu 5 kalimat, foto dirimu, dan ilustrasi yang mendukung. Ada uang ganti pulsa alakadarnya Rp. 100.000,- dari SIP Publishing. Selamat menulis.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==