Haji Murad: Obituari Estetik Tolstoy untuk Pejuang Chechnya 

Oleh: M. Syifaurrahman – Peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 41

Ini kisah perlawanan, tapi terlalu sunyi untuk disebut heroik. Mungkin yang telah ditulis Tolstoy itu semacam obituari yang dikemas estetik. Kalau Anda cermat pada isyarat (foreshadow) yang digambarkan Tolstoy di bagian awal novel, perihal ia mengumpulkan bunga-bunga ke dalam buketnya, Anda akan dapat mengira-ngira bagaimana Haji Murad nantinya.

Leo Tolstoy, seorang Rusia yang pernah bergabung dalam dinas ketentaraan di Kaukasus pada 1851, tetapi yang demikian itu tidak menimbulkan bias padanya, Haji Murad (selaku musuh Rusia) justru telah dibuatnya dalam novelnya menjadi sosok paling bermartabat.

Mungkin tak dipungkiri, bahwa kegigihan Haji Murad memperjuangkan kehidupan yang selalu mengundang decak kagum banyak orang, sesosok “widuri merah” yang tergilas-gilas dalam pengejaran dua kekuatan besar Imam Syamil (pemimpin militer-religius ketiga Dagestan dan Chechnya) dan Tsar Rusia.

Pada babak awal, kita disuguhi kisah pembelotan Haji Murad yang berbalik memusuhi Syamil sekaligus penyerahan diri untuk melayani Tsar, tanpa mengetahui apa telah yang terjadi sebelumnya. Kemudian, di pertengahan novel motif pembelotan Haji Murad menjadi jelas, tepatnya ketika ia diminta untuk menceritakan kisah hidupnya kepada Loris-Melikov yang dapat berbahasa Tatar. Ini adalah bagian terbaik, seolah Haji Murad hadir bercerita dalam suasana malam yang hangat.

Dalam kisahnya hukum “tabur-tuai” tak berlaku. Haji Murad seperti sebuah dahan kokoh yang terpilih untuk dihinggapi macam-macam pengkhianatan. Sejak Hamzat, Akhmet Khan, Syamil, hingga pihak Rusia. Tapi, ia tidak mengalah, ia membela harkat dan martabatnya.

Namun, setelah bertemu Sardar (Mikhail Semyonovich Vorontsov), ia tidak dapat serta merta mengabdikan diri kepada Tsar. Ia menyampaikan:

“Katakan kepada Sardar, bahwa keluargaku berada di tangan musuh (Syamil), dan selama keluargaku di pegunungan, tanganku terikat dan aku tidak bisa melayaninya.”

Selama di Tiflis, Haji Murad terus-menerus gelisah memikirkan nasib keluarganya. Sementara itu, pihak sangat berhati-hati dalam menyikapi pembelotan Haji Murad. Menurut Vorontsov, memperlakukan Haji Murad sebagai tawanan hanya akan menghilangkan keuntungan-keuntungan dari pembelotannya.

Di sampul depan novel, tercantum testimoni singkat dari Harold Bloom: “Haji Murad adalah kisah terbaik di dunia.” Mungkin tak berlebihan. Tolstoy pun, sebagai mantan prajurit, begitu piawai dalam menggambarkan suasana di balik Perang Kaukakus, yang rasanya begitu intim, seperti kematian Avdeev, yang mungkin bukan bagian cerita utama. Bagian terasa itu sarat dengan “kenangan” Tolstoy sendiri. Di situ, soal kepergian Avdeev, ia menyampaikan sesuatu: 

“Menjadi tentara sama dengan menyambut kematian. Seorang tentara bagaikan tubuh yang menunggu ajal dan mengenangnya—menyakiti jiwanya—adalah hal sia-sia.”

Selain peristiwa perang, ia cukup cakap dalam menggambarkan tata laku Haji Murad yang penuh dengan nilai-nilai Islam. Tolstoy diketahui telah membaca The Sayings of Prophet Muhammad yang dikarang Abdullah Suhrawardi, yang terbit di London tahun 1908.

Kemudian kompilasi hadis-hadis pilihan Tolstoy terbit dengan judul The Treatise of Famous Russian Writer about the Messenger of Islam Muhammad (PBUH). Dalam cetakan berbahasa Arab dengan judul Hikamu An-Nabiy Muhammad (2008) mencantumkan satu bab berjudul “Hal Aslama Tolstoy?” (Apakah Tolstoy telah Memeluk Islam?) dan memaparkan beberapa bukti asumtifnya. Sepertinya Tolstoy yang kritis terhadap agama, sebagaimana dalam bukunya The Kingdom of God is Within You, sudah cukup mendalami Islam. Meskipun begitu, beberapa hal masih terdengar ganjil, seperti konsep ghazavat (perang suci), qishash, dan penyusuan yang diceritakan Khan Mahoma.

Setelah menyelesaikan Haji Murad, saya menyadari betapa beban “memiliki” itu lebih awas dari sebelumnya. Dan, oleh sebab yang tak pasti saya menulis beberapa bagian resensi sambil mendengarkan “Konservatif” dari The Adams. Apa mungkin ini upaya menolak larut pada sistem? 

Identitas Buku:

Judul: Haji Murad 

Penulis: Leo Tolstoy 

Tahun Terbit: 2012

Penerbit: Serambi Ilmu Semesta 

Genre: Novel

Halaman: 242

Tentang Penulis:

M. Syifaurrahman, lahir di Serang 1998. Penggemar Arsenal sejak Sekolah Dasar. Pada 2022 mulai mengenal sastra dan bergabung dengan Ruangrasa Project sebagai editor. Sejujurnya, saya hanya ingin terus menulis.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==