Kang Dedi Mulyadi Melawan Banjir di Jabodetabek

Saya tercengang ketika menonton gerak-gerik Kang Dedi Mulyadi di medsos setelah terpilih jadi Gubernur Jawa Barat 2024-2029 dari Partai Gerindra. Kang Dedi merespon efisiensi anggaran dari Prabowo dengan bukti memotong anggarannya sendiri sebagai Gubernur. Mulai dari mobil dinas, anggaran pakaiannya yang tentu mnuai pro dan kontra.

“Bapak aing!” begitu teriakan masyarakat Jawa Barat ketika Kang Dedi turun ke sungai yang banyak sampahnya, termasuk ketika dengan tegas membongkar wahanan bermain semodel Ancol, Hibisc Fantasy, Cisarua, Puncak. Kang Dedi menganggap, Hibisc sebagai biang kerok banjir di Jabodetabek.

oOo

Ketika saya menonton di medsos, Kang Dedi menagis melihat alamn Puncak yang rusak, saya jadi teringat 44 tahun lalu. Pertama kali naik gunung Gede tahun 1980-an. Saya punya saudara, anak Uwak, di Komplek Brimob, persis di depan Istana Presiden, Cipanas. Saudara saya itu seorang pandu. Dia naik gunung Gede seperti ke toilet. Saat itu gunung Gede dan sekitarnya masih segar walaupun sudah ada tanda-tanda alam yang protes. Misalnya longsor di Ciloto.

Saat itu juga kami sedang santai menikmati liburan sekolah, lalu tanpa persiapan apa-apa, ide itu muncul bgitu saja, kami naik ke gunung Gede. Pake sandal jepit. Saya mengikuti saja jalur yang dia lalui. Bawa perbekalan juga seadanya. Turunnya di gunung Puteri. Kehabisan bekal, minta ke petani. Makan wortel, makan tomat, makan apa saja yang ada di kebun. Betapa damainya waktu itu. Segar udaranya.

Setelah itu hampir setahun sekali, pasti melewati puncak jika hendak ke Bandung. Kadang saya berhenti di Puncak Pas, nongkrong di Rindu Alam atau ke telaga warna. Tapi selalu ada rasa cemas ketika melihat iklan-iklan tempat healing dibangun.

Pada 2010, saya ke Puncak lagi, ada acara di sebuah hotel. Ya, Allah. Macetnya sejak di Ciawi. Luar biasa. Supir membawa saya ke jalan alteratif yang kalau ada 2 mobil dari arah berlawanan, kita harus hati-hati. Saat itulah saya muloai yakin, siapapun presidennya dan gubernurnya, banjir akan dengan setia mampir ke Jabodetabek – Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi.

Coba kalian bayangkan, apa yang terjadi jika Puncak yang merupakan kaki gunung Gede, Pangrango, dan Salak itu dijadikan hotel, resort, atau wahana bermain dan healing. Pohon-pohonnya ditebang, tanahnya disemen. Dan ketika hujan, air yang jatuh biasanya menyerap, ditahan akar pohon, sekarang air kebingungan karena tanahnya sudah disemen semua, akar pohonnya sudah raib.

Bisa kamu bayangkan, air dari langit jatuh ke Puncak – punggung gunung Gede, dalam volume yang besar. Air hujan itu tidak bisa meresap ke tanah, kemudian meluncur turun ke bawah membawa material apa saja yang ditabraknya. Siapa yang mampu menahan laju air?

Maka apa yang dilakukan Kang Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat 2024-2029 terpilih dari Gerindra, yang membongkar Hibisc Fantasy Puncak, patut diacungi jempol. Dedi merespon banjir di Jabodetabek dengan turun ke lapangan. Dia mulai terjun ke sungai-sungai di Bandung membersihkan sampah. Rencananya dia akan membongkar bangunan-bangunan yang berdiri di bantaran sungai. dia juga akan menanami kembali Puncak dengan pohon.

Gol A Gong

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==