Buku-buku tentang Diponegoro mulai dari novel atau biografi berlahiran. Remmy Sylado, Peter Carey, Salim A Fillah, Wardiman Djojonegoro, dan masih banyak lagi. Itulah kekaguman kita tentang sosok pribadi yang kuat menjaga kampung halaman.

Pangeran Diponegoro menentang kebijakan kolonial Belanda yang memasang patok-patok di atas lahan milik Diponegoro di Desa Tegalrejo. Itu adalah mental pejuang yang tidak mau diinjak-injak kampung halamannya.

Apalagi beberapa kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan eksploitasi berlebihan terhadap rakyat dengan pajak tinggi. Perang! Tidak ada lagi satu kata selain: lawan! Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati, sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati Hal inilah yang membuat Pangeran Diponegoro semakin muak hingga mencetuskan sikap perlawanan.

Saya sendiri baru bisa menulis puisi sebagai kekaguman atas sosok Pangeran Diponegoro. Saya pernah ke makamnya di Astana Sumenep, di luar pagar. Saya memdapat konfirmasi dari keturunanya di Makassar, bahwa makam di Sumenep itu sebagai api penyemangat bagi para prajuritnya yang tinggal di Madura. Makamnya sendiri di Makassar.
Bacalah puisi saya tentang Pangeran Diponegoro ini:
PANGERAN DAN SULTANKU
Puisi Gol A Gong
Di alun-alun Kota Magelang
Kulihat wajah pemberani yang sudah lama
kukenal di perpustakaan tersenyum kepadaku
dia bertanya: ke mana Sultan Banten?
Sore ini ketika senja di balik menara masjid Agung
alun-alun kota Magelang ramai menikmati keberaniannmu
jari telunjukmu itu adalah semangat perlawanan
lantang suaramu: Belanda enyah dari Tegalrejo
Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati
sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati
begitulah aku, tertunduk pada bumi Magelang
Sultan Bantenku pernah ada di perempatan jalan
menunggang kuda dengan gagah berani
menyapa kepadaku setiap lampu menyala merah
Kini Sultan Bantenku tak ada lagi
lenyap ditelan kursi panas politisi
sementara kau, Pangeran Diponegoro
betapa gagah menemani warga di alun-alun kota
*) Magelang, 14 September 2022



