Liburan Akhir Tahun ke Muntok Saja

Saya sudah 3 kali ke Muntok. Kota kecil di Bangka Barat. Rutenya Jakarta – Pangkalpinang naik pesawat. Kemudian naik travel sekitar 2 jam ke Muntok. Tapi saya paling suka rutenya Serang – Merak – nyebrang naik kapal ferry ke Bakaheuni, nyambung naik bus travel ke Lampung. Dari Lampung naik kereta ke Palembang. Pernah sendirian, tapi pada 2018 komplet bersama keluarga.

Istirahat dulu sehari di Palembang. Menikmati sungai Musi dengan kuliner pekmpek atau warung terapung dengan menu ikan pindangnya. Saat makan di warung terapung smbil menikmati bentangan jembatan Ampera yang membelah ulu-ilir sungai Musi. Terakhir ke pulau Komoro.

Dari Palembang ke dermaga Bom Baru. Ada kapal ferry atau jet foil menyusuri sungai Musi hingga ke Muntok Bangka Belitung. Pengalaman yang menakjubkan. Coba saja. Sepanjang perjalanan itu saya banyak menemukan hal-hal baru; berinteraksi dengan banyak orang dan menemukan persoalan-persoalan yang langsung dicarikan solusinya.

Muntok kota paling barat, tepatnya jadi ibu kota Bangka Barat. Mentok. Banyak terdapat bangunan bersejarah di sini. Rumah Mayor, bangkai kapal tentara Australia, dan bukit Menumbing – tempat Bung Hatta diasingkan.

Tentu yang tidak bisa kita lewatkan adalah wisata religi masjid Jamik. Mengutip Sub Koordinator Sejarah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat, Muhammad Ferhad Irvan di BangkaPos.com, bangunan yang memiliki nama Masjid Jamik Muntok tersebut telah dibangun sekitar tahun 1880an lalu.

“Dari catatan yang ditemukan, masjid ini dibangun sekitar 1881. Atas prakarsa Abang Muhammad Ali dengan gelar Tumenggung Kartanegara II,” ungkap Ferhad.

Ferhad menjelaskan, pada saat itu Abang Muhammad Ali melakukan kerjasama dengan tiga orang kaya di wilayah Muntok, untuk bersama-sama mendirikan Masjid batu pertama di Pulau Bangka.

“Bersama Haji Nuh, Haji Odong dan Haji Yakub bersepakat mendirikan masjid. Mereka berkumpul dan merencanakannya, Abang Muhammad menyediakan tempat sementara yang lain memberikan bantuan dalam pembangunannya,” jelasnya.

Selain itu ferhad juga menyampaikan jika, bentuk Masjid ini memiliki model arsitektur campuran mulai dari gaya Eropa, melayu dan beberapa bagian memiliki ciri khas asli jawa.

“Saya pikir arsitekturnya gabungan seperti tiang besi ini dari Jerman, sedangkan lantai marmer diimpor langsung dari Italy, jadi ada pengaruh eropa. Jika dilihat memang bentuk bangunan bisa dibilang arsitektur jawa, tetapi juga ada persamaan dengan yang ada di Malaka,” tuturnya.

Sejarawan Bangka Belitung itu juga menjelaskan jika pada proses pembangunannya, tempat ibadah agama islam ini dilakukan dengan bergotong royong oleh seluruh masyarakat Kota Muntok pada waktu itu.

“Pada tulisan dari Raden Alfan Alwi, ada pembagian hari kerja, misal hari senin dari kampung belo. Kemudian hari lain dari kelapa, dan saat malam hari khusus warga sekitar untuk menyetok pasir,” jelas Ferhad.

Sementara itu setelah Masjid ini selesai dibangun ia menjelaskan, jika Tumenggung Kartanegara II bersama beberapa orang yang lain menggelar sayembara untuk mencari siapa yang akan mengisi sebagai guru agama.

“Dari sumber yang saya baca sayembara itu disebarkan di Muntok, pada masa itu ada keluarga pendatang dari Banjar yang mengirimkan pada anak muda dari daerahnya yang memang ingin menimba ilmu langsung ke kota Mekah,” tandasnya.

Ia menjelaskan jika anak muda tersebut ialah Syaikh Abdurrahman Siddik, salah satu tokoh penyebaran agama islam di pulau Bangka yang telah menyelesaikan sekitar 10 tahun menuntut ilmu di Kota Mekah.

“Jika membaca literasi beliau adalah Syaikh Abdurrahman Siddik yang setelah itu menjadi guru di pulau bangka. Setelah menyebarkan agama di muntok, kemudian Puding Besar, Belinyu, berpindah-pindah tempat,” pungkas Ferhad.

Pembangunan masjid ini tak hanya dilakukan oleh umat muslim yang ada di Muntok. Namun masjid ini dibangun dengan bantuan oleh nonmuslim, terutama dari warga etnis Cina. Hadirnya masjid ini memperlihatkan juga betapa kerukunan umat beragam di Muntok telah terlihat sejak lama. Bersebelahan, hanya dipisahkan dengan sebuah gang kecil sekitar 4 meter, berdiri tegak juga sebuah kelenteng Kong Fuk Miau.

Gol A Gong/BangkaPos.com

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==