Malam di Museum Literasi Gol A Gong: Obrolan Kecil dengan Makna Besar

Oleh: Kausar Al-Afin

Pada hari Jumat, tepatnya tanggal 17 April 2026, saya berada di Rumah Dunia untuk mengikuti diskusi santai bersama Mas Gong, pemilik Rumah Dunia. Malam itu suasananya sangat tenang dan hangat di temani tiga gelas kopi hitam yang sangat nikmat, cemilan khong guan dan suara kelelawar dari pohon ceri.

Sebelum diskusi dimulai, kami menunggu satu teman, Gina namanya, dia alumni Kelas Menulis Rumah Dunia yang sedang dalam perjalanan. Kami menunggu sambil berbincang santai hingga akhirnya Gina datang sekitar pukul setengah sembilan malam.

Setelah semua berkumpul, Mas Gong langsung mengajak kami masuk ke Museum Literasi Gol A Gong. Di dalamnya terdapat banyak koleksi buku, dokumentasi perjalanan menulis, penghargaan, serta karya-karya yang menjadi bagian dari perjalanan hidup beliau sebagai penulis. Suasana di dalam ruangan terasa sangat hidup, seolah setiap sudut memiliki kisahnya sendiri.

Setelah Mas Gong bercerita tentang awal mula perjalanannya menjadi penulis, saya tertarik melihat salah satu sudut di dalam museum, yaitu tempat beliau biasa menulis sambil ditemani musik. Tempat itu terlihat sederhana, tetapi sangat nyaman dan penuh inspirasi.

Saya juga tertarik pada bagian traveling Gol A Gong, di sana ada sepeda, tas ransel, serta foto-foto kenangan perjalanan beliau ke berbagai tempat. Melihat semua itu, saya sempat berpikir dalam hati, apakah saya bisa seperti ini suatu hari nanti.

Saya memang sangat suka traveling, terutama berkeliling kota-kota di Jawa. Saat melihat perjalanan Mas Gong yang bisa traveling sambil menulis, saya merasa kagum dan bertanya dalam hati, apakah saya juga bisa seperti beliau—menjelajah banyak tempat sambil menulis cerita dari setiap perjalanan.

Kemudian Mas Gong bertanya kepada kami semua tentang bagaimana perasaan kami setelah melihat museum literasi itu. Saat giliran saya, sebelum menjawab saya terlebih dahulu memperkenalkan diri. Saya menjelaskan dari mana asal saya dan jurusan yang saya ambil, yaitu Sastra Arab di kampus Universitas Islam Negeri Banten.

Saya juga bertanya kepada Mas Gong, “Mas Gong, tahap awal menjadi penulis itu dimulai dari membaca terlebih dahulu atau ada hal lain?”

Saya juga mengatakan bahwa saya mungkin belum menjadi bagian dari relawan kelas menulis Rumah Dunia, karena saya merasa masih banyak yang harus saya pelajari seperti menyeleasaikan tugas Skripsi saya.

Mas Gong lalu menjawab dengan tenang, “Tahap saya menjadi penulis mungkin memang dimulai dari membaca buku terlebih dahulu. Dari membaca, kita belajar memahami banyak hal, lalu perlahan muncul keinginan untuk menulis.”

Jawaban itu membuat saya semakin paham bahwa proses menjadi penulis memang harus dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Setelah itu, saya kembali menjawab pertanyaan awal dari Mas Gong tentang perasaan saya setelah masuk ke museum literasi.

Dengan nada pelan saya berkata, “Saya mungkin masih jauh ke tahap yang seperti ini, Mas.”

Kalimat itu keluar begitu saja, karena saya benar-benar merasa bahwa dunia literasi yang saya lihat malam itu terasa begitu besar, sementara saya masih berada di awal perjalanan.

Mas Gong hanya tersenyum, seolah memahami apa yang saya rasakan. Dari senyum itu saya merasa bahwa semua orang memang memulai dari langkah kecil.

Kemudian, Mas Gong bertanya kepada kami semua, yaitu saya, Roja, Adam, Gina, dan Bang Naufal, tentang bagaimana perasaan kami setelah melihat museum literasi. Pertanyaan itu membuat kami berpikir lebih dalam tentang makna literasi dan bagaimana tempat itu bisa menjadi sumber motivasi untuk terus belajar dan berkarya.

Mas Gong juga menjelaskan museum literasi bisa dikelola secara kreatif. Menurut beliau, hal itu sangat mungkin jika dikelola dengan kreatif. Museum literasi bisa dibuat lebih menarik dengan adanya kelas menulis dan yang lainya. Dengan begitu, tempat tersebut tidak hanya menjadi ruang edukasi, tetapi juga bisa menghasilkan pemasukan.

Selain itu, beliau juga menjelaskan pola hidup yang ia terapkan setiap hari, yaitu menggunakan prinsip 5W + 1H. Menurut beliau, setiap hal dalam hidup harus dipikirkan dengan jelas. Apa yang dilakukan, mengapa dilakukan, untuk siapa, kapan waktu yang tepat, di mana tempatnya, dan bagaimana cara melakukannya.

“Kalau kita terbiasa berpikir seperti itu,” katanya, “hidup akan lebih terarah.”

Diskusi malam itu memberikan banyak pelajaran bagi saya. Saya belajar bahwa literasi adalah kekuatan besar dalam hidup, bahkan bisa menjadi peluang usaha jika dikelola dengan baik. Saya juga memahami bahwa menjalani hidup dengan pola pikir yang teratur akan membuat setiap langkah menjadi lebih bermakna.

Kami selesai berdiskusi sekitar jam setengah sepuluh kurang. Setelah itu kami beristirahat dan makan bersama di aula. Suasana semakin akrab, penuh tawa kecil dan cerita ringan setelah obrolan panjang malam itu.

Sebelum kami pulang, Mas Gong berkata kepada kami, “Saya minta setelah ini kalian tulis ya kegiatan malam ini di museum tadi.”

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti tugas yang penuh makna. Bukan hanya sekadar menulis, tetapi juga sebagai bentuk refleksi dari apa yang sudah kami pelajari malam itu.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==