Oleh: Traveler Arsiya Oganara
Masjid Raya atau Masjid Agung Bandung, Provinsi Jawa Barat, terletak di tengah Kota Bandung, ibu kota Jawa Barat, tepatnya di Jalan Asia Afrika, kawasan Alun-Alun Bandung. Masjid ini merupakan destinasi utama dalam City Tour Bandung. Saya mengunjungi masjid ini pada hari Senin, 30 Desember 2024.
Masjid ini telah menjadi ikon Kota Bandung sejak dulu hingga kini. Ukiran sejarahnya yang indah menjadikannya layak untuk dikunjungi. Masjid ini melalui tiga masa sejarah utama Jawa Barat, yaitu masa Kerajaan, masa Kolonial Belanda, hingga masa Indonesia Merdeka.
Dibangun pada awal abad ke-19, tepatnya tahun 1810, pada masa pemerintahan R.A. Wiranatakusumah II atau Dalem Kaum, masjid ini telah mengalami puluhan kali renovasi. Dari bangunan khas Sunda berbahan kayu hingga bergaya kubah bawang, renovasi terakhir yang kita lihat sekarang membuat masjid ini semakin megah dan kokoh.


Masjid ini memiliki dua menara yang menjulang setinggi 81 meter, menambah kesan elegan pada bangunan dan membuatnya berbeda dari masjid lain. Kubah bawang yang kokoh seolah ingin melambangkan kebesaran Tuhan yang mengalahkan kesombongan manusia.
Lapangan berlapis rumput hijau sintetis di sekitar masjid menjadi tempat yang nyaman untuk bersantai, berfoto, dan menyaksikan keceriaan anak-anak—bahkan orang dewasa—bermain bola. Tulisan “Bandung” berukuran besar berwarna merah menyala berdampingan dengan tulisan “Juara” berwarna putih bersih, menciptakan nuansa layaknya bendera merah putih. Setiap sudutnya terasa sangat instagramable.
Untuk beribadah, tempat wudu pria dan wanita tersedia di basement. Area wudu ini dapat diakses langsung dari luar atau dari dalam masjid. Tempatnya luas, bersih, dan air mengalir dengan sempurna. Mukena juga tersedia, dengan petugas yang ramah melayani para jemaah.
Masjid ini mampu menampung lebih dari 13 ribu jemaah. Luas bangunannya mencapai lebih dari 8.000 meter persegi, sementara luas keseluruhan areanya lebih dari 23.000 meter persegi.

Bandung juga kaya akan pilihan kuliner, baik lokal maupun mancanegara. Anda bisa berjalan kaki dari Alun-Alun menuju kawasan Wisata Kuliner Night di Jalan Lengkong Besar, yang menawarkan aneka jajanan murah meriah. Selain itu, banyak pula restoran di sekitar kawasan tersebut.
Jika ingin bermalam, tersedia berbagai akomodasi dekat Alun-Alun, mulai dari penginapan dengan harga Rp100.000 per malam hingga apartemen dan hotel berbintang.
Untuk transportasi umum menuju Alun-Alun, Anda bisa berangkat dari tiga terminal utama, yaitu Terminal Leuwipanjang, Terminal Cicaheum, dan Terminal Dago, atau dari Stasiun Hall. Tarif angkot sekitar Rp5.000 sekali jalan, sedangkan Bus Damri seharga Rp7.000. Wisatawan yang menggunakan kereta api dapat turun di Stasiun Hall Bandung, lalu melanjutkan perjalanan dengan angkot, Bus Damri, atau transportasi daring.
Bandros

Perjalanan dapat dilanjutkan untuk mengeksplorasi sejarah Kota Bandung dengan menggunakan moda transportasi Bandros (Bandung Tour on Bus). Bandros berlokasi di sebelah lapangan rumput sintetis Masjid Raya Bandung. Moda ini merupakan kerja sama antara Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung dengan DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Bandung. Para pramuwisata dengan ramah dan bersahabat akan memberikan penjelasan sepanjang perjalanan.
Bandros memiliki delapan armada, masing-masing berkapasitas 24 orang dan tidak memperbolehkan penumpang berdiri. Jam operasionalnya mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Biaya untuk menaiki Bandros adalah Rp20.000 per orang. Tiket dapat dibeli melalui petugas Dishub Kota Bandung di lokasi. Pada akhir pekan, libur nasional, dan libur sekolah, pengunjung biasanya membludak hingga harus antre selama tiga jam.
Waktu tempuh perjalanan Bandros sekitar satu jam. Rutenya dimulai dari Masjid Raya Bandung atau Alun-Alun, melalui Jalan Banceuy (Situs Penjara Banceuy), Jalan ABC, Jalan Naripan, Jalan Braga, Jalan Suniaraja (4848 Express), Jalan Perintis Kemerdekaan (Gedung Indonesia Menggugat), Jalan Wastukencana, Jalan L.L.R.E Martadinata (Jalan Riau), Jalan Ir. H. Juanda (Jalan Dago), Jalan Diponegoro (Gedung Sate dan Museum Geologi), Jalan Citarum, Jalan Lombok, Jalan Aceh (Rumah Kentang), Jalan Kalimantan (Gedung Jaarbeurs dan Gedung Sabau), Jalan Sumatera, Jalan Tamblong, Jalan Asia Afrika (Titik Nol Kilometer), Jalan Otista, Jalan Dewi Sartika, dan kembali ke Dalem Kaum atau Alun-Alun.

Pada perjalanan ini, tidak ada pemberhentian untuk berfoto. Namun, wisatawan diperbolehkan turun sebelum tujuan akhir jika menghendaki.
Tentang Penulis:
Arsiya Heni Puspita – Arsiya Oganara adalah nama penanya. Lulusan Sarjana Ilmu Komunikasi dengan hobi membaca dan travelling. Hobi ini pula yang mengantarkannya menjadi Professional Journalist yang sudah mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan dinyatakan Kompeten serta Professional Tourist Guide dan Professional Tour Leader, Licensed and Certified dari Disparekraf DKI Jakarta dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Indonesia.
Saat ini mulai merambah ke dunia sastra dan kegemarannya menulis tersalurkan dengan menulis cerpen, puisi, puisi esai, dan lainnya.
Arsiya Oganara sangat senang bertemu dengan orang baru, persahabatan bisa dilakukan melalui medsosnya. FB: Arsiya Heny Puspita. IG: arsiyahenyhdl. Email: hennyarsiya@gmail.com.



