Saya memang jatuh cinta kepada Benny setelah membaca kumpulan cerpennya (Bulan Celurit Api). Itu saya buktikan dengan mendatangi dia di Lubuklinggau pada 2013 – saya riset untuk buku puisi “Air Mata Kopi” (Gramedia, 2014) yang lolos 10 besar Hari Puisi Indonesia 2014.

Awalnya saya ragu ketika melihat penampilannya yang “metroseksual”. Tapi, ternyata ada darah petualang di jiwanya. Benny memang tidak berotot seperti petualang legenda Indonesia – Norman Edwin yang tewas di gunung Aconcagua, Chili (1992), tapi imajinasi petualangannya menggelora seperi Phileas Fogg – tokoh ciptaan Jules Verne di novel “Keliling Dunia dalam 80 Hari”.


