Membaca Ulang “Dewasa Tak Seseram Isi Kepalamu” Setelah Lulus Kuliah

Oleh Naufal Nabilludin – Relawan Rumah Dunia

Buku Dewasa Tak Seseram Isi Kepalamu ini sebenarnya sudah saya koleksi sejak dua tahun lalu. Saya memutuskan untuk ikut pre-order ketika masih magang di detikJabar tahun 2024.

Yang membuat saya tertarik membeli buku ini karena salah satu video penulisnya – Mas Indra (@indradwiprasetyo) tentang konsep MILES membuat saya tertegun.

Konsep MILES adalah sebuah kerangka dari buku The Unfair Advantage yang mencakup Money, Intelligence, Location, Education, dan Status. Konsep ini membuat saya sadar bahwa titik start setiap orang berbeda dan hidup ini memang tidak adil karena kita punya MILES yang berbeda. Framework ini tidak mengajak kita pesimis, tapi justru mendorong kita fokus memaksimalkan kelima elemen yang kita miliki tersebut untuk memperbesar peluang sukses.

….

Sebetulnya saya sudah selesai membaca buku ini sejak dua tahun lalu, ketika masih berstatus mahasiswa. Namun, setelah lulus kuliah dan memulai karier untuk pertama kali, saya memutuskan untuk memasukkan buku ini ke dalam carrier dan membawanya ke kosan baru.

Ternyata, membaca buku yang sama di fase hidup yang berbeda memunculkan pemahaman yang berbeda pula.

Dulu sewaktu masih mahasiswa, mungkin belum semua pembahasan di dalamnya relate. Tapi, setelah lulus dan terjun ke dunia kerja, tulisan Mas Indra terasa seperti obrolan seorang senior kepada juniornya.

Secara struktur, buku ini membedah keruwetan isi kepala ke dalam enam fase utama: fase kebijaksanaan dalam pengembangan diri, berelasi, mengelola keuangan, pendidikan, berkarier, hingga kebijaksanaan dalam percintaan. Keenam fase inilah yang pada dasarnya memang menjadi sumber overthinking bagi anak-anak usia 20-an awal.

Keenam fase di dalam buku ini tidak dibahas dengan sangat mendalam. Ini bukan tipe buku yang membedah satu konsep atau teori secara mendalam. Isinya lebih terasa seperti kumpulan rangkuman dari berbagai buku, yang dipadukan dengan pengalaman personal penulisnya.

Meski tidak mendalam, menurut saya buku ini cocok untuk dijadikan pemantik dalam berdiskusi dan berefleksi. Rangkuman-rangkuman inilah yang justru penting untuk dibaca dan dicerna oleh anak muda tanpa merasa sedang digurui.

Misalnya tulisan “Pendapatan Tetap vs Tetap Berpendapatan”. Ini sangat menarik menurut saya. Mas Indra menjelaskan bahwa tidak ada salahnya memiliki pekerjaan dengan pendapatan tetap, sekaligus tetap mengusahakan sumber pendapatan lain. Kalau kita bisa melakukan dua-duanya, kenapa tidak? Kita memang harus membuka keran pendapatan lebih dari satu.

Tulisan yang membahas Invest to Self First juga tidak kalah menarik. Anak muda terkadang tergoda untuk kaya instan. Padahal investasi terbaik di usia muda adalah investasi “leher ke atas”, yaitu investasi ilmu. Inilah investasi yang cocok untuk anak muda dengan return yang berkali-kali lipat.

Masih banyak pembahasan menarik di buku ini. Pada akhirnya, buku ini menyadarkan saya pada satu hal: orang-orang yang lebih dulu melewati fase usia ini—seperti Mas Indra—pasti pernah melakukan kesalahan sekaligus menemukan peluang.

Melalui buku ini, kita seolah diajak “ngobrol”. Kita membedah apa saja kesalahan mereka di masa lalu supaya tidak jatuh di lubang yang sama, dan mengamati apa yang mereka lakukan sehingga berhasil mendapatkan peluang tersebut.

Identitas Buku

Judul Buku: Dewasa Tak Seseram Isi Kepalamu 
Penulis: Indra Dwi Prasetyo 
Penerbit: akhirpekan 
Tahun Terbit: Mei 2024 
Kategori: Self-Improvement Pengembangan Diri 
Tebal: 168 halaman

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==