Kebetulan kami adalah pengurus forum taman bacaan tingkat kota, dan tinggal di sebuah penginapan yang diberikan oleh pemerintah daerah setempat. Bangunannya seperti pondok pesantren salafiyah, terdiri dari bambu-bambu dan bilik yang dijadikan dinding, tiang dan atap.
“Kang Andi, Kang Andi…”
“Iya, Wo.” suaranya parau seperti sedang menahan rasa sakit.
“Kang Andi sakit apa, udah makan belum?” tanyaku penasaran.
“Belum, Wo. Tiba-tiba kepala sakit dan tubuh jadi demam, mungkin gara-gara kehujanan tadi pas arah pulang.”
“Boleh titip bubur ayam atau bubur kacang ngga? sekalian beliin tolak angin juga, ya!” sambung Andi, mencari-cari tas untuk mengambil uang.
“Iya, siap. Tapi ini udah tengah malam. Kira-kira di mana yang buka?” tanyaku, sembari mengambil uang yang dititipkan Andi.
“Di deket rumah sakit sekitar sini, biasanya ada yang buka.”

Sejurus kemudian aku segera menyalakan motor dan memakai helm. Tidak ada rasa was-was atau takut dalam perjalanan, hanya ingin segera ditemukan dengan orang yang menjual bubur. Perjalanan dari satu lokasi ke lokasi berikutnya lancar tanpa kendala. Jalan raya begitu sepi, hanya ada satu atau dua kendaraan yang lalu lalang.
Rute perjalanan mencari bubur dimulai dari Rumah Sakit Bunda Asih, tempat paling dekat dari mess kami. Aku melirik kanan-kiri untuk mencari pedagang bubur, namun tidak ada. Perjalanan aku lanjutkan ke Stadion Syahrian, tempat paling banyak menu jajanan yang ada di kotaku. Namun lagi-lagi aku tidak menemukan tukang bubur itu.
Iseng-iseng aku bertanya ke warga lokal yang sedang ngopi di sebuah warung.
“Mas, punten. Kira-kira tukang bubur ayam/kacang yang masih buka jam segini, ada di daerah mana, ya?”
Tanpa basa-basi, mereka menunjuk ke arah barat seraya mengatakan.
“Itu, mas. Lurus aja dari sini, sekitar 1 kiloan. Biasanya dia mangkal di deket jembatan,” jawabnya.
Selepas mengucap terima kasih, aku gas Si Boy (motor beat kesayanganku) dengan kecepatan penuh. Sesampainya di jembatan, aku sama sekali tidak melihat satu pun pedagang yang mangkal.
“Ah kena tipu deh,” ucapku dalam hati.
Jembatannya gelap, tidak ada penerangan cahaya atau lampu jalan. Suasana berubah menjadi seram. Khawatir ada begal atau penjahat. Aku segera memutar balik dan tancap gas.

Hari semakin malam. Waktu di Handphoneku menunjukan pukul 02:12 WIB. Aku harus segera pulang. Ini sudah terlalu larut. Aku harus mencari alternatif makanan lain, karena tidak mungkin membawa tangan kosong setelah keluar cukup lama.
“Roti. Roti. Roti menjadi alternatif yang pas,” gumamku.
Aku mencari warung Madura, biasanya buka 24 jam. Warung yang digadang-gadang menjadi pesaing alfa atau indo mart.
“Mas, beli tolak angin dua, rotinya dua.”
“Totalnya jadi 10 ribu dek.”
Walau hatiku sedikit kecewa, karena tidak menemukan bubur ayam atau bubur kacang. Tapi aku juga harus sadar bahwa ini sudah tengah malam, agak sulit untuk menemukannya.
Saat motorku sudah mendekati mess, tiba-tiba aku melihat pedagang bubur ayam sedang mendorong gerobaknya.
“Mas, Mas. Buburnya masih ada?”
“Kebetulan ini kayanya cukup satu mangkok lagi.”
“Alhamdulillah yaa Allah. Boleh dibungkus ya, mas.”
###



