Bara kemudian jadi legenda dan kota kecil di pantai itu tumbuh jadi metropolitan tapi berisi orang-orang yang rakus dan jahat seperti Gotham.
Di era sekarang munculah perantau bernama Ali. Dia kemudian tumbuh sukses seperti Bruce Wayne versi Indonesia.

Seperti halnya Indonesia yang masih dibelit isu korupsi, Nanang yang pernah bekerja di Komisi Pemberantasan Korupsi, tampak seperti “putus asa” melihat realitas negeri ini, sehingga di novelnya pun dekadensi Kota Bara dibiarkan menggantung.
Saya jadi teringat pelajaran sejarah tentang ramalan Jayabaya, yang menyebutkan bahwa akan datang Ratu Adil sebagai penyelamat negeri ini.
Menunggu Ratu Adil, entah sampai kapan. Apakah Kota Bara itu juga cerminan dari kota kita?
*) Gol A Gong – Rumah Dunia, 15 Oktober 2024




