Sebuah Cerita Tentang Akad dan Ketupat
Oleh: Hafizah Fikriah Waskan
Makan Nasi Padang pakai tangan nampaknya sudah lumrah, bahkan sering digaungkan oleh banyak influencer terutama yang berasal dari Sumatera Barat, tempat kuliner ini berasal. Namun, pernahkah kamu membayangkan rasanya memakan ketupat berkuah menggunakan tangan kosong alias tidak pakai sendok?
Akhir-akhir ini entah mengapa saya sangat suka mendengarkan lagu Sal Priadi yang berjudul Besok Kita Pergi Makan, sebuah soundtrack dari film 1 Kakak 7 Ponakan baru tayang di akhir Januari 2025. Lagu ini membuat saya merasa jika makanan juga bisa jadi hadiah yang berarti meskipun “tak seberapa” katanya.
Kebetulan saya sedang pulang kampung ke rumah ibu saya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, sebuah kabupaten kecil yang jaraknya 100 kilometer dari Kota Banjarbaru, kota yang sejak 2022 sudah resmi menjadi Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan menggantikan Kota Banjarmasin. Kota Kandangan, ibu kota dari kabupaten ini. Jangan bingung, namanya memang sama dengan sebuah daerah di Pulau Jawa tapi ini berbeda lokasi dan pastinya berbeda budaya juga.

Jika kamu ingin berkunjung ke kabupaten ini menggunakan pesawat terbang, kamu dapat memilih tujuan Bandara Syamsudinnoor Banjarbaru. Namun, kamu masih harus mengambil transportasi lain untuk menuju kabupaten ini. Jika tak ingin ribet, kamu bisa menggunakan taksi bandara maupun taksi online yang bisa dipesan langsung di dalam bandara. Tentu dengan harga yang cukup tinggi. Alternatif lain yang bisa kamu gunakan adalah travel dengan kisaran harga Rp100.000,- yang kamu bisa pesan melalui agen travel.
Banyak sekali wisata yang kamu bisa eksplorasi di kabupaten ini, mulai dari wisata alam seperti air panas alami, air terjun, wisata religi, hingga wisata kuliner yang murah dan tidak kalah lezat dari tempat lain. Kamu juga bisa menikmati keindahan alam Pegunungan Meratus dengan bamboo rafting atau dalam bahasa Banjar disebut Balanting Paring yang akan membawamu berarung jeram namun dengan menggunakan bambu-bambu yang telah dibentuk sebagai perahunya.
Kali ini saya ingin membawa kalian semua mencoba wisata kuliner di Hulu Sungai Selatan. Kabupaten ini punya 2 makanan tradisional yang sangat terkenal, yakni Dodol dan juga Ketupat. Bahkan kedua makanan ini dibuatkan tugu cantik dan besar yang dapat kamu temui di tengah Kota Kandangan.
Sore hari Sabtu, di kampung saya biasanya ada pasar kaget yang disebut Pasar Tungging yang diambil dari bahasa Banjar “batungging”, bahasa asli suku Banjar di Kalimantan Selatan. Tungging atau menungging dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) berarti membungkuk dengan kepala ke bawah dan pantat terangkat ke atas atau menukik lurus ke bawah.

Para penjual di pasar ini biasanya akan menggelar dagangannya di pinggir jalan, sehingga saat ingin membeli, para pembeli biasanya akan menunggingkan tubuh untuk memilih barang yang ingin dibeli. Tentu tidak semua pengunjung melakukan hal ini, apalagi banyak juga penjual yang menggunakan meja untuk berjualan. Penamaan pasar ini juga disebabkan proses jual-beli yang terbilang cukup cepat, di daerah saya Pasar yang ada setiap Sabtu ini biasanya hanya berlangsung dari jam 15.00 hingga 18.00, tepat sebelum adzan maghrib berkumandang.
Di pasar ini, kamu tidak hanya akan menemukan makanan, namun juga baju, barang pecah belah, hingga produk perawatan tubuh. Sangat lengkap dan bisa jadi alternatif untuk masyarakat desa yang rumahnya cukup jauh dari ibu kota kabupaten.
Sabtu kali ini cukup bersahabat, memantapkan niat saya untuk “pergi makan”, dengan menggunakan sepeda saya menuju pasar ini. Sambil mendengarkan lagu Sal Priadi, saya mengayuh sepeda bersama adik kecil saya yang masih kelas 2 SMA. Bagi saya, dia adalah segalanya. Adik kesayangan saya yang sangat pintar ini sangat suka makan, itu sebabnya lagu Sal Priadi dan filmnya itu membawa kesan sangat mendalam bagi saya.
Ayo… ayo… ayo… besok kita pergi makan.
Hadiah tak seberapa dariku karena kamu super… membanggakan.
Memang makan ketupat yang harganya tak sampai 20 ribu itu tak seberapa, tapi sebagai anak rantau yang sudah kurang lebih 7 tahun ini tinggal jauh dari rumah, kenangan yang ada di makanan ini benar-benar terasa. Dulu saat kecil, sering kali diajak almarhum ayah untuk sarapan ketupat di warung langganannya.

Warung ketupat yang ada di Pasar Tungging ini menjadi opsi bagi kami yang mau makan ketupat dekat rumah di sore hari, karena biasanya warung ketupat yang bukan di area jalur wisata hanya buka di pagi hari. Kamu juga bisa mencoba ketupat di warung kecil random yang biasanya langganan warga lokal.
Pernahkah kalian membayangkan makan ketupat yang berkuah dengan tangan?
Pada umumnya makanan-makanan berkuah akan dimakan menggunakan alat bantu seperti sendok. Namun, berbeda dengan Ketupat Kandangan, kuliner ini dimakan dengan tangan kosong dan ketupatnya pun dihancurkan, dalam bahasa Banjar disebut “dipical” atau dicampur kuah dan dibejek menggunakan tangan sampai bentuknya jadi seperti nasi yang diberi kuah santan berbumbu pekat. Orang lokal percaya jika kuliner yang menjadi ikon Kota Kandangan ini akan lebih nikmat jika dimakan dengan tangan dan sangat lumrah dilakukan.
Biasanya ketupat ini dimakan dengan berbagai macam lauk, seperti Ikan Haruan (Gabus), Hintalu Jaruk (Telur Asin), Telur Rebus bumbu ketupat, hingga Ayam bumbu ketupat. Ketupat dipadukan dengan santan gurih ditambah dengan taburan bawang merah goreng dan dimakan bersama sambal acan khas Banjar yang pedasnya pas. Kamu juga bisa menambahkan perasan limau kuit, jeruk khas Banjar yang mungkin kamu sering lihat dibungkus mie instan paling terkenal di dunia. Kombinasi ini pastinya membuat lidah dimanjakan dengan kombinasi rasa yang kaya dan khas.
Saya memesan 3 biji ketupat dengan dua lauk, yakni sepotong ayam dan satu biji telur asin. Total makanan ini hanya Rp18.000,- saja. Di warung kecil ini, 3 biji ketupat dengan kuah saja sebenarnya hanya Rp5.000,-, sangat murah bukan?

Jika kamu berkunjung ke kota kesayangan saya ini, jangan lewatkan untuk mencoba kuliner unik satu ini ya! Ada banyak sekali warung yang menjual Ketupat Kandangan, mulai dari warung kecil hingga setara restoran besar pun ada.
Kamu juga tak perlu khawatir jika tidak terbiasa makan berkuah dan berlemak dengan tangan kosong, terutama di warung yang jadi tujuan turis biasanya mereka sudah paham dan menyediakan sendok. Tapi… Apa kamu tidak ingin merasakan sensasi makan Ketupat Kandangan ala lokal?
Katanya, akan sangat mudah membedakan mana orang Kandangan asli dan mana yang bukan, salah satunya dengan melihat cara dia makan ketupat Kandangan. Tentu ini hanya ste
Namun stereotype satu ini mulai berkurang tingkat kebenarannya, dikarenakan banyak orang-orang yang gengsi untuk makan menggunakan tangan kosong dan ingin dianggap orang Banjar (Banjarmasin).
jika di warung yang banyak wisatawan kunjungi, mereka akan menyediakan sendok untuk kamu gunakan. Meskipun kalau tidak pakai juga tidak apa-apa.
Cita rasa ketupat dengan kuah santan yang gurih

Penulis: Hafizah Fikriah Waskan
Dulu bercita-cita jadi penulis, sempat jadi wartawan kampus tapi terhenti. Kini mulai merajut mimpinya lagi. Dengan latar belakang matematika, ia siap berbagi cerita lewat tulisan.

TRAVELING setip hari Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling diluar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.


