Ada kepuasaan tersendiri bagi saya dapat melaksanakan kegiatan sore itu. Sudah lama saya memimpikan rumah saya bisa menjadi tempat untuk melakukan kegiatan yang edukatif.

Bagi saya rumah bukan hanya merupakan tempat beristirahat setelah seharian bekerja. Bagi saya ini juga sebagai bentuk tanggung jawab bahwa pendidikan sejatinya memang tanggung jawab bersama, tidak hanya pemerintah saja.

Pelopor pendidikan, Ki Hajar Dewantara pernah menganjurkan “Jadikan Setiap Orang sebagai Guru, Setiap Rumah sebagai Sekolah”.

Bapak pendidikan bangsa tersebut mengajarkan bahwa sekolah bermakna lebih kaya, bukan hanya sekat-sekat ruang berbeton, begitu juga dengan guru, tidak terpaku pada defenisi sebuah profesi pada instansi tertentu. Seorang tukang ojek bisa menjadi guru di Taman baca yang ia buat di rumahnya.
Jika setiap rumah menyediakan ruang-ruang edukatif di perkarangan rumahnya, maka tidak sedikit kontribusi yang bisa diberikan untuk dunia pendidikan.

Ruang-ruang edukatif tersebut bisa seperti membuat perpustakaan mini di halaman rumah, ruang belajar sederhana yang tersedia papan tulis, atau pentas mini untuk penampilan minat bakat dengan penonton terbatas. Hal-hal yang didapat anak-anak disana bisa jadi tidak diperoleh di sekolah formal.
Setelah Musikalisasi Puisi sore itu, saya sedang bersiap untuk event bulan berikutnya. Rencana rutin sekali sebulan, tanpa gegap gempita. (*)




