Oleh: Muhamad Dupi
Libur semester kali ini di asrama Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) selalu jadi momen emas untuk mengisi ulang energi yang habis terkuras oleh tugas, kuis, dan presentasi yang datang tiada henti. Alih-alih memilih rebahan atau staycation mewah, kami dua belas orang penghuni asrama dari latar belakang beragam, sepakat bahwa tubuh dan jiwa kami butuh udara segar yang tak hanya membasuh paru-paru, tetapi juga menyiram kepala yang hangat karena overthinking akademik.


Tujuan kami kali ini adalah Kawah Ratu, Gunung Salak, di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sebuah tempat yang belum pernah kami jajaki, namun namanya kerap berseliweran di obrolan para pendaki pemula. Ketinggiannya berada di angka 1.437 meter di atas permukaan laut. Cukup tinggi untuk membakar kalori dan memberi sensasi petualangan, namun cukup ramah untuk mereka yang baru kali ini merasakan “naik gunung beneran.”

Start Pagi-Pagi Buta dan Bubur Ayam Bungkusan
Kami berangkat pukul 05:10 pagi, menumpang sebuah mobil ELF sewaan yang cukup untuk mengangkut semua peserta. Biaya sewa ELF ini mencapai Rp1.500.000, ditambah e-toll Rp77.000, serta tip sopir dan makan sopir sebesar Rp150.000. Lumayan, tapi terasa ringan ketika dibagi rata berdua belas.

Suasana mobil penuh tawa dan suara mengantuk yang dibalut semangat. Di tengah perjalanan kami sempat mampir untuk sarapan, bubur ayam hangat seharga Rp10.000 per bungkus. Saya memilih membawanya ke mobil dan menyantapnya sambil memandangi jalanan yang masih dibungkus kabut tipis. Kami juga sempat mampir ke Alfamart untuk membeli cemilan dan minuman. Saya membeli roti sobek, sebotol air mineral, dan permen mint. Toilet Alfamart pun jadi tempat pelarian darurat sebelum tanjakan serius dimulai.
Kami tiba di lokasi pendakian sekitar 07:50 pagi. Udara sejuk dan lembap menyambut kami. Aroma hutan dan tanah basah langsung menyusup ke hidung. Setelah memarkir ELF dengan biaya Rp45.000, kami membayar tiket masuk Kawah Ratu Rp20.000 dan biaya tambahan kawasan TNGHS Rp25.000 per orang. Formalitas dilengkapi dengan pengisian formulir pendaki, serta pengecekan barang dan rute.

Seperti biasa, sebelum mulai mendaki kami melakukan pemanasan kecil untuk menghindari kram. Peregangan ringan diselingi lelucon, ada yang salah pose, ada yang pemanasan sambil ngunyah roti. Setelah itu, kami berkumpul, menunduk sejenak, dan membaca doa bersama. Dalam diam, saya sempat berbisik dalam hati: “Semoga hari ini jadi cerita indah untuk dikenang.”
Tak lupa, foto bareng di depan gerbang pendakian jadi agenda wajib. Dengan latar papan bertuliskan “Selamat Datang di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak,” kami mengabadikan wajah-wajah optimis dan penuh semangat.

Tiga Pos, Sungai, dan Suara Tawa
Pendakian menuju Kawah Ratu terbagi dalam tiga pos. Pos 1 dan Pos 2 lebih didominasi hutan lebat, pepohonan tinggi, akar menjuntai, dan jalan setapak yang terkadang licin karena hujan semalam. Jalur sedikit becek, dan sesekali kami harus berjalan di atas genangan. Jangan harap sepatu kering. Tapi bukannya mengeluh, kami justru menjadikan itu bahan canda. Salah satu dari kami—Dufi—sempat berseru, “Kayaknya sepatu gue sekarang punya dua kepribadian: kiri outdoor, kanan aquarium!”

Pos 3 jadi titik paling menarik. Bau belerang mulai tercium samar, dan suara aliran sungai kecil yang deras jadi latar musik alami sepanjang perjalanan. Kami menyeberangi beberapa jembatan kayu sederhana yang dibangun di atas sungai jernih. Di sana kami berhenti sejenak untuk foto dan video. Sekilas terlihat monyet liar melintas di pepohonan, membuat kami refleks menoleh sambil menahan napas. Hutan ini hidup, dan kami tamu sementara yang disambut baik.
Tidak ada warung atau penjual makanan di sepanjang pos. Maka bekal dari Alfamart jadi penyelamat: roti, biskuit, dan air mineral yang terasa seperti harta karun saat perut mulai berontak. Tapi di bawah, sebelum pendakian, memang ada jajanan seperti cilor dan batagor, dengan harga berkisar Rp5.000–Rp10.000. Tak sempat kami beli saat itu, tapi sudah cukup untuk jadi sasaran saat turun nanti.
Asap Putih dan Kawah Mati
Setelah sekitar 2,5 jam pendakian naik, akhirnya kami mencapai area Kawah Ratu. Pemandangan yang kami dapat sungguh tidak mengecewakan. Asap putih tipis mengepul dari kawah, membawa aroma belerang yang tajam tapi menenangkan. Bebatuan sulfur tersebar di sekitar kawah mati. Langit mendung justru menambah atmosfer magis.

Kami duduk melingkar, membuka bekal, dan menikmati keindahan yang seolah membawa kami ke dunia lain. Di antara celoteh dan cerita, kami juga menyempatkan merenung dalam diam. Ada perasaan kecil di hadapan alam sebesar ini. Ada rasa syukur telah sampai di sini, bersama teman-teman yang rasanya seperti keluarga sendiri.
Perjalanan turun bukan berarti bebas drama. Salah satu teman kami terpeleset dan keseleo ringan, yang untungnya bisa ditangani dengan istirahat dan penanganan sederhana. Saya sendiri mengalami insiden: sol sepatu terlepas, membuat langkah saya limbung. Tapi di situlah indahnya perjalanan bersama. Tanpa diminta, teman saya langsung meminjamkan sandal jepitnya, dan saya pun lanjut turun dengan alas kaki yang jauh dari ideal, tapi cukup menyelamatkan.

Hujan turun di tengah perjalanan pulang. Untung saja kami sudah membawa mantel plastik tipis, jadi tidak terlalu basah kuyup. Kami sempat menepi untuk sholat dan ke toilet, memanfaatkan area datar dan bersih di sekitar aliran air. Airnya? Dingin, bersih, dan menyegarkan, seperti terapi alami untuk kaki yang kelelahan.
Menutup Hari: Letih yang Manis
Total waktu pendakian naik dan turun memakan waktu sekitar 5–6 jam. Saat akhirnya kami kembali ke titik awal dan melihat mobil ELF menunggu, kami saling pandang sambil tersenyum. Lelah? Jelas. Tapi puas? Tak terbantahkan.

Sebelum masuk ke mobil, kami sempat membeli batagor di kaki bukit. Rasanya biasa saja, tapi setelah mendaki, makanan sederhana pun berubah jadi jamuan istimewa. Di mobil, sebagian tidur, sebagian saling kirim foto dan video hasil dokumentasi. Obrolan tentang jatuh, sendal jepit, asap belerang, dan tawa-tawa sepanjang trek masih terngiang.
Perjalanan ke Kawah Ratu Gunung Salak bukan sekadar pendakian. Bagi saya dan teman-teman asrama UIII, ini adalah momen yang akan kami simpan lama. Momen yang mengajarkan arti kebersamaan, saling bantu, dan menghargai alam.

Kami tidak pasang tenda. Kami tidak menginap. Tapi kami pulang dengan hati yang penuh: penuh cerita, penuh tawa, penuh rasa syukur. Di tengah bau belerang dan kabut tipis, saya belajar bahwa perjalanan bukan soal puncak, tapi siapa yang bersamamu di jalan.
Dan hari itu, saya merasa sangat beruntung. Sangat hidup.
Tentang Penulis
Saya Muhamad Dupi, adalah seorang mahasiswa Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dengan minat utama dalam menulis puisi, cerpen, artikel, fiksi, non-fiksi dan melukis. Saya memiliki minat besar dalam menulis dan terus berkembang dalam bidang ini. Selain menulis, saya juga menikmati membaca buku – buku inspiratif dan menjelajahi ide-ide baru untuk karya-karya saya berikutnya.

TRAVELING setip hari Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling diluar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.


