Belanja Oleh-Oleh: Nyaman di Toko Modern atau Seru di Pasar Tradisional?

Oleh: Naufal Nabilludin

Setelah acara pengabdian bersama Sinesia di Desa Biloq Petung, sebelum teman-teman pulang ke Surabaya, kami menyempatkan diri mampir ke Sasaku, salah satu pusat oleh-oleh terkenal di Lombok yang berlokasi di Senteluk, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat, NTB.

Lokasinya strategis, searah dengan perjalanan menuju Pantai Senggigi. Tempatnya nyaman, ber-AC, dan yang paling penting—semua ada dalam satu lokasi. Dari suvenir, kaos khas Lombok, kain tenun, makanan khas, hingga camilan lokal tersusun rapi di rak-rak toko.

Tapi karena budgetku terbatas, aku hanya membeli kain untuk tas dan mainan kecil untuk adikku. Rasanya ingin membeli lebih banyak, tapi aku juga harus menghemat karena masih ada perjalanan ke Bali setelah ini.

Ketika bertemu Hilmi, teman pertukaranku saat di Gorontalo yang asli Lombok, dia bertanya, “Kamu beli apa aja di Sasaku?”

Aku hanya tertawa kecil. “Gak beli apa-apa, budget tipis. Masih mau ke Bali.”

Hilmi mengangguk-angguk, lalu berkata, “Gak beli kaos? Udah, besok jangan berangkat dulu ke Lombok Timur. Besok tak beliin kaos Lombok di pasar, sekalian beli oleh-oleh,” katanya, sedikit memaksa.

Aku pikir, kenapa tidak? Rencanaku yang semula hanya singgah satu malam di kos kakak sepupu Hilmi, lalu langsung melanjutkan perjalanan ke Perpustakaan Lembah Hijau milik Mas Lalu Abdul Fatah di Lombok Timur, akhirnya kuubah.

Aku tidak enak dengan Hilmi. Lagi pula, dia juga berencana mengajakku ke museum dan Bukit Merese untuk melihat sunset.

Akhirnya, aku mengiyakan ajakan Hilmi.

Pasar Cakranegara: Ramai, Panas, dan Penuh Kejutan

Keesokan paginya, aku berangkat ke Pasar Cakranegara di Jl. Selaparang, Cakranegara Timur, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, NTB bersama Hilmi, Mbak Tina, dan Mbak Dima. Begitu tiba, aku langsung merasakan perbedaannya—ini bukan tempat belanja yang serba nyaman seperti Sasaku. Tidak ada AC yang sejuk, hanya deretan kios dan lorong sempit yang dipenuhi suara tawar-menawar.

Ketika suara tawar-menawar menghidupkan suasana, pedagang-pedagang mulai menawarkan dagangannya.

“Cari apa, Dek? Sini, lihat-lihat dulu. Kaos Lomboknya, kainnya, silakan dipilih!”

Suara hiruk pikuk pasar berpadu dengan langkah kaki para pembeli yang lalu-lalang. Di antara lorong-lorong sempit, penjual memanggil-manggil pelanggan dengan suara ramah, berharap dagangannya terjual sebelum siang semakin terik.

Kami langsung menuju satu kios yang menjual aneka kain dan pakaian jadi. Hilmi, Mbak Tina, dan Mbak Dima sibuk mencarikan sesuatu yang cocok untukku.

Sebelum masuk, Hilmi berpesan, “Di pasar nanti jangan ngomong, biar kita aja yang ngomong. Kalau orang luar yang beli nanti dimahalin,” katanya.

Aku mengangguk.

Mereka mulai tawar-menawar dengan bahasa Sasak. Aku hanya diam, sibuk mencoba outer yang cocok untukku.

“Eh ini ada yang couplean. Cocok buat dikasih ke pacarmu,” kata Mba Dima.

Mba Dima mencoba memakainya dan kita berfoto. “Iya, ambil dua aja sekalian. Biar satu pasang, aku yang bayar punya mu. Kamu bayar buat pacarmu aja,” tambah Hilmi.

Jujur saja, uangku tidak banyak waktu itu. Tapi aku juga tidak mau merepotkan Hilmi.

“Gak usah, Mi,” jawabku pelan.

Akhirnya, Hilmi tetap membelikan kaos Lombok dan gelang untuk oleh-oleh. Aku hanya bisa tersenyum, merasa beruntung memiliki teman yang begitu perhatian.

Nyaman atau Murah? Pilihan Ada di Tangan

Dari pengalaman ini, aku menyadari bahwa belanja oleh-oleh bisa menjadi pengalaman yang sangat berbeda, tergantung di mana kita memilih berbelanja.

Di pusat oleh-oleh modern seperti Sasaku, semuanya sudah tertata rapi, harganya pas, dan belanja jadi lebih cepat dan nyaman. Ini cocok untuk wisatawan yang ingin kepraktisan tanpa harus repot menawar atau berkeliling terlalu lama.

Sedangkan di Pasar Cakranegara, suasananya lebih panas, ramai, dan membutuhkan usaha lebih. Tapi di sini, harga bisa jauh lebih murah, barang lebih beragam, dan ada sensasi interaksi langsung dengan penjual lokal.

Akhirnya, semua kembali pada pilihan masing-masing. Jika ingin belanja dengan mudah, datanglah ke pusat oleh-oleh modern. Tapi jika ingin mencari harga lebih murah dan merasakan suasana lokal yang lebih autentik, pasar tradisional adalah tempat yang tepat.

Dan buatku? Pengalaman di pasar hari itu tidak hanya tentang belanja, tetapi juga tentang mengenal lebih dekat cara hidup masyarakat Lombok. Sesuatu yang mungkin tak akan kudapatkan hanya dengan berjalan di lorong-lorong ber-AC sebuah pusat oleh-oleh modern.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==