Berkonsepkan dunia alternatif, dalam Rumah yang memiliki 3 tingkatan yang merupakan alegori dari dunia nyata, Piranesi hidup di sebuah Rumah dengan 3 tingkatan. Tingkatan teratas dipenuhi dengan awan-awan dan kabut, tempat terjadinya hujan.
Tingkatan paling bawah adalah tempat dimana terjadinya pasang surut air laut, tempat vegetasi dan ikan-ikan laut berada. Lalu ada tingkatan yang berada diantara keduanya, di tingkatan itulah tempat dimana Piranesi tinggali dalam Rumah tersebut, tingkatan paling stabil dan aman bagi makhluk hidup.

Rumah labirin, dengan banyaknya lorong dan aula-aula besar, patung-patung yang menghiasi dinding dan lorong-lorong setiap ruangan, dan terdapat pula tengkorak sisa-sisa tanda kehidupan manusia sebelumnya.
Piranesi hidup sendiri dengan damai dan berkecukupan dengan apa yang bisa didapat dan diolah dari alam sekitarnya. Hingga suatu hari, sebuah misteri merubah keseimbangan dalam hidupnya. Dengan pengetahuan yang dimilikinya, dan kesadaran akan ketidaktahuan yang menakutkan, suatu misteri yang berkaitan dengan dirinya membuatnya sangat khawatir hingga muncul keraguan untuk mencari tahu lebih jauh dan memilih untuk mengabaikannya. Rasa acuh ternyata tidak selamanya menyenangkan.

Kisah Piranesi ini seperti bentuk gambaran konsep teori Plato “Allegory of the cave”. Dalam teorinya, Plato membahas tentang filosofi pikiran, bagaimana perbedaan sudut pandang berpengaruh pada bagaimana seseorang menerima sebuah kenyataan. Terlalu lama hidup dalam penjara Rumah labirin tersebut, mengubah psikis dan emosional Piranesi terutama pandangannya dalam melihat dunia. Ketika kembali kepada dunia yang seharusnya, dari ia berasal, dunia manusia, membingungkan baginya saat pertama kali kembali realita lain selain kehidupannya selama ini dalam Rumah tersebut.
Namun, dilihat dari sudut pandang lain, Rumah ini juga menjadi ‘sanctuary’ bagi setiap orang yang berada di dalamnya. Kebanyakan dari para ‘tamu’ merasakan kedamaian ketika mengunjungi Rumah labirin tersebut. Rumah labirin itu menjadi pelarian bagi setiap orang yang mengetahui keberadaannya, dan mereka yang ingin ketenangan jiwa, terlepas dari hiruk piruk kehidupan dunia, kembali kepada kedamaian yang disediakan Rumah labirin tersebut.

Buku ini mengajak kita untuk berpikir filosofis, Hal lainnya adalah mengajarkan untuk menerima, dan mengakui kesendirian itu sebagai bagian dari hidup, untuk tidak menghindarinya, dan bahkan untuk menikmatinya. Menjadikan kesendirian sebagai bentuk kehidupan yang damai dengan alam, dan bentuk syukur manusia dengan Sang Pencipta dan alam sekitarnya. Merenung merupakan bagian dari berpikir, yang menjadikan seseorang lebih bijak, jika renungannya tersebut berlandaskan akal, dan pengetahuan.
Judul Buku: Piranesi
Penulis: Susanna Clarke
Penerbit: Bloomsbury
Tahun: 2020
Tebal buku: 245 Halaman


