Saat itu aku pemegang medali emas badminton PON Cacat. Jika mereka jagoan kampung, kadang aku beri mereka angka lebih dulu, bisa 0 – 7 atau 0 – 10. Mereka hanya butuh 8 hingga 5 angka. Dari bertaruh itulah aku bisa melanjutkan perjalanan.

Pada 1990 – 1992, alhamdulillah, aku berhasil menyusuri 8 negara di Asia; Singapura, Malaysia, Thailand, Laos, Myanmar, Nepal, India, dan Pakistan. Hingga kini baru 20 negara ; Mesir, Saudi Arabia, UEA, Qatar, Jepang, Hongkong, Kamboja, Vietnam, Taiwan, Timor Leste, Jerman, dan Hong Kong.
Semua karena membaca dan menulis. Jika Bapak masih hidup – wafat 27 Desember 2007, pasti kaget melihat pergerakan dunia yang semakin cepat. Kita tidak perlu lagi risau dengan alat transportasi untuk bepergian. Segalanya bisa dipesan dari rumah secara on line. Begitu juga tempat menginap. Semuanya serba terhubung.
Pesan Bapak untuk mengeliling dunia – seperti Fogg di “Keliling Dunia Dalam 80 Hari” (Jules Verne) terus terngiang. Pelan-pelan aku mewujudkannya, karena aku memiliki keluarga dan kehidupan sosial yang lain – seperti Rumah Komunitas Rumah Dunia. Setiap mendapatkan rezeki, aku harus mendahulukan mereka dulu. Doakan saja, semoga Allah SWT memudahan segala rencanaku mengelilingi bumi ini. (Gol A Gong)

