Pernah Di-bully dan Disleksia, Rahayu SJ Kini Jadi ‘Sang Juara’

Oleh Sabrina Rb

Ada pepatah yang mengatakan bahwa karakter sejati dibentuk di tengah badai. Bagi Rahayu Suryaningsih, yang kini dikenal luas dengan nama pena Rahayu SJ, badai itu datang sejak ia kanak-kanak. Perempuan asal Simojayan, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang, ini bukanlah sosok yang terlahir dengan keberuntungan akademis. Ia adalah anak yang pemalu, pendiam, dan, yang paling parah, didiagnosis menderita disleksia—sebuah kondisi yang membuat kisahnya unik dan menguatkan.

Kisah hidup Rahayu SJ adalah narasi tentang bagaimana seseorang dapat mengubah label “bodoh” dan “korban bully” menjadi predikat “Juara” dan “mahasiswi terbaik” melalui kegigihan, tulisan, dan dedikasi pada prinsip hidup.

Masa Kelam dan Titik Balik Sang Juara

Masa kecil Rahayu diwarnai kesulitan membaca. Ia baru bisa membaca dengan lancar saat kelas 3 SD. Jauh sebelumnya, selama TK hingga kelas 3 SD, ia selalu duduk di bangku pojok kiri belakang, tidak memiliki banyak teman, dan bukan tipe murid yang dilirik guru. Rahayu bahkan pernah mengalami “naik kelas gantungan” saat kelas 1 SD. Status itu berarti ia akan diturunkan kembali ke kelas 1 jika tidak ada peningkatan akademik yang signifikan di kelas 2.

“Saya itu dulu memang sangat kurang sekali, karena ibu dan ayah saya itu sibuk bekerja. Jadi saya itu ya, ya udah, akhirnya belajarnya ya semaunya saya aja,” kenangnya.

Kondisi tersebut diperparah dengan perundungan (bullying) yang ia terima. Ia diolok-olok karena dianggap bodoh, tidak bisa membaca, dan bahkan karena bau badan. Nilai ulangannya kerap memprihatinkan; ulangan matematika hanya mendapat nol atau 15. Ia tumbuh sebagai pribadi yang pemalu, pendiam, tidak percaya diri, dan selalu merasa terpinggirkan.

Titik balik itu datang secara dramatis di kelas 4 SD. Setelah dileskan selama setahun di kecamatan sebelah, tiba-tiba ia berhasil meraih juara 3 sekelas.

“Waktu itu ibu saya menghampiri saya sambil nangis, sambil ngasih saya rapot. Ada piagam penghargaan peringkat ketiga. Itu benar-benar kayak, ‘Wah!’ Seumur-umur orang yang pernah di-bullying, enggak bisa baca, hampir enggak naik kelas… ternyata ketika kelas 4 dapat juara 3. Dan juara 3 itulah yang akhirnya mengubah hidup saya sampai hari ini,” kisahnya penuh haru.

Kemenangan itu menumbuhkan kepercayaan diri yang masif. Ia mulai berani mencoba banyak hal, bergabung dengan “geng” delapan anak terpintar di kelas, dan mulai dipercaya guru untuk mengisi tausiyah hingga lomba pidato.

Melahirkan Rahayu SJ: Misi Menulis dan Berbicara

Kepercayaan diri yang baru ini menyalur ke dua bakat utamanya: menulis dan membaca. Rahayu telah memulai journaling sejak kelas 2 atau 3 SD—jauh sebelum tren journaling dan manifesting menjadi viral seperti sekarang. Buku-buku journaling-nya masih ia simpan hingga kini, berisi segala macam perasaan dan harapan, bahkan mimpinya untuk membawa orang tua naik ke panggung wisuda.

Dari menulis dan membaca, ia merambah ke dunia monolog, teater, seni drama, dan baca puisi. Ketertarikannya pada dunia kata membawanya menerbitkan buku pertamanya, sebuah buku antologi puisi, saat ia kelas 9 SMP. Tulisannya masuk dalam 99 penulis terbaik.

Lahirnya nama Rahayu SJ sendiri berawal dari sebuah kegagalan pahit. Selama tiga tahun berturut-turut (kelas 4, 5, 6 SD), ia selalu gagal memenangkan lomba pidato FLS2N. Setelah kekalahan ketiganya, ia merasa lelah dan bertekad ingin menjadi juara. Momen kekalahan itu bertepatan dengan dibuatnya akun Facebook pertamanya.

“Saya mikir, ‘Oh, nama ini adalah doa ya. Saya pengin dari nama ini saya enggak mau kalah-kalah terus, saya maunya berhasil, saya maunya juara,’… Akhirnya saya buatlah nama itu di Facebook itu waktu itu: Rahayu Sang Juara,” ungkapnya.

Nama itu melekat, berevolusi menjadi Rahayu SJ saat pindah ke Instagram sekitar tahun 2016. Hingga hari ini, Rahayu SJ menjadi nama pena di semua karya, dari Instagram, YouTube, cerpen, novel, hingga buku.

Tanggung Jawab Kampung dan Ujian Terberat

Rahayu tumbuh dengan didikan orang tua yang sangat saklek terhadap pendidikan, prestasi, dan potensi diri. Ia adalah perempuan pertama di kampungnya yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi dan aktif berorganisasi.

Di Ngasek, kampungnya, mayoritas orang tua memiliki prinsip untuk berinvestasi pada tanah atau hewan ternak karena akan berlipat ganda, sementara investasi pada anak perempuan seringkali berakhir di dapur setelah menikah. Prinsip orang tua Rahayu berbeda: “Harus menjadi kunci, harus menjadi pembuka pertama untuk generasi di kampung saya… Kalau sampai kamu berhasil, kamu akan membuka jalan kepada banyak orang,” pesan sang ibu. Pesan itu membuatnya merasa memiliki tanggung jawab untuk tidak menikah setelah lulus SMA, demi menjadi role model.

Namun, tanggung jawab itu diuji oleh takdir terberat. Satu bulan setelah ia lulus SMA, ibunya meninggal dunia.

Mimpi Rahayu untuk kuliah di universitas bergengsi seperti UM atau UB, seperti teman-temannya yang kuliah di luar negeri atau kota-kota besar, harus lenyap. Ia memiliki adik laki-laki yang masih TK. Kuliah jauh dan ngekos akan meninggalkan ayah dan adiknya. Ia pun memutuskan untuk gap year selama satu tahun, berharap keadaannya akan berubah.

“Akhirnya ya sudahlah, saya buang mimpi untuk kuliah itu, UM ke UB, ya sudahlah, saya ngalir aja dulu,” tuturnya.

Enam bulan setelah gap year, ia ditawari bekerja sebagai guru di SMK dan SMP. Tiba-tiba, seorang guru mengajinya yang alumni Al-Qolam datang, memberitahu ada banyak beasiswa di sana.

Perjuangan Beasiswa dan Prinsip 5B

Setahun kemudian, Rahayu masuk ke Al-Qolam. Kampus yang kecil dan fasilitasnya yang kurang terawat membuatnya kaget setelah lulus dari SMA bergengsi. Selama satu hingga dua tahun, ia bahkan menyembunyikan identitasnya, malu untuk memberitahu orang lain bahwa ia kuliah di Al-Qolam.

Namun, ia teringat pada doanya: “Ya Allah, saya enggak mau ya kuliah ini bayar. Saya mau semua gratis, bahkan saya dibayar”.

Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) di sana menyediakan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP). Meskipun tidak memiliki surat keterangan tidak mampu, Rahayu yang pemberani menghadap ke resepsionis. Ia mengajukan 15 sampai 20 piagam atau sertifikat prestasinya sebagai bukti kompetensi. Upayanya disetujui, dan ia menjadi salah satu dari delapan penerima KIP.

Selama empat tahun di Al-Qolam, ia mengikuti banyak lomba, mengharumkan nama kampus, hingga akhirnya lulus dengan predikat cumlaude dan dinobatkan sebagai mahasiswi terbaik non-akademik di kampus. Ia telah memenuhi doanya, kuliah gratis dan dibayar.

Pengalaman hidupnya yang ekstrem, dari bawah hingga puncak prestasi, membentuk filosofi hidupnya yang dikenal sebagai Prinsip 5B:

  1. Beriman: Memiliki iman sebagai fondasi menjalani kehidupan.
  2. Bebas: Memiliki pekerjaan yang tidak mengekang dan memungkinkannya bertemu banyak orang dan bepergian, sejalan dengan jiwa ekstrovert-nya.
  3. Bermanfaat: Menjadi manusia yang paling bermanfaat untuk orang lain, sekecil apa pun kontribusinya.
  4. Berilmu: Terus menambah ilmu dan adab, agar dapat menularkan sesuatu dengan dasar ilmu, bukan asumsi pribadi.
  5. Beruntung: Menjadi orang yang beruntung secara finansial, lingkungan, dan sosial.
Napas Kehidupan: Mengubah Orang Lain

Saat ini, Rahayu SJ menuangkan passion dan ilmunya ke dalam berbagai bisnis dan kegiatan. Sejak 2019, ia mendirikan Author SC, yang awalnya hanya jasa penulisan caption dengan bayaran pulsa Rp5.000. Kini, Author SC merambat ke jasa ‘ramu kata’ (bimbingan skripsi, cek plagiasi, layout makalah, hingga penulisan pidato) dan ‘ramu desain’ (CV, poster, banner). Orderannya kini mencapai ratusan hingga jutaan rupiah.

Selain itu, ia juga membuka jasa unik bernama “Rahayu Temani Kamu”. Jasa ini memungkinkan klien untuk sekadar ngobrol, didengarkan, ditemani makan, atau meminta saran selama dua jam. Kegiatan-kegiatan ini, termasuk sebagai Duta Genre yang berinteraksi dengan anak SMP/SMA, adalah perwujudan jiwa ekstrovertnya dan jurusan komunikasi yang ia pelajari.

Meskipun pekerjaannya hari ini sangat ia nikmati dan sesuai dengan passion-nya, cita-cita terbesarnya adalah menjadi seorang dosen.

“Menjadi seorang dosen itu kan dia masuk ke dalam pendidikan yang ibaratnya saya akan mendidik calon-calon orang-orang yang akan menjadi sesuatu yang lebih besar dari diri mereka,” jelasnya.

Bagi Rahayu, mengubah hidup orang lain telah menjadi napas kesehariannya, entah melalui program KIRA (Komunitas Insan Remaja Ampelgading) yang ia jalankan, atau sekadar berbagi quotes di saluran media sosialnya. Ia percaya bahwa kita tidak bisa memilih dilahirkan dari rahim dan keluarga seperti apa, tetapi kita bisa memilih mati dalam keadaan seperti apa.

“Hidup ini hanya sekali. Saya enggak akan lewat jalan ini dua kali. Jadi kalau ada kesempatan untuk jadi yang lebih berarti dan lebih bermanfaat untuk orang lain, jangan di-sia-siakan dan jangan tunggu nanti, karena kita enggak pernah tahu kehidupan ini sampai kapan,” tutupnya.

Rahayu SJ adalah bukti nyata bahwa keterbatasan di masa lalu, bahkan sebuah disleksia dan kegagalan beruntun, bukanlah takdir permanen. Itu adalah fondasi untuk membangun identitas diri yang kuat, berkomitmen pada ilmu, dan bertekad menjadi pribadi yang passion, mumpuni, dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang.

Tentang Penulis

Saya adalah mahasiswa Universitas Al-Qolam Malang yang mengabdikan diri melalui khidmah di Pondok Pesantren Darurrohman hingga saat ini. Di tengah keriuhan dunia, saya memilih mencintai kesunyian sebagai ruang kreatif untuk menemukan inspirasi dan melahirkannya kembali dalam bahasa saya sendiri. Bagi saya, pengabdian dan keheningan adalah jalan untuk menemukan makna hidup yang lebih dalam.

 TOKOH KITA Tayang dua minggu sekali, gantian dengan ESAI, tayang setiap hari Kamis. Antara 1000 – 1500 kata. Jangan lupa 4 foto plus foto penulis dengan tokoh kita. Ada honorarium Rp100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling. 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==