Persoalan Generasi Sandwich Dalam Film Home Sweet Loan

Saya sempat mendengar resepsionis berkata bahwa film Home Sweet Loan sudah penuh kursinya. Untung saja saya sudah membeli tiket lewat aplikasi. Meski ada tambahan biaya, opsi pembelian tiket online ini cukup menguntungkan. Tempat tinggal saya cukup jauh, jadi sayang sekali kalau sampai tidak kebagian tiket atau menunggu waktu penayangan berikutnya.

Film Home Sweet Loan pun ditayangkan. Film ini sebenarnya diangkat dari novel best seller berjudul sama karya Almira Bastari. Saya belum sempat membaca novelnya meski sudah sering lihat. Jadi, selain sinopsis singkat yang saya dapat di internet, saya tidak tahu banyak soal alur cerita Home Sweet Loan. Mungkin saja hal itu akan memberi kesan kejutan bagi saya ketika menonton filmnya.

Secara singkat, Home Sweet Loan bercerita tentang seorang perempuan bernama Kaluna. Ia adalah anak terakhir dari tiga bersaudara yang tinggal di sebuah rumah kecil dengan seluruh anggota keluarganya. Dengan keadaan rumah yang penuh sesak dan tak jarang membuat Kaluna kehilangan ruang pribadi, ia bermimpi memiliki rumah sendiri.

Sayangnya saat ini, memiliki hunian baru bukanlah hal yang mudah. Dengan gaji yang pas-pasan, Kaluna masih harus menolong ekonomi keluarganya. Pada masa sekarang, apa yang dialami Kaluna kerap disebut sebagai sandwich generation. Generasi sandwich adalah istilah bagi orang-orang usia dewasa yang harus menanggung hidup tiga generasi: orang tua, dirinya sendiri serta anak/anggota keluarga yang lain.

Saat ini, generasi sandwich memang menjadi perbincangan banyak orang. Kondisi perekonomian yang tidak stabil, standar upah yang rendah hingga harga barang dan properti yang semakin melonjak membuat masyarakat kelas menengah ke bawah menjadi sangat rentan. Isu inilah yang menyebabkan film Home Sweet Loan bisa relevan bagi banyak orang.

Menurut saya, film Home Sweet Loan memang mampu menggambarkan permasalahan masyarakat kelas menengah, termasuk generasi sandwich dengan baik. Penonton bisa dengan mudah larut dalam pergolakan emosi yang dirasakan Kaluna. Banyak penonton yang akhirnya berlinang air mata, termasuk saya sendiri. Bahkan ada momen ketika separuh penonton berdecak kesal secara bersamaan karena melihat perlakuan yang diterima Kaluna.

Saya banyak menemukan detail – detail sederhana namun esensial di film ini seperti kondisi rumah, karakter keluarga hingga dialog yang membuat sosok Kaluna seperti dekat dengan hidup saya. Saya rasa itu memang menjadi faktor penting dalam film yang mengangkat tema keluarga.

Hal lain yang saya sukai dari film ini adalah bumbu romansa dan pertemanan yang porsinya pas, tidak ditampilkan berlebihan namun memberi warna yang tepat pada alur cerita. Meskipun kondisi keluarganya bikin mumet, Kaluna memiliki para sahabat yang selalu memberi dukungan. Tentu saja hal itu menjadi penyegaran di tengah-tengah problema keluarga yang keruh sehingga film ini tetap menarik hingga akhir. Meski bisa menguras air mata, unsur komedi di film ini sangat menghibur.

Apakah Kaluna berhasil mendapat rumah impiannya? Atau jangan-jangan kita juga sedang menghadapi apa yang dilalui oleh Kaluna? Akhir kata, saya sendiri sangat merekomendasikan film Home Sweet Loan bagi semua kalangan. Filmnya menyentuh, menghibur dan sarat akan pesan penting.

LAYAR BIOSKOP: Resensi film di Layar Bioskop, harus orisinal. Terbit 2 mingguan, setiap Kamis, gantian dengan FIKSI MINI. Penonton harus terhubung langsung dengan filmnya. Hindari definisi-definisi, upayakan ada detail suasana bioskop dan penonton. Teknik menulis travel writing sangat ditunggu. Lengkapi dengan foto selfie dengan poster film, suasana lobby bioskop, dan tiket bioskopnya. Panjang 500 hingga 700 karakter. Honor Rp. 100 ribu dari Honda Banten. Terbit tiap Kamis. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dengan subjek Layar Bioskop

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==