Hari raya yang seharusnya dinikmati dengan rasa bahagia sepenuh hati justru menjadi hari penuh kekhawatiran di pikiran. Khawatir akan serangan yang tiba-tiba menghadang, khawatir akan tembakan di saat-saat tenang, dan khawatir akan kehilangan orang tersayang. Pada 20 Maret 2026, warga Palestina kembali merayakan Idulfitri di tengah konflik berkepanjangan. Mereka melaksanakan salat id di jalanan kota dengan pemandangan reruntuhan bangunan. Hal ini dikarenakan adanya larangan untuk melaksanakan salat di masjid Al Aqsa. Padahal masjid tersebut masih menjadi wilayah mereka sebelumnya.
Sedih jika melihat permasalahan tersebut, tanah mereka dicuri dan tidak lagi memiliki hak untuk sekadar melaksanakan ibadah di hari yang suci. Namun, di balik duka tersebut, banyak warga yang masih melakukan ibadah dengan khidmat. Saling merangkul dan memberikan senyuman, meski air mata masih sempat jatuh di antaranya. Permasalahan ini harus terus menjadi pengingat bagi seluruh manusia untuk mensyukuri yang masih ada dan untuk tetap berdiri membela mereka. Baik dengan mengirimkan berbagai macam bantuan berupa donasi, menyuarakan isu, dan mendesak rakyat dunia untuk melakukan aksi dalam merebut kembali tanah yang dicuri.

Link Berita: https://www.antaranews.com/video/5489626/lebaran-di-gaza-antara-duka-dan-harapan-yang-ter sisa

Di bawah matahari yang berbinar
Ada banyak raga yang berpayung sabar
Di tengah ribuan tenda yang berjajar
Ada banyak jiwa dengan luka besar
Sudah bukan lagi tahun pertama
Hari Raya Idulfitri berlangsung seadanya
Di tengah situasi yang menyita cahaya
Mereka hanya bisa beribadah di atas jalanan
di samping reruntuhan bangunan
dan di bawah naungan awan
Mereka hanya bisa menikmati hari dengan sederhana
dengan tawa dan air mata
dengan sisa-sisa bahagia di balik duka
Tidak ada pernak-pernik mewah
Cukup berharap agar esok mentari masih cerah
Tidak ada makanan-makanan impian
Cukup berharap agar tidak kelaparan
Sorot wajah mereka seolah mengartikan
tentang luka-luka yang belum disembuhkan
tentang kehilangan-kehilangan yang direlakan
tentang harapan-harapan yang senantiasa dilangitkan
tentang permintaan-permintaan akan bantuan
Beberapa kali mereka menangis
Ketika dinding-dinding itu dihancurkan
Beberapa kali mereka kembali tersenyum tipis
Ketika Tuhan masih memberi mereka kehidupan
Tidak seharusnya tempat-tempat mereka direbut
Padahal mereka tak pernah memulai ribut
Tidak seharusnya hari kemenangan dihantui ketakutan
Padahal mereka hanya ingin merayakan dengan aman
Kapan situasi ini kembali membaik?
Sudah terlalu lama mereka merasakan pelik
Kapan situasi ini dapat mereda?
Sudah terlalu lama air mata mengalir tanpa menemukan muaranya
Kapan para penuri bisa sadar dengan segera?
Sudah terlalu lama tanah indah ini direbutnya
Banyak raga yang sudah lelah dengan perang
Banyak jiwa yang sangat merindukan tenang
Banyak kehilangan yang merindukan keberadaan
Banyak cinta yang menantikan bahagia
Banyak luka yang mengharapkan reda
Ada kaki-kaki kecil yang berharap bisa bebas bermain lagi
Ada tangan-tangan cantik yang berharap bisa memasak hidangan lezat kembali
Ada tubuh-tubuh kekar yang berharap bisa bekerja tanpa khawatir di hati
Ada kepala-kepala cerdas yang berharap bisa berkarya tanpa terhalang situasi
Kesimpulannya,
kami hanya rindu
pada sang waktu
kami hanya meminta
semua berujung lega
kami hanya berharap
tak ada lagi gelap
Akan tetapi,
apa semua bisa?
apa mereka tersadar semua?
apa akhir indah bisa kembali menyapa?
apa kami bisa kembali merasakan bahagia tanpa takut di kepala?
apa dunia mampu membantu kami sebaik-baiknya?
atau justru mereka semua pura-pura buta?
atau justru mereka semua pura-pura tak mendengar apa-apa?
atau justru mereka asyik sendiri dengan hidupnya?
Tentang Penulis:

Adira Putri Aliffa seorang perempuan yang gemar menyuarakan isi perasaan dan pikiran lewat tulisan. Sedang senang-senangnya berkarya di Instagram @perahuteduh, menulis artikel di berbagai media, menulis cerita di buku harian, dan menyelami berbagai hal baru di industri kreatif.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



