Puisi Esai Gen Z: Luka di Bawah Temaram Senja Karya Adira Putri Aliffa 

Sedih sekali rasanya jika tempat belajar justru menjadi tempat munculnya luka dan trauma besar. Begitulah yang dirasakan oleh santriwati di sebuah pondok daerah Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Pada Januari 2026, terdapat laporan bahwa seorang pimpinan pondok pesantren diduga memperkosa santriwatinya. Tindakan pelaku dilancarkan dengan kedok “membersihkan rahim” korban.

Tidak hanya itu “kekuasaan” yang dimiliki pelaku sebagai pemimpin dimanfaatkan agar menuruti perintahnya. Bahkan, pemimpin pondok tersebut sudah memberikan klarifikasi kepada para jemaah sebelum kasus ini dibahas.

Pelaku menyampaikan bahwa suatu saat nanti akan ada yang menyebarkan fitnah kepadanya. Ternyata bukan hanya mengontrol, tetapi pelaku juga sudah melakukan manipulasi emosional dan spiritual untuk menutupi perbuatannya. Kasus ini masih terus diusut tuntas untuk menegakkan keadilan. 

Semburat senja yang indah itu perlahan berubah menjadi gulita 
Warna jingga yang tadinya mendominasi angkasa 
Kini mulai menghitam tanpa banyak bicara 
Hari ini semesta terlihat sedikit tidak biasa 
Ada hawa sendu di balik semilir angin yang menyapa 

Dari kejauhan terlihat seorang gadis bertudung 
Ku lihat wajahnya yang sangat murung 
Padahal pagi tadi senyumnya seindah bulan sabit 
Tapi petang ini dia terlihat seperti menahan rasa sakit 
Entah apa yang ada di kepalanya 
Entah apa yang sebenarnya dia rasa

Mulutnya terlihat ingin mengucap sesuatu 
Tetapi waktu seolah menyuruhnya untuk menunda dahulu 
Matanya terlihat ingin meluapkan pilu 
Tetapi tanggung jawab seolah menyuruhnya untuk terus melaju 

“Aku harus tetap belajar apapun yang terjadi,” ungkapnya pelan dan sedikit gemetar Entah apa yang sebenarnya ditahan 
Entah apa yang sebenarnya ingin dibicarakan 
Dia terus berjalan menuju ke tempat pulang satu-satunya saat itu Tempat dirinya menimba ilmu agama sejak dahulu 

Saat langkah kakinya mendekati pintu kamar 
Dari lain arah, seketika datang sosok berbadan besar 
“Mau istirahat?” ucap sosok itu tersenyum lebar 
Gadis itu hanya mengangguk dan tangannya semakin gemetar 

Sesegera mungkin gadis itu melangkah masuk tanpa kata 
menutup pintu, menguncinya, dan mengucap doa 
“Tuhan, lindungi aku hari ini, jangan sampai kejadian itu terulang kembali” gumamnya sambil meneteskan air mata berkali-kali 

Gadis itu mencintai tempat yang saat ini ditinggali 
tempat yang mengajarkannya ilmu untuk amalan di surga nanti 
tempat yang mengajarkannya budi pekerti 
tempat yang mengajarkannya untuk menjunjung tinggi rasa empati tempat yang membuatnya menanam banyak mimpi dan asa 
tempat yang membuatnya mencintai takdir Tuhan setiap harinya Namun, tempat itu berubah menjadi tempat menyeramkan 

seperti halnya penjara bawah tanah 
seperti halnya palung tergelap sedunia 
seperti halnya jurang pengancam nyawa 
seperti halnya kuburan yang menenggelamkan suara 

Saat gadis itu sibuk dengan pikirannya
Ternyata sosok menyeramkan itu masih mengintip di jendela 
Memberikan senyuman yang entah apa artinya 
Ingatan-ingatan tentang kejadian menakutkan kembali terputar di kepala Kejadian yang menciptakan luka, trauma, dan pertanyaan “mengapa?” 
Sosok itu pergi perlahan, 
tapi tindakannya masih membekas di ingatan 
tapi kuasanya masih menyisakan ancaman 

“Akankah kenyataan ini harus aku suarakan? 
“Apakah aku punya keberanian untuk melaporkan?” 
“Apa yang akan terjadi jika aku mengungkapkan kejadian saat itu?” 
“Akankah orang-orang memercayaiku?” 
“Atau justru orang-orang lebih memercayai sosok itu?” 
“Sudah sejauh apa ya dia meyakinkan orang-orang di sekitarnya?” 
“Sudah sedalam apa manipulasi cerita yang diberikan kepada dunia?” 

Ada banyak kekhawatiran yang menghujaninya setiap malam 
tentang hari-hari yang kelam 
tentang mimpi-mimpi yang tenggelam 
tentang keraguan-keraguan untuk kembali terang 
tentang tindakan-tindakan untuk bisa menang 

Link:

https://www.detik.com/bali/hukum-dan-kriminal/d-8331862/pimpinan-ponpes-di-lombok-timur-per kosa-2-santriwati-modus-bersihkan-rahim 

https://www.detik.com/bali/nusra/d-8334628/iqbal-kecam-kekerasan-seksual-oleh-pimpinan-pon pes-di-lombok-timur?page=2

Tentang Penulis:
Adira Putri Aliffa, mahasiswi sastra yang gemar berenang di lautan kata-kata. Sudah hampir tiga tahun belajar untuk berenang dengan berbagai macam gaya di samudera yang berbeda-beda. 

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==