Puisi Esai Gen Z: Luka yang Tak Pernah Dibalut

Puisi Esai Gen Z karya Odertus Tebai – Duta Puisi Esai Papua 2024

(Pada 6 Juli 1998, telah terjadi tragedi kemanusiaan di Tanah Papua, yaitu peristiwa Biak Berdarah. Sudah 26 tahun pula telah berlalu tanpa adanya upaya penyelesaian yang memberi keadilan bagi para korban, termasuk pemulihan sebagai akibat dari kerugian dan penderitaan yang mereka alami. Negara seakan berupaya untuk mengubur rekam jejak kelam ini sebagai masa lalu yang tidak perlu diungkit kembali. Peristiwa ini bermula dari aksi damai yang telah berlangsung sejak 2 Juli 1998. Akan tetapi, aparat militer dan kepolisian setempat justru menyikapi aksi ini dengan menggunakan kekerasan. Aparat melakukan penyerangan terhadap para massa aksi hingga mengakibatkan warga sipil menjadi korban.)

oOOo

Di Biak, 6 Juli itu berjejak,
Angin membawa cerita duka ke seluruh penjuru.
Aksi damai yang lahir dari harap,
Berakhir di bayang peluru dan jerit pilu.

Rakyat berkumpul, menyuarakan hidup,
Namun aparat datang membawa maut.
Penjaga negeri menjadi pemburu,
Menyapu manusia yang hanya ingin didengar.

150 jiwa ditawan di jeruji sunyi,
37 tubuh terkoyak oleh senjata api.
Delapan nyawa lenyap di tanah sendiri,
Tiga lainnya hilang, jadi bagian dari misteri.

Laut Biak menyimpan rahasia kelam,
32 tubuh mengambang tanpa nama.
Nelayan bersaksi, angin membisikkan cerita,
Tapi negara memilih tuli di tengah duka.

Komnas HAM bicara, namun suara terhenti,
Rekomendasi hanya angin di antara undang-undang.
Impunitas menjadi tembok tinggi,
Melindungi pelaku, menelantarkan korban.

Dua puluh enam tahun berlalu,
Namun keadilan tak kunjung tiba.
Reformasi hanya kata-kata kosong,
Di Papua, luka tetap bernyanyi dalam senyap.

Biak, tanah ini saksi duka,
Mengapa wargamu dipandang sebagai musuh?
Dari empat penjuru arah datang serangan,
Seolah mereka bukan warga, tapi ancaman.

Para pemimpin, dengarkan jerit pantai ini,
Mereka bukan angka di atas laporan mati.
Mereka adalah manusia, bagian negeri,
Di mana hak asasi yang kau janjikan berdiri?

Praktik militerisme melilit tanah ini,
Bersenjata rasisme, merampas yang tersisa.
Hutan Papua menjadi saksi bisu,
Kekayaan dieksploitasi, rakyat dilucuti.

Biak bukan masa lalu,
Ia luka yang menganga di hari ini.
Bersama Wasior, Wamena, Abepura, dan Paniai,
Semua cerita berpadu dalam nyeri.

Di manakah hukum, di mana keadilan?
Mengapa undang-undang tak menjamah Papua?
Apakah rakyat di sini hanya bayang-bayang,
Yang terlupakan di bawah kuasa negara?

Para pemimpin, jangan lagi menunda,
Tuntaskan luka Biak dengan keadilan.
Hentikan militerisme, dengarkan manusia,
Bangunlah damai melalui dialog, bukan senjata.

Biak, kau pantai yang menangis,
Dari setiap ombakmu terdengar doa.
Bagi mereka yang hilang, bagi mereka yang pergi,
Dan bagi Papua, tanah yang terus berharap merdeka dalam hak asasi.

Dogiyai,19 Desember 2024

CATATAN KAKI:

[1] Orang mengalami luka-luka, 8 orang meninggal dunia, dan 3 orang dinyatakan hilang. Terdapat pula 32 mayat misterius mengambang di perairan Biak, yang diduga kuat berkaitan dengan peristiwa ini melalui kesaksian seorang nelayan.

https://kontras.org/media/siaranpers/alleyesonpapua-26-tahun-tanpa-keadilan-dalam-tragedi-biak-berdarah-dan-langgengnya-impunitas-di-papua

TENTANG PENULIS: Odertus Tebai – Duta Puisi Esai Papua 2024. Lahir di Mauwa, 14 Januari 2006. siswa SMA yang bersemangat dan penuh tekad. Ia berasal dari Papua pegunungan dan saat ini merantau ke jayapura untuk menempuh pendidikan di SMA Gabungan Jayapura ke putusannya untuk merantau tidak hanya didorong oleh keinginan untuk mengejar pendidikan yang lebih baik, tetapi juga untuk mengembangkan dirinya dalam lingkungan yang berbeda.

PUISI ESAI GEN z: Puisi Esai Gen Baru ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Bagaimana kalau lingkungan, politik, atau kritik sosial ke penguasa? Boleh saja asalkan ada fakta dan sertakan link beritanya. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Baru. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==