Heri Maja Kelana
Di Kursi No 15 (Seperti Biasa Kau Duduk Sendiri Sambil Membaca Buku Jostein Gaarder)
“keyakinananmu tentang ide yang tak pernah mati, ada benarnya juga. tapi, bukankah ketika ide tidak ada yang melanjutkan akan mati?”
seperti biasa, aku selalu menghampirimu di sore sepulang kerja di kafe jalan braga. mendiskusikan jan olav, ayah kandung georg yang menulis surat sangat panjang
untuk georg. dan kau seperti terinspirasi oleh novel gadis jeruk yang belum tuntas
dibaca. mendiskusikannya denganku tentang persoalan rumah tangga. persoalan
yang membuat kita lupa akan memesan apa di kafe ini. katamu,
“pertemuan antara kau dan aku bukan sebuah kebetulan” lantas persoalan
rumah tangga seperti apa yang akan kau sampaikan padaku? bagiku semua
hanyalah kebetulan semata. jan olav bertemu dengan gadis jeruk di trem, begitu
pula denganmu yang bertemu denganku di depan gedung lanraad. juga senyummu
yang mistik di sore itu padaku. semua itu hanya kebetulan. mungkin ide yang merencanakan
semua cinta, seperti yang kau katakan di awal diskusi ini. dan kau lebih percaya cerita-cerita
gaarder daripadaku. maka selesaikanlah novel yang kau baca dulu, baru kita diskusi kembali.
###


Heri Maja Kelana
Metropolitan City of Joy
katakanlah (jam) bukan lagi sebagai petanda waktu
maka tak ada gunanya detik dan menit. tidak pernah ada pula rencana
atau mungkin juga cinta. sebab, ketika menengok kebelakang
ke abad 19, ada sebuah kota yang dibangun oleh cinta
di mana setiap paviliun letaknya sejajar rapi. namun pada kesempatan lain,
cinta sepertinya bukan lagi bagian di kota ini. maka yang ada hanyalah
akar-akar merambat, membentuk lukisan tak simetris. mempertontonkan
hilir mudik manusia urban, di mana ia (manusia urban) lupa dengan jam
masih kutulis braga dikesekian puisi-puisiku. dan ini bukan tentang perempun
atau eksotiknya lampu-lampu malam. ini tentang kota yang lupa (jam), detik
dan menitnya tidak ada gunanya sama sekali.
###


Heri Maja Kelana
Kapan Selesai?
bagaimana, sudah kau selesaikan novel gaardermu?
sebenarnya ada yang lebih penting dari novel gaardermu itu
mungkin bencana yang tak henti-hentinya di negeri ini, atau anak-anak
yang berkeliaran di sini, di jalan braga ini. anak-anak yang berkeliaaran ini
tidak paham filsafat juga sains. ia tidak pernah dibacakan buku-buku bergambar
sebelum tidur. apalagi mengenal cinta. sebab cinta baginya adalah donat rasa tiramisu
yang hanya dapat ia pandangi dari luar etalase kaca.
anak-anak itu tidak mengenal kosakatamu yang puitis. bahkan ia belajar berbahasa
bukan dari sekolah, melainkan dari kejamnya kota ini. kapan kau selesaikan novel gaardermu?
supaya kita berada di antara anak-anak itu. memandang kota ini dengan apa adanya.
###


Heri Maja Kelana
De meest Eropeesche winkelstraat van Indie
seperti seseorang yang kehilangan wajah aslinya, maka ia membuat lukisan
di tubuhnya. lukisan yang hanya memberikan kabar sementara. sebelum
malam, kembali meleyapkannya. maka begitulah wajahmu sekarang, hilang akar
hilang kepercayaan diri.
lalu siapa akan datang membelai dan merindukanmu di sore yang gerimis lagi? selain
kisah dari buku haryoto kunto. atau dari para penyair yang asik dengan gadis dan eksotis
malam di braga. begitulah aku memandangmu sekarang.
###


Heri Maja Kelana
Ketika Hujan Reda, Aku Masih Memegang Tanganmu di Jalan Braga
ketika hujan reda, kita pernah berduaan di jalan braga
ingatan itu masih terasa. bahkan sangat terasa ketika jauh dari kota ini
kota di mana segala bahasa tersimpan di puisi. puitis. sangat puitis.
ketika hujan reda, waktu itu, aku masih ingat dengan senyummu
senyum yang kau tampilkan untuk kesekian kalinya. yang membuat aku jatuh
cinta kembali.
ketika hujan reda, aku masih memegang tanganmu di jalan braga
dan kupegang dengan hati
hati
semuanya tumbuh begitu saja
sebab di braga, pada waktu itu, kita seperti sepasang kekasih
yang lupa cara menanam bunga di halaman rumah sendiri.
###


TENTANG PENULIS: Heri Maja Kelana, lahir di Majalengka. Tulisan berupa puisi, esei, resensi film dipublikasikan di media lokal maupun nasional di antaranya, Pikiran Rakyat, Bali Post, Lampung Post, Republika, Media Indonesia, Kompas, Seputar Indonesia, Radar Banten, Priangan, Majalah Esastra Malaysia, Majalah Bahana Brunei, Majalah Sastra Pawon, Jurnal Deras, Rurnal Rakata, Majalah Sastra Horison, basabasi.co, dll. Serta tergabung dalam Antologi Puisi seperti Kutaraja Banda Aceh, Tanah Pilih (Temu Sastrawan 1), Pedas Lada Pasir Kuarsa (Temu Sastrawan 2), Tangga Menuju Langit (MPU 3), Antologi Puisi Pertemuan Penyair Nusantara 3 Malaysia, Wajah Deportan, Antologi puisi Menulis Puisi Kembali MSB, Antologi puisi di Kamar Mandi (penulis muda Jawa Barat) Antologi Disbudpar Jawa Barat, Akulah Musi (Pertemuan Penyair Nusantara 5) dll.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : golagongkreatif@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000 dari Puisi Esai Network. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya.

SEGERA TERBIT PUISI MINGGU EDISI 22/I/2 JUNI 2024:


