Hingga kini, saya tetap berkeyakinan panggilan hidup sebagai penganut Katolik (mungkin, sama halnya dengan penganut agama lainnya) adalah panggilan hidup kepada kekudusan diri. Di sini, upaya untuk selalu berbenah adalah kewajiban. Sebab sejak lahir saya tak langsung tahir dari dosa asal yang melekat pada diri, dan setelah dibersihkan dengan berkat sakramen permandian, kehidupan saya tetap mengalir dalam arus waktu yang penuh godaan dan tantangan atas pilihan yang saya ambil. Niat berbuat baik adalah harapan dan upaya terus menerus di tengah kenyataan yang sering tidak baik-baik saja.

Saya kemudian belajar menemukan salah satu cara untuk menjawabi panggilan hidup saya. Cara itu adalah berpuisi. Saya belajar mengejawantahkan panggilan hidup itu dengan jalan: berpuisi. Alasan memilih puisi sebagai cara jawaban panggilan hidup adalah inspirasi Kitab Suci. Melalui Kitab Suci, saya menemukan inspirasi seperti Mazmur Daud yang megah menjadi doa bagi Tuhan. Bagi saya berpuisi tak sekadar meramu kata indah untuk dibaca tetapi ungkapan doa untuk diamalkan.
Mengamalkan puisi di dalam hidup pertama-pertama adalah cara membenahi diri saya sendiri dari waktu ke waktu. Saya menyadari bahwa diri saya cenderung abai dalam menjalani hidup. Puisi menjadi ruang pengakuan bagi saya untuk menjadi diri yang lebih baik.
Sebagai penganut Katolik, setiap tahun saya juga mengalami masa Prapaskah. Prapaskah merupakan masa tirakat umat kristen menjelang hari raya Paskah. Selama 40 hari, masa Prapaskah dimulai pada hari Rabu Abu dan berakhir kira-kira enam pekan kemudian, sesudah matahari terbenam pada hari Kamis Putih atau Sabtu Suci (Malam Paskah). Tujuan masa Prapaskah adalah persiapan umat beriman Kristiani menyambut Paskah melalui berpuasa, doa, pantang, tobat dosa, sedekah, hidup sederhana, dan penyangkalan diri.
Di masa Prapaskah ini, saya berpuisi untuk masuk ke dalam ruang pengakuan diri saya sendiri. Menyadari dan mengakui salah dan khilaf yang sudah saya lakukan selama ini, membuka hati dan budi untuk bertobat, menghentikan kebiasaan-kebiasaan hidup yang cenderung merugikan diri sendiri pun orang lain, dan mulai berbenah diri untuk pantas beramal bagi sesama di sekitar saya.

Saya berpuisi di masa puasa, untuk beramal lewat berpuisi. Sekiranya puisi yang saya tulis, tak serta merta menjadi jaminan keselamatan dan kebahagiaan bagi semua, sebab tidak semua pribadi menemukan puisi sebagai jalan hidupnya. Tapi saya merasa cukup layak untuk beramal ketika saya berpuisi.
Jadi silakan nikmati, puisi-puisi saya tentang Prapaskah. Luruskan jalan bagi puisi masuk ke relung pengamalan Prapaskahmu, semoga kau semakin merasakan sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus, sebagai jalan, kebenaran dan hidup. ***


Mario D. E. Kali
Prapaskah, 1
Tuhan mengajak kita sejenak berteduh
di bawah payung kesadaran utuh
“yang berasal dari tanah akan kembali kepada tanah”
dari sekian banyak kata dan tingkah yang salah, meringkas puisi jadi doa adalah sebuah kepulangan meringkus diri dalam tobat.
Tuhan mengajak kita berteduh sejenak di bawah jubah kehendakNya:
“Jamahlah jubahKu, sebab kalian tak tahu apa yang telah kalian katakan dan kalian perbuat”
dari segala macam perkara, memerah kirmizi dosa adalah darahNya yang mengucur menjelang Golgota.
Sebelum empat puluh hari berakhir,
Sebelum sengaja melupa mengakhiri,
marilah kita turut ajakan Tuhan,
di sana hidangan puisi adalah kerahiman.
(Maumere, 17 Maret 2019)

Mario D. E. Kali
Prapaskah, 2
Seorang anak manusia
berpakaian rapi
berwajah kumuh tampak sedih
berjalan gontai
menuju kapela
Seperti seekor domba putih
keluar dari kubangan tubuhnya penuh lumpur
ia ingin dimandikan dengan air berkat dan doa
Setelah ia masuk ke dalam jurang nista terlalu dalam
ia ingin mereguk nikmat tobat
Di masa keheningan ini,
Ia ingin pulang kepada jalan kebenaran dan hidup.
(Sewowoto, Februari 2024)

Mario D. E. Kali
Prapaskah, 3
Minggu Sepi
Nella fantasia mengalun di sabtu malam yang kelabu
Memeluk sukmaku dalam sajak:
Aku mendengar bunyimu
Kau tak mendengar bisikku.
Di sini berisik sembunyi,
Dan kita sepi minggu ini.
(Sewowoto, 2024)

Mario D. E. Kali
Si Lazarus Miskin Mati Di Tanahku Yang Mati
Tanahku yang subur ini sungguh telah dihuni oleh semakin banyak makhluk benda mati, sehingga ia tampak mati rasa peduli pada kaum miskin.
Lalu apakah aku harus menghidupkan semua itu dengan sebait puisi?
Mampukah terjadi mukjizat
saudara Lazarus yang sedang diratapi sendiri oleh kedua saudarinya mengalami kebangkitan pada hari ketiga?
Bangkit dari antara orang-orang tanah ini yang malas pas doa tapi rajin tiap main tujuh daun di rumah duka?
Di tanahku, yang mati ini
Lazarus dalam warta sukacita
Bukan lagi bibir menjajal cibir maki
Bukan juga kaki tangan menebar laku luka.
Mampukah jadi hikmat
Bapa mencintai anaknya yang hilang?
Di tanahku, kota mati ini
Bau busuk kotor persaingan politik ekonomi
Tiada lagi disebarkan
lewat selokan samping rumah.
Kota ini, mati
dan kini harus bangkit menuju makmur yang abadi.
Ohhhh, kawan,
Ini harapanku
Biarlah kudendangkan sebagai lagu indah
membangun tidur lelapmu.
(Kinbana, 29 Juli 2019)

Mario D. E. Kali
Menatap Yesus di Salib
Hatiku amat sedih
Menatap Yesus di salib
bermahkota duri
berlumuran darah
Tangan dan kakiNya yang murni
ditusuk paku
LambungNya yang suci
ditombak sembilu
Ingin aku menangis
Sebab semua itu terjadi
Karena salah dan dosaku yang bengis
Manusia yang alpa berbuat kasih
Tapi Yesus tersenyum padaku
Ia hibur hatiku
terpancar pula cahaya KerahimanNya
dari luka-luka di tubuhNya.
Aku bahagia
Aku bersyukur
Ingin terus menatap
wajah Yesus di Salib
(Sewowoto, Februari 2024)


PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,-. Sertakan nomor WA, nama bank dan nomor rekeningnya.


Terbit Puisi Minggu edisi 12/I/24 Maret 2024:


