Setelah sebuah kunjungan ke kompleks pemakaman tua, ada perbincangan dengan sang juru kunci. Dari sana saya dapati, kisahan dalam pewayangan memiliki berbagai kemungkinan tawaran penafsiran. Dalam puisi-puisi ini, saya hendak menyuguhkan soalan demikian; bisa jadi mempertebal, mengikis, mempertebal, atau menelusuri kemungkinan lain dari cerita yang telah terkokohkan. Soalan lain yang hendak dimunculkan jika perang, terlebih perang saudara, hanya akan memberi duka dan kekalahan; dan meski ada kemuliaan, itu adalah kemuliaan yang janggal. Namun, mau bagaimanapun juga, hidup berkisar pada sebab-akibat, pada cita diri dan segala konsekuensi.
Polanco S. Achri


Polanco S. Achri
Dalam Sebuah Sayembara
Di sayembara yang merebut-dapatkan Drupadi sebagai seorang istri,
Karna datang sebagai utusan sahabatnya, Duryudana. Akan tetapi,
di sana, di hadapan hal layak, kembali Radhea dihina; Drupadi,
yang terlahir dari api suci, berkata: Jangan izinkan ia, yang
hanya putra kusir kuda, mengangkat busur panah mulia
pusaka Mahadewa. Mendengar itu, seketika, Adipati Karna
memohon izin, guna pamit. Sekembalinya di Astina, dikatanya
beribu ampun pada sahabatnya, Duryudana, anak tertua daripada
seratus bersaudara. Duryudana lekas memeluk erat sahabat baiknya
lantas berkata: Tiada mengapa, Sahabatku, betapa seorang yang
menghinamu, kelak di suatu masa, entah di kehidupan ini
atau nanti, akan dihinakan dengan lebih menyakitkan!
(2020—2025)
Polanco S. Achri
Duryudana
Ayahandaku memang buta; sebab sepasang matanya
digigir seekor ular purba, ular yang menawarkan Khuldi
kepada Adam dan Hawa. Ibundaku pun buta; dengan kain
telah ditutupnya sepasang mata, kain yang katanya
tertera nama Pamanda Pandu di baliknya. Namun, aku,
Duryudana, sulung Kurawa, punya mata yang amat awas.
Aku bisa melihat-Nya. Aku bisa menerka warna dari neraka.
(2024—2025)
Polanco S. Achri
Salah Satu dari Kurawa
Aku, salah satu dari seratus Kurawa, dan tiada genap
dikenal nama, hanya sering disebut sebagai suatu
bagian sahaja. Akan tetapi, aku pernah diberi sabda
yang amat hangat dari Kanda Duryudana: Harapan,
Adiku, ialah ketidakpastian yang membuatmu bahagia.
(2017—2024)

Polanco S. Achri
Yudhistira kepada Drupadi
Oh, Drupadi, yang terlahir dari panas suci dewata penguasa api,
marahkah dirimu pada takdir yang memaksamu menikah denganku
—sehingga tiada bisa bersatu dengan lelaki yang menawan panas
berkobar jiwamu? Tiada kubenci, bila dirimu tetap mencintanya,
tetap mencinta adiku, Arjuna yang piawai memanah itu. Ragamu
memang milikku; tapi tiada dengan hatimu. Adat-istiadat dan ibadat
memang sangat suka mengikat; tapi rasa cinta yang dititip dewata
adalah angin yang berembus kuat, ke mana pun, dan tiada bisa
ditahan oleh apa pun. Namun, diriku tetap mencintaimu tetap
menyayangimu. Betapa aku bersumpah atas nama Ayahandaku,
Pandu; serta bila perlu nama Bathara Dharma Ayahanda Dewataku,
bahwa diriku jujur-tulus mencintaimu—yang mencintai orang lain.
Dan hendak kunyata pula, aku meneladani ini semua bukan dari
para pandhita atau para petapa, bukan dari resi atau kawi; sebab
yang ajari ialah saudaraku: Duryudana. Amatlah tulus dicintainya
Banowati, meski tahu, dan mengerti, istrinya tiada benar mencintai
dirinya—dan masih tergoda pada Arjuna. Aku akan mencintaimu,
Drupadi, meski dirimu tiada mencintaiku.
(2020—2025)
Polanco S. Achri
Percakapan Drupadi dengan Bayangnya Sendiri sebelum Mati
Andai kata boleh meminta, hendak dirimu pilih mana:
menikahi kelima Pandawa atawa menikahi Karna?
Andai kutahu Karna juga putra dewa, maka hendak
kupilih ia; sebab lima Pandawa ada pada dirinya.
Lalu, kenapa dirimu menolak kala dilamar olehnya?
(2024—2025)
Polanco S. Achri
Akhir Drupadi di Mahagunung Itu
Di alam setelah kini, apakah mesti kupakai kain lagi—guna menutupi
tubuhku yang adalah nyala api? Di alam setelah kini, apakah mesti
kusanggul lagi rambutku yang telah kukramasi darah Dursasana
yang mati oleh Bima dibagi? Aku Drupadi. Aku nyala api. Airmataku
adalah bara nyeri. Akan tetapi, di hadapan-Mu, oh, Yang Mahabeku,
betapa diriku tetap percik dari dua batu yang bisu, meski berhasil
menyulut perang yang begitu akbar begitu gempar.
(2024—2025)
Polanco S. Achri
Ratap Arjuna kepada Sri Krisna setelah Puncak Lakon-Cerita
Andai boleh meminta, maka tiada mau aku ke Kurusetra, berperang
melawan guru, tetua, kawan, atawa saudara. Andai boleh meminta,
maka tiada akan kuterima hadiah dari Guru Drona ketika berikan
ibujari sakti yang ternyata milik Ekalaya. Andai boleh meminta,
bahkan memaksa, kepada dewa atau apalah mereka dinama, maka
hendak kuminta agar tiada menjadi Pandawa, tiada terlahir daripada
benih Bathara karena Ibunda Kunthi membaca sakti mantra purba.
Aku, andaikan boleh meminta, hanya ingin menjadi penggembala;
menjadi lelaki yang biasa—dicintai seorang perempuan sahaja. Aku
tiada ingin menjadi agung lelaki bila hanya piawai menyakiti. Oh,
Krisna, janganlah beri aku kata-kata; diamlah sahaja untuk ini rupa.
Agaknya dewa-dewa memang tiada suka aroma dupa aroma bunga;
agaknya mereka lebih suka amis darah yang membasah kering tanah.
(2024—2025)

Polanco S. Achri
Percakapan Krisna dengan Bhatara Wisnu setelah Semua Laga
Apa jelmaan dewa selalu sempurna, selalu tanpa cela dan noda?
Apa titisan dewa tiada boleh keliru dalam berlaku-berkata?
Tiada boleh. Sebab dengan begitu, dirimu telah menjadi
layak untuk ditinggalkan; menjadi layak untuk dilepaskan.
Lalu, apakah dewa boleh berkhianat
meski telah membuat sumpah-janji yang kuat?
(2024—2025)
Polanco S. Achri
Percakapan Yudhistira dengan Bathara tentang Surga yang Lain
Apabila anjing tiada bisa kuajak turut serta ke surga,
lantas satwa macam apa yang bisa? Apakah hanya
burung-burung yang bisa bernyanyi, berkicau, juga
mengalun gita? Apa hanya kupu-kupu yang bisa
hinggap di beku bunga-bunga?
Satwa tiada butuh surga atawa neraka, Yudhistira,
karena hanya manusia yang membutuhkannya; karena
hanya manusia yang mengenal dosa, ampunan, juga
buah pahala.
Lalu apa yang dibutuhkan oleh satwa-satwa
—juga tumbuhan yang berbuah-berbunga?
Rimba, hutan tempat bahasa purba berada; tempat
tanpa malaikat atau iblis laknat. Rimba yang menjelma
taman bagi-Nya yang suka sekali duduk menanti.
Andaikan boleh meminta, hendak kupinta supaya
para Kurawa tiada masuk neraka, tiada terjebak pada
api yang menyala atawa beku yang maha.
Lantas, hendak ke mana mereka, bila
dirimu pun masih belum rela bertempat yang sama?
Tiada bisakah mereka dimasukkan ke surga yang lain,
yang tiada begitu terlalu dingin dan juga berangin?
(2024—2025)
Polanco S. Achri
Kepada Abimanyu
Barangkali memang benar, Abimanyu, maut lebihlah nikmat
daripada bercinta dengan perempuan yang ayu; dan hidup lebihlah lezat
daripada kelapa muda yang hilangkan dahaga. Akan tetapi, Abimanyu,
maut arau hidup tiada dapat dipisah. Jadi, teguklah kelapa mudamu
yang menghilangkan dahaga itu, lalu bercintalah dengan maut yang telah
menjelma perempuan ranum yang ayu. Kemudian, setelah muncrat
segala kama, yang tersisa hanya hampa, hanya hampa.
(2024—2025)



Biodata Penulis: Polanco S. Achri lahir dan tinggal di Yogyakarta. Ia menulis puisi, drama, dan esai-esai tentang sastra dan seni rupa. Selain menulis, terkadang, ia menyutradarai pertunjukan teater serta film dokumenter dan menguratori pameran. Kini, ia tengah melanjutkan studi sastra di kampus utara Yogya. Ia bisa dihubungi di FB: Polanco Surya Achri dan Instagram: polanco_achri.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya.


