Puisi Minggu: Tentang Pernikahan Karya MN Fazri

Sebab Pernikahan adalah Cinta Sejati

‎Siapa yang merasa hidupnya sepi, walau di tengah keramaian. Siapa yang merasa hatinya hampa, walau banyak pencapaian. Dan siapa yang merasa hidupnya hambar, meski banyak kerjaan. Maka, menikahlah!

‎Menikah adalah bukti nyata antara dua manusia yang saling jatuh cinta. Dia ibarat sebuah tanda istimewa, bagi sesiapa saja yang inginkan hidup bijaksana. Dengan menikah, tanganmu menjadi empat, kakimu menjadi empat, matamu menjadi empat dan lain sebagainya menjadi lengkap.

‎Menikah adalah jalan terbaik dari pembuktian cinta. Tidak hanya sebatas retorika, tapi aksi dari was-wasnya perasaan yang selalu hinggap kepada mereka yang menjaga kesucian.

‎Puisi ini ditujukan sebagai hadiah untuk mereka yang mendambakan pernikahan, mengharap pernikahan atau menuju waktu pernikahan. Terutama kepada ia sang kekasih tercinta, calon istriku di luar sana.
Selamat membaca.

MN Fazri

oOo

MN Fazri
MERAMU MASA DEPAN

Kita sudah dua abad, mengenal dekat
Satu sama lain terikat, oleh bait-bait kalimat
Menjadi jimat, meramunya sebagai obat
Kala khilaf, bahkan lelah, setelah melihat
Berbagai kualat, berlumpur khianat

Kita sudah sama-sama siap, bertukar cerita
Dari lahirnya Adam, sampai muncul Dajal di akhir zaman
Kita juga sudah sama-sama siap, berbagi ide
Dari masa khidmat, sampai hari kiamat

Kita seumpama termos, kuat menahan panasnya ujian
Tegar menerima dinginnya cobaan, lalu akhirnya
Termos itu digunakan, untuk mengalirkan cinta
Dari panasnya dunia, memberikan bahagia dari dinginnya malapetaka

Aku dan kamu, menuju keabadian
Mengubah duri tajam menjadi obat-obatan
Menerima paku jalanan menjadi perhiasan
Menemukan kegelapan, untuk mendapatkan cahaya terang

oOo

MN Fazri
SETELAH INI KITA AKAN KE MANA?


‎Setelah ini, kita akan kemana?
‎Menuju tanah jawara, di mana jiwa kekal bermukim
‎Atau kota seribu kiyai, sejuta santri
‎Tapi undang-undang islami, seperti debu yang hilang di terjang angin

‎Ataukah kita akan pergi
‎Menuju lumbung surga di ujung Selatan
‎Di mana buta huruf dan buta warna
‎Beredar seperti daun kering di musim gugur

‎Atau kita akan mencari payung teduh
‎tengah jalan yang berdekatan
‎Di mana kita menimbang kepingan-kepingan logam
‎Mencari makna di balik kilatan emas

‎Atau kita kembali ke pohon yang rindang
‎Berteduh sementara waktu
‎Belajar kepada akar
‎Mengambil pelajaran dari buah yang berjatuhan

‎Atau kita menanam bibit di sampingnya
‎Mengharapkan rezeki datang
‎Lalu kita bertemu lagi
‎Di bawah naungan pohon yang rindang

oOo

MN Fazri
SEMENJAK HADIRMU


‎Semenjak hadirmu, duniaku berubah.
‎Perpustakaanku adalah isi kepalamu, tempatku mencari ilmu.
‎Tulisanku adalah perangaimu, kata-kata yang membisikkan cinta.
‎Isi hatiku adalah diary yang kau rekam, dengan sebatang alat genggam yang lembut.

‎Semenjak hadirmu, duniaku adalah bakti
‎Menjagamu seumpama Angsa, yang setia dan tak pernah pergi mendua.
‎Membentuk magnet yang erat, kuat dan terikat. Mengikat kita dalam satu ikatan sebagai sumpah kehidupan.

‎Semenjak hadirmu, hubungan kita di tali mati. Ikatan kita menjadi monogami, yang tak pernah berubah meski menghitung abad.
‎Selama hayat dikandung badan, aku akan mengabdi pada janji suci yang dianggap sakral oleh ibu pertiwi.

‎Tidak sekali, tapi berkali-kali. Janji itu
‎dibuatnya menjadi benteng kuat, untuk melindungi dari benalu yang datang, segera hilang, bukan karena ditendang, melainkan putus asa, kehilangan cara bagaimana memisahkan kita.

‎Semenjak hadirmu, warna hidupku lebih pekat
‎Semua yang memikat, terasa sudah hambar. Lalu dibuang pada kata “Laknat”, yang tak pernah terucap
‎Tapi selalu terasa, di dalam hati yang paling dalam.

oOo

MN Fazri
PENANTIAN INDAH

‎‎
‎Berbagai kendaraan bergerak menuju tujuannya masing-masing. Manusia berjalan dari satu tujuan kepada tujuan lainnya. Di antara yang berlalu lalang itu, aku hanya fokus pada satu arah, ia berdiri dengan keteduhan jiwa

‎Wajahnya tak kunjung menengadah, menunduk ragu atau malu. Aku pun tak tahu. Pakaian serba hitamnya bak seorang putri yang sedang berduka di pekarangan kuburan

‎Aku menyapanya dengan sebaik-baik ucapan
‎Aku memberikan senyuman dengan sebaik-baik keadaan
‎Dan aku memberinya tumpangan dengan sebaik-baik penjagaan

‎Kami berdua seumpama burung merpati. Terbang menuju lokasi yang paling indah di bumi. Lokasi yang hanya bisa dijangkau dengan hati yang suci

‎Bertemulah kami dengan ujung senja, matahari menjadi saksi bisu di tengah pasir yang kami duduki bersama. Satu kata menjadi ayat untuk dipatuhi berdua. Satu kalimat menjadi pasal yang membenahi hidup yang masih berbelok ke sini dan ke sana

‎Semenjak datangmu
‎Pandangan menjadi lebih bijaksana
‎Rumput hijau yang tumbuh di sana
‎Tak membuat rasa kagum apa-apa
‎Kecuali, aku tertuju pada daun yang gugur, di tempat kita
‎pernah duduk bersama

oOo

MN Fazri
TUAN YANG BERUNTUNG


‎Aku berjalan menyusuri gang kecil, di antara gedung pencakar langit
‎Sempit dan gelap, seperti lorong keabadian
‎Tapi di dalamnya, aku temui kehangatan
‎Kayu bakar yang dinyalakan di tengah angin malam, menerangi hati

‎Aku temui sosok yang paling tenang, menyambutku dengan senyuman
‎Paling indah di antara wajah yang sedang merekah
‎Sang pelita menjemput dengan membawa bunga, berbentuk lingkaran
‎saling menguatkan, seperti ikatan yang tak pernah putus

‎Bunga itu dikalungkan kepadaku, yang akan menjadi bagian buah hatinya.
‎Buah hati yang disatukan oleh perasaan, yang semakin hari, utuh tergenggam
‎Aku melihat dirinya seumpama hiasan, yang dijual oleh pemiliknya
‎Satu persatu mendekat, menawarnya dengan harga yang mulia

‎Tapi sang pemilik memberikan bunganya untukku, bukan karena harga
‎Tapi karena sang bunga melihatku dengan aura berbeda
‎Sebuah aura yang menurutnya, bisa menjaga, memberi bahagia
‎Dan mengajaknya untuk mekar menjadi bunga paling indah

‎Bunga yang seharusnya diperuntukkan untuk mereka, yang gagah nan bijaksana.
‎Tapi dibawa oleh lelaki yang sederhana, ia lelaki itu adalah aku. Aku menjadi tuan yang beruntung, dengan cinta yang tak pernah berakhir.

oOo

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==