Umum diketahui bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia selama ini dinilai rendah. Itulah
yang marak diberitakan oleh media-media massa tanpa diimbangi dengan pemberitaan yang
berkaitan dengan persoalan literasi di akar rumput atau wacana tandingan berupa upaya nyata
peningkatan literasi. Jika literasi lebih dimaknai pada aktivitas baca-tulis, maka sebenarnya
salah satu persoalan yang urgen dibahas adalah persoalan perbukuan. Buku merupakan media
yang menyatukan aktivitas menulis dan membaca sekaligus mempertemukan dunia penulis
dan pembacanya. Dunia perbukuan inilah yang dikulik secara kritis oleh Gusmuh -panggilan
Muhidin M. Dahlan- dalam Pada Sebuah Kapal Buku.

Sebagai orang yang mengaku pecinta buku dan berhasrat meningkatkan literasi di
masyarakat, saya cukup terlambat membaca tulisan-tulisan Gusmuh, terutama Pada Sebuah
Kapal Buku. Sebelumnya, saya memang mencari-cari buku yang membahas atau bercerita
tentang buku.
Bagi saya, membaca buku semacam itu merupakan asupan sehat untuk memperluas wawasan. Bisa dibayangkan, melalui satu buku, kita bisa menelusuri buku-buku lain yang disebutkan di dalamnya. Kita bisa mengetahui adanya jejaring buku yang dapat mengaitkan antara yang satu dengan lainnya.
Itulah bayangan awal saya, satu bayangan yang saya dapatkan setelah membaca beberapa novel yang tokoh utamanya gemar membaca buku-buku dan juga mengangkat persoalan perbukuan seperti Kitab Omong Kosong dan Nagabumi karya Seno Gumira Ajidarma, Senopati Pamungkas karya Arswendo Atmowiloto, Musashi karya Eiji Yoshikawa, Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, dan Laut Bercerita karya Leila S. Chudori.
Namun, ternyata Pada Sebuah Kapal Buku rupanya melebihi bayangan awal saya di atas. Buku itu bukan hanya membahas buku-buku saja, tetapi juga berbagai dimensi jagat perbukuan! Lebih dari itu, seusai menghatamkannya, buku itu mengubah perspektif saya terhadap dunia perbukuan di Indonesia. Dalam arti lain, karya Gusmuh itu memberikan perspektif baru dalam menyikapi stigma negatif tingkat literasi masyarakat Indonesia.

Secara umum, ada beberapa alasan mengapa Pada Sebuah Kapal Buku penting dibaca. Pertama, kita bisa melihat dari sisi penulis. Pada Sebuah Kapal Buku ditulis oleh Muhidin M. Dahlan alias Gusmuh, penulis kawakan di bidangnya. Ia tidak sekadar berenang-renang di dunia literasi. Ia terjun dan menyelam di dalamnya sebagai aktivis yang kritis dalam menyuarakan pendapatnya. Ia tidak hanya seorang penulis produktif, tetapi juga seorang pengarsip ulung yang teliti dan tekun mengumpulkan data-data. Terlepas dari beberapa karyanya yang dianggap kontroversial, tidak bisa dipungkiri bahwa tulisan-tulisan Gusmuh
dalam Pada Sebuah Kapal Buku masih berada dalam bidang keahlian dan lekat dengan dunianya.
Kedua, dari segi isi, buku ini benar-benar kaya informasi. Pembaca akan disuguhi sekitar 60-an artikel dari berbagai topik yang -tanpa bermaksud melebih-lebihkan- sungguh memperkaya wawasan. Artikel-artikel itu pernah dipublikasikan di berbagai media massa dalam kurun waktu 15 tahun, yaitu dalam rentang tahun 2003-2018. Artinya, pembaca akan disuguhi potret literasi bangsa selama kurun waktu tersebut.
Ketiga, dari sisi penyajian, sang penulis piawai sekali dalam menarasikan berbagai data termasuk juga gagasannya. Ibarat makanan, selain bergizi, semua tulisan Gusmuh dalam buku ini terasa gurih, renyah, lezat, dan membuat ketagihan. Bahasa yang ia gunakan bukanlah bahasa akademik-ilmiah yang cenderung kaku dan membosankan. Sebagaimana tulisan lepas, esai-esainya dibalut dengan gaya bahasa populer dan juga tidak bertele-tele.

Terakhir, topik-topik yang diangkat tak hanya menarik, tapi juga memang urgen untuk dibahas. Secara umum, Gusmuh membagi 67 artikelnya menjadi enam bagian. Bagian awal membahas tentang dunia perbukuan seperti penerbitan, perniagaan, pameran. Bagian kedua membicarakan kebijakan yang berkaitan dengan buku seperti infrastruktur dan diplomasi buku. Bagian ketiga mengkaji persoalan susastra terkait penulis dan pembaca. Bagian keempat mendiskusikan persoalan perpustakaan mulai dari yang terpelihara hingga yang terbengkalai. Bagian kelima membahas cendekiawan yang hidupnya bernafaskan buku. Bagian terakhir membahas “tragedi” pelarangan buku. Topik-topik yang menarik sekali, bukan?
Begitulah sekilas ulasan dan beberapa alasan saya menjadikan salah satu karya Gusmuh tersebut sebagai buku yang perlu dan layak dibaca. Di sini, saya ingin menyatakan bahwa bagi saya Pada Sebuah Kapal Buku bukanlah sekadar buku biasa karena ia lebih dari itu. Pada Sebuah Kapal Buku adalah buku yang menyuarakan nasib buku. Ia mencerminkan situasi dan kondisi literasi bangsa kita saat ini. Jadi, jika memang ada pecinta buku dan pejuang literasi Tanah Air yang mempertanyakan dua pertanyaan yang saya lontarkan di awal tulisan ini, maka bacalah Pada Sebuah Kapal Buku. Setelah itu, mari kita diskusikan ke arah mana literasi bangsa kita bawa nanti. Setuju?


Identitas Buku
Judul : Pada Sebuah Kapal Buku
Penulis : Muhidin M. Dahlan
Penerbit: I:BOEKOE
Terbit : Edisi 1, Agustus 2018
Tebal : 458 halaman
*) Bojonggede, 19 Mei 2024

TENTANG PENULIS: Faris Maulana Akbar. Perantau dari Madura yang kini tinggal di Bogor. Karya-karyanya
pernah dimuat di beberapa media massa seperti Radar Madura, Radar Surabaya, Radar
Mojokerto, dll. Kumpulan cerpennya berjudul Dongeng Negeri Topeng (Bimalukar, 2021).
Bisa disapa di IG: @farispharis. (WA: 087808484575, Rek: Mandiri a.n. Faris Maulana
Akbar 1030009919495)

RAK BUKU mulai Mei 2024 tayang satu minggu sekali, setiap hari Rabu. Rak Buku adalah resensi buku. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 700 kata. Honor Rp100 ribu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku, penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Rak Buku.


